Friday, November 24, 2017

Komitmen dan Ketaatan, Itu Kata Kuncinya (Membandingkan Jepang dan Indonesia)

Oleh : Iramawati Oemar

Manusia kerapkali mudah silau ketika memandang nasib orang lain. Tentu yang bikin silau adalah yang tampak di permukaan lebih baik, sehingga ada pepatah "rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau".

Mungkin kita pernah merasa kaget ketika reuni, bertemu teman lama yang sekarang sudah sukses menduduki jabatan cukup tinggi di institusi mentereng, padahal ketika masih sekolah dulu dia gak pintar-pintar amat, suka nyontek malah, sering bolos. Lalu diam-diam kita membandingkan dengan nasib diri sendiri yang tidak se"beruntung" teman tersebut. Apakah kita menyesali diri sembari menggerutu "ngapain juga dulu aku sekolah rajin, nilai rapot bagus, malah selalu juara kelas, toh hasilnya ya gini-gini aja"?

Terkadang kita melihat tetangga sebelah baru beberapa tahun bekerja, tapi jumlah assetnya sudah lebih banyak dari kita, gaya hidupnya juga lebih "wah". Bisa jadi kita iri dengan keberuntungan tetangga. Sampai akhirnya kita terbelalak ketika tetangga mendadak menghilang dari rumah, debt collector silih berganti datang, lalu mulailah kita berpikir sebaliknya : untuk apa saja sih berhutang, bukankah mereka pasutri sama-sama bekerja, suaminya jabatannya tinggi, anaknya cuma 1, masih TK pula, belum butuh biaya banyak, butuh apa lagi sih mereka, masak masih kurang?

Dulu pernah ada pasutri artis ternama, yang sejak awal menikah selalu tampak kompak,  mesra dan harmonis. Rumah tangganya sudah lebih dari 20 tahun dan sama sekali tak pernah ada gosip miring tentang keduanya. Namun mendadak si istri mengajukan gugat cerai, gegerlah publik.  Belakangan si istri mengaku bahwa sebenarnya sudah lama dia mencoba bertahan. Lalu orang pun ramai bertanya : "apalagi sih yang dicari sang suami, padahal dia sudah punya istri yang baik, sabar, bijaksana, sholihah. Kalau sudah punya istri sebaik itu, untuk aoa lagi selingkuh?".

Ya, itulah manusia! Kerap mudah kagum sekaligus "iri" dan ingin berada di posisi orang lain yang dari permukaan kondisinya tampak lebih baik dari dirinya, sekaligus menyesali keadaan diri sendiri dan merasa sia-sia atau minimal tak ada guna apa yang sudah dilakukannya. Padahal dia belum tahu banyak apa yang ada di balik kehidupan orang lain. Kita tak tahu sisi gelapnya. Ketika sisi gelap itu kemudian muncul, barulah kita terperangah, tak percaya bahkan tak habis pikir kenapa orang sudah sebaik itu kondisinya kok masih mencari hal lain yang (menurut kita) justru akan bikin sengsara.

*** *** ***

Mungkin seperti itulah cara pandang seorang artis yang belakangan jadi kontroversial. Ketika dia berkesempatan berkunjung ke Jepang, dia silau melihat indahnya kehidupan masyarakat Jepang (terlebih Tokyo) yang serba bersiiih...pake banget, disiplin, teratur. Kok bisa ya masyarakat Jepang seperti ini, padahal mereka tidak beragama? Wah, kalau begitu mending yang gak beragama dong, yang penting semuanya baik. Sampai ketika dia bertemu seseorang, yang nota bene bagian dari masyarakat yang dia kagumi itu ternyata merasa perlu mencari Tuhan dan agama, dia pun balik bertanya : "kalau hidupmu sudah sebaik ini tanpa agama, kenapa kamu masih ingin mencari Tuhan dan memiliki agama?"

Oh ya, si artis menuliskan hal itu ketika dirinya baru 2 hari berkunjung ke Jepang. Artinya yang dilihatnya memang baru sebatas permukaan saja, bahkan kulit ari dari permukaan.

*** *** ***

Kebetulan saya pernah berkesempatan tinggal di Jepang.Tinggal lho ya, bukan sekedar berkunjung hitungan hari, menginap di hotel, mendatangi tempat-tempat yang recomended untuk wisatawan. Kini, meski sudah 12 tahun meninggalkan Jepang, tapi banyak kesan mendalam yang tidak hilang dari ingatan saya. Sebab saya involved dalam 'seikatsu' (daily live) mereka. Setiap pagi terjepit diantara ratusan pria-pria kantoran yang memakai jas, meskipun rapi dan mahal tapi… (maaf), agak bau karena aroma tubuhnya (yang umumnya tidak mandi sebelum berangkat kerja, dan semalam habis minum-minum). Saya merasakan sendiri ribetnya naik kereta saat rush hour pagi (jam 7-9 am) yang jubelan penumpangnya mengalahkan kereta Jabodetabek. Saya saksikan ribuan orang tiap oagi berjalan dalam ketergesaan, tanpa senyum apalagi tegur sapa, dengan kaki-kaki yang melangkah cepat ibarat robot bernyawa, ngotot berdesakan tak mau mengalah, hanya untuk sekedar bisa naik ke atas kereta yang tiba, meski 2-3 menit lagi akan datang kereta berikutnya. Atau terpaksa kesal karena kereta tertahan gegara ada seseorang yang bosan hidup melompat dari jalur tunggu penumpang ke tengah rel. Ya, bunuh diri di tengah keramaian orang-orang modern yang selalu sibuk dan gila kerja.

Awal tiba di Jepang, ketika masih tinggal di hotel pada 4 hari pertama, saya pun kagum melihat kebersihan dan ke-serba teratur-an disana. Luar biasa! Disiplin warganya dalam soal waktu, bahkan sampai janjian pun menyesuaikan jam kereta. Tak heran kalau ada yang janjian jam 7.24 am, atau jam 6.48 pm. Sebegitu disiplinnya mereka menghargai waktu. Belum lagi semangat kerjanya yang nyaris tak kenal lelah, bekerja sampai malam, bukan karena mengejar uang lembur, tapi karena dibebani rasa tanggung jawab.

Namun kemudian, seiring waktu, saya bisa melihat sisi lain, dibalik semua yang tampak gemerlap dan serba teratur. Banyak fakta yang saya lihat, dalam berbagai aspek kehidupan, ngobrol dengan banyak orang, ternyata tidak semuanya serba indah melulu. Terutama dari sisi psikologisnya.

Tetapi memang harus saya akui, secara umum bangsa Jepang adalah bangsa yang memegang teguh nilai-nilai dan norma akar budaya serta kebiasaan warisan nenek moyang mereka, yang adiluhung. Mereka adalah bangsa yang menjunjung tinggi komitmen dan disiplin, taat pada janji dan aturan yang disepakati. Memang tidak ada kaitannya dengan dengan agama, karena mereka tidak menganut salah satu agama tertentu. Lalu apakah ketiadaan ikatan dengan agama itu yang membuat mereka justru jadi disiplin?

Sebelum menjawabnya dan menyuguhkan beragam fakta yang saya lihat, dengar dan alami, saya akan mengajak kita merenungi dulu beberapa hal. Barulah nanti saya akan masuk pada paparan fakta dan cerita nyata sehari-hari yang saya jumpai. Mungkin tulisan ini tak akan selesai dalam satu kali posting. Cerita pengalaman akan saya posting di tulisan-tulisan berikutnya. Ini adalah tulisan pembuka saja, pembuka mindset kita, untuk menjawab sendiri beberapa tanya berikut.

*** *** ***

Sekarang, mari kita berpikir dengan jujur : jika di negeri kita masyarakatnya masih suka buang sampah sembarangan, merokok di sembarang tempat, kencing sembarangan, apakah yang salah agamanya? Tentu saja tidak! Saya tidak akan bicara ajaran agama lain, saya hanya akan bicara ajaran agama yang saya tahu, yaitu Islam. Bukankah Islam mengajarkan kebersihan bahkan ada hadits yang mengatakan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman? Bukankah sebelum sholat diwajibkan berwudhu yang mana sejak berkumur, membersihkan lubang hidung, cuci muka, cuci kedua telapak tangan, lengan, membersihkan daun telinga, sebagian rambut bahkan hingga mata kaki pun sudah tercakup di dalamnya? Bukankah dalam Islam ada fiqih “Thoharoh” alias bersuci? Dalam Islam, bahkan najis/kotoran pun dikelompokkan dan diatur bagaimana cara membersihkannya. Dalam Islam membersihkan badan pun diatur, termasuk memotong kuku dan rambut-rambut di bagian tubuh yang apabila tidak dipotong bisa menimbulkan aroma tak sedap dan jadi sarang bakteri. Jadi, kalau aturannya sudah selengkap itu, namun manusianya yang tidak menjalankan, tidak menjaga kebersihan, apakah yang salah agamanya?

Dalam Islam, jangankan merokok di sembarang tempat atau menghembuskan asap rokok sehingga menimbulkan polusi bagi orang lain, bahkan merokok pun makruh hukumnya. Karena memasukkan racun ke dalam tubuh, merusak kesehatan, itu adalah kemudharatan. Jadi kalau ada orang Islam yang kecanduan rokok sampai tak peduli merokok di sembarang tempat, yang salah agamanya atau orangnya?

Kita mungkin terkagum-kagum dengan disiplin orang Jepang terhadap waktu. Lalu apakah agama Islam tidak mengajarkan disiplin waktu? Dalam Islam, sholat 5 waktu saja diatur waktunya, bahkan yang utama adalah menyegerakan sholat begitu terdengar adzan. Lalu, kalau kebanyakan dari kita (termasuk saya sendiri) belum disiplin dalam menjalankan sholat, masih suka mengabaikan seruan adzan, tidak disiplin waktu, siapa yang salah? Agamanya atau orangnya?

Kita bisa saja takjub bagaimana orang Jepang sangat hati-hati memegang teguh janji, sehingga molor 5 menit saja akan mereka hindari. Sementara, bangsa kita dikenal dengan kebiasaan jam karet, suka molor kalau berjanji. Nah, yang salah orangnya atau agamanya? Kalau banyak yang masih suka tidak menepati janji, apakah agamanya yang disalahkan, karena tak mampu memaksa ummatnya untuk menepati janjinya? Tidak! Bahkan Rasulullah Muhammad SAW saja ditegur oleh Allah ketika berjanji tanpa mengucap “in-syaa Allah”. Sebaliknya, banyak orang yang justru berlindung di balik kata ”in-syaa Allah” untuk sengaja ngeles/menghindar dari kewajiban memenuhi janji. Nah lho, yang salah agamanya-kah atau oknumnya?

Yang TIDAK KITA MILIKI sebenarnya adalah KOMITMEN dan KETAATAN. Misalkan seorang Muslim, jika dia sudah menyatakan dirinya Muslim, penganut agama Islam, maka semestinya dia komit untuk menjalankan ajaran agama Islam secara KAFFAH, bukan secara prasmanan, dipilih mana yang disukai saja dan dirasa cocok dengan hawa nafsunya. Suka atau tidak suka, jika sudah komit, ya harus dilaksanakan.

Apakah kita berpikir orang Jepang suka mengantongi sampah plastik sisa makanan atau terus memegang kaleng/botol minuman yang sudah kosong sampai menemukan tempat sampah yang cocok (disana tempat sampah untuk plastik, botol plastik, botol beling, kaleng, terpisah dan berbeda) untuk membuangnya? Tidak juga! Siapa sih yang suka bawa sampah? Tapi kenapa mereka mau melakukannya? Ya karena sudah komitmen mau menjalankan aturan, ada atau tidak ada petugas kebersihan yang memergokinya. Nah, di masyarakat kita, bahkan aturan lalu lintas yang membahayakan diri sendiri dan orang lain saja bisa dilanggar, asal gak ketahuan polisi. Sampai ada joke dialog polantas dan pengendara : (+) “anda tidak lihat lampu merah?”; (-) “Lihat pak”; (+) “Lalu kenapa saudara langgar?”; (-) “Lha saya gak lihat kalo ada bapak”.

Orang Jepang banyak yang perokok berat, tapi kenapa mereka rela menahan diri tidak merokok sampai menemukan “smooking area”? Sementara di masyarakat kita orang bebas saja merokok dimana saja, di kendaraan umum, bahkan di dalam ruang sidang ber-AC di gedung DPR sekalipun. Saya pernah melihat foto, orang tetap cuek merokok persis di bawah tulisan “Dilarang Merokok” di sebuah rumah sakit. Yang salah aturannya atau orangnya? Atau bahkan agama si pelanggar aturan yang layak disalahkan? Tentu tidak!

*** *** ***

TIADANYA KOMITMEN dan KETAATAN, itulah problem terbesar bangsa kita. Kita bangsa yang "tidak takut" pada apapun, karenanya semua bisa dilanggar, diakalin.

Prof. Salim Said dalam satu acara di ILC bulan September lalu, berkata “Suatu bangsa kalau ada yang ditakuti biasanya akan maju. Bangsa Indonesia gak ada yang ditakuti, bahkan pada Tuhan pun gak takut! Makanya gak maju-maju”. Ucapan Prof. Salim Said menuai gemuruh tawa sekaligus tepuk tangan. Kita menertawakan sekaligus membenarkan ucapan beliau.
Disini, kita gak takut pada penegak hukum, maka hukum dan aturan pun dilanggar, termasuk tidak takut pada Tuhan, maka hukum Tuhan pun dilanggar, atau minimal diakali, ditawar : sebagian mau, sebagian ditolak.

Mari kita semua merenung, termasuk saya, dan mungkin si Mbak Artis itu kalau saja tulisan ini sampai kepadanya : Sudahkah kita disiplin sholat 5 waktu? Jangan-jangan masih sering bolong-bolong.
Oke, kalau sudah komplit 5 waktu sehari semalam, sudahkah kita disiplin waktu, menunaikan sholat tepat waktu, ketika adzan terdengar segera menghentikan aktivitas, bergegas wudhu lalu sholat, yang laki-laki bersegera ke masjid sebelum adzan agar bisa dapat shaf depan sholat jamaah? Ataukah lebih suka menunda sholat karena “aah…, tanggung nih, dikit lagi juga kelar kerjaan”, atau karena lagi sibuk meeting, bahkan lagi sibuk hangout di mall dan café? Saya termasuk yang belum bisa disiplin waktu sholat. Jika belum bisa disiplin dan taat, maka siapa yang salah? Agama sudah menggariskan yang terbaik, tetapi kita saja yang bandel.

Mari kita cek penghasilan kita, berapa banyak shodaqoh dan zakat yang sudah kita keluarkan? Sudahkah sesuai tuntunan agama? Sudahkah kita berhati-hati dalam memilih makanan, minuman, pekerjaan/peghasilan agar terhindar dari yang haram dan syubhat? Ternyata belum sepenuhnya ya… Bahkan tak jarang ada merasa susah dan berat kalau harus ikut aturan agamanya.

Kesimpulannya : kalau kita tidak punya komitmen dan ketaatan dalam menjalankan agama yang kita anut, apakah dijamin kalau kita menjadi bangsa Jepang, lalu kita bisa punya komitmen dan ketaatan untuk menjalankan aturan dan budaya mereka? Kalau tidak, percuma saja jadi orang Jepang, kalau di dalam diri kita masih ada keinginan untuk memilih dan memilah mana yang mau kita ikuti dan mana yang mau kita abaikan karena tak sesuai keinginan kita.

Di Jepang, konsep “kanai”(istri) yang sepenuhnya menjalankan peran domestik di rumah tangga, menjadi pelayan keluarga, mengabdi kepada suami dan keluarganya, masih dipegang teguh bahkan dalam masyarakat modern sekalipun. Saya melihatnya justru mirip dengan konsep “al ummu ahlul bait” dalam Islam, dimana seorang ibu tugas utamanya di rumah. Dan kaum perempuan Jepang menjalaninya dengan suka rela, menerimanya sebagai kodrat yang sudah digariskan oleh tradisi. Saya pernah menuliskan soal ini sekitar 5 tahun lalu. Kapan-kapan akan saya posting ulang.

Bandingkan dengan kaum Muslimah jaman now di negeri ini, yang merasa modern, yang justru menggugat aturan Islam tentang perempuan karena dianggap mengekang.

Dimanapun juga di seluruh bumi ini, sebaik apapun sistemnya namun jika manusia yang menjalankan tidak memiliki komitmen dan ketaatan, tidak ada yang ditakuti ketika melanggar, maka sistem itu pun akan jadi rusak. Bagi saya yang merasa sudah memiliki agama yang komplit mengatur segenap sisi kehidupan manusia, maka sistem Islam itulah yang terbaik. Jika saya belum bisa menjalankannya, maka yang buruk adalah saya, bukan agama saya.

Oh ya, satu hal lagi, orang Jepang terkenal amat sangat jujur. Sementara, diantara kita yang mengaku beragama tapi masih suka berbohong demi mencapai tujuan, masih suka “nyolong” meski dengan teknik yang sangat canggih. Lalu apakah salah agamanya? Manakah lebih baik : tidak beragama tapi jujur, ataukah memegang teguh ajaran agama sehingga setiap kali terbersit keinginan tidak jujur kita takut dosa dan takut pertanggungjawaban hari akhir di hadapan Allah?

Naif sekali jika kita melihat suatu bangsa yang tidak beragama tapi terlihat semuanya serba baik, kemudian kita menyimpulkan bahwa sesungguhnya tidak perlu lagi mencari Tuhan dan agama. Selama di Jepang, Allah mengijinkan saya berjumpa dengan seorang Muslimah asli Jepang, yang kesehariannya berjilbab rapi. Namanya Asma. Ukhti Asma inilah yang kemudian mengenalkan saya dengan komunitas Masjid Otsuka, bertemu dengan para muallaf Jepang asli, yang rela meninggalkan seluruh kenikmatan duniawi yang telah mereka miliki, demi mencari keteteraman ruhani. Lain kali akan saya tuliskan. Termasuk pertemanan saya dengan teman seapartemen yang atheis.


Oh ya, Jepang sangat menjunjung tinggi moralitas?? Hmm..., si Mbak Artis belum jalan-jalan ke Roppongi (baca : rop-pong-gi) yang terkenal dengan nightlife nya ya? Seorang teman pernah berseloroh : "Aku mau ngajak kamu jalan-jalan ke Roppongi, tapi buka dulu jilbabmu, dari pada bikin malu".
Maksudnya : tidak pantas seorang Muslimah berjilbab kelayapan di Roppongi di waktu malam, akan memalukan. Kenapa?!  Karena ada kontradiksi antara image seorang muslimah menutup aurat dengan image Roppongi sebagai distrik tempat hiburan malam.

Gak usahlah ke Roppongi, di Shinjuku aja banyak kok. Saya pernah suatu Sabtu sore selepas Ashar pergi ke Harajuku, ingin melihat yang katanya pusat mode. Pulangnya, saya dan teman-teman mampir ke Shinjuku, hendak makan di resto yang katanya yakinikunya lezat. Saat naik lift menuju resto dan di lorong/jalan yang saya lalui, saya kaget menjumpai selebaran yang ditempel begitu saja, yaah..., semacam brosur  cewek yang bisa di booking, begitulah.

Pernah juga di Sabtu siang, sepulang dari nonton bazaar dalam rangka HUT RI di SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo), saya mampir Shibuya dan jalan kami terhenti  karena jalanan ditutup, ada TGLP, Tokyo Gays and Lesbians Parade. Menjijikkan melihat aksi mereka di jalanan.

Moralitas macam apa yang dimaksud si Mbak Artis? Apakah kebebasan dan toleransi atas segala hal semacam itu adalah moralitas?

Mungkin lain kali si Mbak perlu tinggal di Jepang 2 tahun, bukan 2 hari. Dan bila perlu, ngobrol dengan mereka yang telah menemukan pencariannya akan agama dan Tuhan.


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!