Kesuksesan Perlu Persiapan

Oleh : Prof. Joni Hermana (Rektor ITS)

Banyak orang ingin menjadi orang yang sukses. Kalau kesuksesan yang dimaksud itu adalah ketenaran, jabatan, kekayaan atau status...maka hati-hatilah sebab itu semuanya memerlukan kesiapan mental yang tidak sederhana. Salah-salah, kita akan semakin terpuruk dan terpenjara oleh kesuksesan itu sendiri.

The Beatles mungkin adalah contoh terbaik abad ini untuk menggambarkan makna sebuah kesuksesan di atas. Mereka terkenal, dipuja bahkan dijadikan trend setter pada saat jayanya dengan massa penggemar yang tidak bisa dibayangkan betapa banyak jumlahnya. Pertunjukan musik mereka selalu membuat polisi dan petugas keamanan, bahkan juga petugas kesehatan menjadi kewalahan menghadapi fans remaja mereka yang sangat histeris dan nyaris tak terkendali.

Group ini pulalah yang menjadi group pertama dari luar Amerika yang mampu merebut hati penggemar lagu  di negara Paman Sam sehingga secara berturut-turut menjadi hits dalam US Charts. Kehebohan konsernya benar-benar luar biasa seolah mereka telah menjadi ikon atau lambang pemujaan baru, terutama oleh generasi muda saat itu.

Kemana saja mereka melangkah, ke arah itu juga ribuan, puluhan bahkan ratusan ribu massa akan mengikutinya. Tidak mengenal waktu dan tempat, bahkan jalan raya sekalipun dibuat macet karena padatnya, bukan hanya di tempat pertunjukkan saja.

Lalu apa yang mereka rasakan sendiri atas semua capaian ini? Group band dengan 4 orang remaja lelaki berusia sekitar 19 tahunan itu awalnya senang bukan kepalang. Bayangkan, dalam usia semuda itu mereka telah menjadi terkenal dan dipuja orang hampir di semua belahan dunia. Mereka, yang awalnya hanya ingin sekedar bernyanyi dan bersenang-senang mengekspresikan perasaan mereka melalui lagu-lagu ciptaannya yang riang dan urakan, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan bahwa mereka telah sukses merebut hati jutaan anak muda dan penggemar di seluruh dunia. Canda ria mereka yang sering diungkap seenaknya dalam ekspresi ucapan dan lagu-lagunya di setiap pertunjukkan mereka, telah membuat banyak penggemarnya histeris bahkan selalu berubah menjadi pertunjukan yang penuh sensasi bahkan tidak jarang brutal.

Mengalami keadaan yang terus seperti ini, mereka sendiri justru merasa terpenjara oleh ketenaran dan kesuksesan mereka itu. Mereka menjadi tidak lagi bebas bergerak, berekspresi dan berucap seperti sebelumnya. Sebab, semua hal sering menjadi salah atau diartikan salah. Mereka benar-benar tidak siap bahwa dampak kesuksesan yang mereka peroleh justru menjadi terasa sebaliknya. Mereka bahkan sempat benci pada mereka sendiri. Saking jenuhnya, mereka lantas bereksprimen dengan bertingkah nyeleneh yang hasilnya justru semakin menenggelamkan perasaan mereka yang sudah kadung terpuruk. Salah satu puncaknya adalah ketika John Lennon salah satu personilnya, bercanda dengan mengatakan bahwa groupnya lebih populer dari Jesus.. Tentu saja hal ini memantik kemarahan penganut agama Kristen, sehingga di US dilakukan demonstrasi dan pembakaran massal semua rekaman dan atribut the Beatles sebagai bentuk protes.

Karena berbagai tekanan sebagai dampak dari kesuksesan mereka ini, termasuk juga dari media yang seolah berubah jadi ikut-ikutan memojokkan mereka, lalu mereka sepakat untuk mengakhiri sendiri semua pertunjukan mereka di muka publik. Enough is enough.

Walaupun banyak yang menyesalkan sikap mereka, tapi tak ada seorangpun yang mampu mencegah keputusan mereka untuk berhenti. Berhenti dari semua pertunjukan dan konser di muka umum yang membuat mereka justru merasa tertekan.

Untungnya mereka tidak lari dari kenyataan sama sekali. Karena mereka yang pada dasarnya senang berekspresi lewat lagu, mereka lalu menjalani karir mereka dalam bermusik dengan hanya fokus pada rekaman yang menghasilkan album. Kharisma mereka yang demikian besar, walaupun tanpa pertunjukkan langsung, tetaplah mampu menjadikan karya-karya musik mereka selalu ditunggu, digemari dan selalu menjadi hits.

Dalam keheningan di studio rekaman yang tanpa penonton, mereka pada akhirnya mampu mengeskpresikan energi dan passion mereka dalam bentuk rekaman lagu-lagu yang tetap laku dan dipuja.

Mereka meninggallan kehiruk-pikukan massa yang demikian gaduh, sebagai dampak dari ketenaran yang mereka raih tanpa mereka sadari sebelumnya. Ternyata dampak kesuksesan ternyata tidak selalu menyenangkan. Kesuksesan, apapun bentuknya, memerlukan kesiapan dan kematangan mental dari diri kita sendiri. Tanpa hal itu, kita sendiri akan menjadi korban dan digilas oleh kesuksesan yang kita raih sendiri.

So, siapkan diri jadi orang sukses!***

Post a Comment

0 Comments