Kenali Potensi Kehidupan, Raih Makna Hidupmu

Oleh: Mira Rahmatul Jannah (Anggota Pena Umat)

DALAM menjalani kehidupan ini, kita tidak luput dari yang namanya beraktivitas. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali.

Semua aktivitas tersebut dilakukan dalam rangka memenuhi thaqah hayawiyah (potensi kehidupan) yang telah Allah SWT berikan, sehingga memungkinkan makhluknya untuk bisa bertahan hidup.

Potensi kehidupan ini ada yang namanya hajatul udhowiyah (kebutuhan jasmani) dan ada yang namanya gharizah (naluri).

Pertama: kebutuhan jasmani

Kebutuhan jasmani pada hakikatnya adalah segala sesuatu yang dibutuhkan oleh organ tubuh terhadap hal-hal tertentu dengan kadar tertentu yang telah ditetapkan Allah SWT pada manusia dan hewan.

Apabila kurang atau melampaui kadar tersebut, maka tubuh akan mengalami gangguan (penyakit) yang selanjutnya bisa mengantarkan pada kematian.

Contoh dari kebutuhan jasmani adalah semua makhluk hidup manapun pasti butuh makan, butuh istirahat, butuh minum, BAB/BAK dan sebagainya. Karena kebutuhan jasmani ini lahir dari kerja struktur organ tubuh.

Kedua: gharizah (naluri/ perasaan/ kecendrungan/ instink)

Naluri, siapapun dia selama dia manusia pasti ia memilikinya. Hanya saja naluri ibaratnya energi memang tidak bisa kita indera secara lansung bentuknya, akan tetapi kita bisa memahami keberadaannya melalui berbagai macam penampakan.

Ada tiga kelompok penampakan naluri.

Pertama: naluri baqa' dengan penampakannya ingin mewujudkan eksistensi diri, rasa ingin memiliki, menguasai, menyelamatkan diri, marah, takut, pemberani, dll.

Kedua: naluri nau' dengan penampakannya adanya rasa kasih sayang dalam anggota keluarga misalnya rasa sayang orang tua ke anak, kakak ke adik dan sebaliknya, adanya rasa ingin mencintai dan dicintai, ketertarikan antara pria dan wanita, keinginan untuk menikah, punya keturunan untuk melestarikan jenis (manusia) dsb.

Ketiga: naluri tadayyun dengan penampakan rasa lemah dan terbatas, rasa takjub melihat sesuatu yang luar biasa sehingga timbul rasa ingin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, ingin menjadi pribadi yang lebih baik, santun, berkepribadian unggul, shaleh dan shalehah.

Setiap potensi kehidupan dan apapun yang telah Allah ciptakan tidak dijadikan sia-sia. Melainkan manusia ketika memenuhinya harus mengarahkan dalam rangka Ibadah yang nantinya bisa akan bernilai pahala.

Allah SWT berfirman dalam Al Qur an surat Adz-Dzariat: 56

Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada- Ku”

Agar dalam pemenuhan kebutuhan jasmani dan naluri yang telah Allah SWT ciptakan bernilai ibadah dan mendatangkan pahala, maka haruslah memenuhi dua syarat yaitu niatnya ikhlas karena ingin meraih ridho Allah SWT dan caranya juga harus benar dengan mengikuti syari'ah-ya.

Allah SWT berfirman dalam Al Qur an surat Al-Hasyr: 7

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya."

Dan apabila salah satu syarat saja tidak terpenuhi, tanpa tuntunan yang benar maka amalan atau aktivitas tersebut tidak akan menjadi amalan yang terbaik tetapi amalan yang tertolak bahkan sia-sia.

Dalam ayat Al Qur’an Surat Al-kahf: 103-104 disebutkan,

“ Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. ”

Jadi, niat yang ikhlas saja belum menjamin amal kita diterima oleh Allah SWT jika dilakukan tidak sesuai dengan apa yang digariskan syariat. Begitu juga dengan perbuatan mulia, tidak diterima jika dilakukan dengan tujuan tidak mencari keridhaan Allah SWT.

Sebagai contoh ingin menghidupi dan membahagiakan keluarga tetapi dengan cara mencuri, berjudi, korupsi, atau melacurkan diri. Ingin menikah tapi dengan pacaran hingga terjerumus dalam pergaulan bebas. Bahkan yang lebih parah menikah dengan sesama jenis seperti kaum homo dan lesbian. Na'udzubillah.

Atau sebaliknya caranya sudah benar tapi niatnya salah seperti menuntut ilmu tinggi dengan niat mudah menggelabui orang lain. Berhijab syar'iy tapi niatnya supaya tampil cantik dan lagi trand.

Maka hal-hal tersebut tidak menghasilkan amalan yang terbaik, tetapi justru amalan yang merugi hingga mengantarkan kerusakan dan kesempitan hidup.

Allah SWT berfirman dalam surat Thaha ayat 124:

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit."

Oleh karena itu, apabila kita ingin mewujudkan makna sebuah kehidupan di dunia serta meraih nikmat syurga di akhirat kelak, maka lakukanlah berbagai aktivitas yang diridhai Allah dan menjauhi segala kemaksiatan.

Inilah salah satu kebahagiaan seorang muslim yang wajib kita syukuri.

Karena setiap aktivitas yang kita lakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan jasmani dan naluri sesuai dengan kompas kehidupan yang Allah berikan yaitu berupa syari'ah-Nya yang terdapat dalam Al Qur an dan Sunnah, akan menjadi sesuatu hal yang berharga, bernilai dan mendatangkan keberkahan dari langit dan bumi.

Allah SWT berfirman dalam surat Al A'raf ayat 96:

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."

Marilah kita umat Islam dari sekarang mengarahkan segala aktivitas kita dalam rangka meraih ridho Allah SWT yang menjadi tujuan dari segala tujuan hidup kita dan dengan mengikatkan diri kita pada Al -Qur an dan As-Sunnah untuk mewujudkan makna sebuah kehidupan.

Wallahu A'lam bi ash-shawwab.

#Ayomenulis
#Menulisuntukumat
#Penaumat

Post a Comment

0 Comments