Islam Menjaga Keragaman

Oleh : Tika Khasanah

Topik kebinekaan dan  kemajemukan umat manusia sudah lama memiliki tempat khusus dalam syariat Islam. Hanya Islam yang mengakui keberagaman manusia baik  secara suku, bangsa, bahasa, kedudukan sosial, bahkan akidah. Allah SWT menjadikan umat manusia beragam dari berbagai sisi; jenis kelamin, suku, warna kulit, bahasa, status ekonomi, juga posisi di tengah masyarakat. Keberagaman itu adalah realita umat manusia. Allah SWT menciptakan manusia dalam  ragam suku dan bangsa, misalnya, agar manusia saling mengenal (TQS al-Hujurat[49]:13).
Sebagaimana ayat tersebut diatas, sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menghadapi keberagaman suku dan agama di Madinah bukan dengan memusuhi, sebaliknya saling mengharagai, menghormati bahkan saling melindungi. Hal ini dapat kita saksikan dari dokumen penting yang terkenal dengan sebutan Piagam Madinah. Dari dokumen ini diketahui bahwa Islam mengajarkan untuk saling menghormat, bukan hanya kepada sesama umat Islam, tetapi kepada mereka yang berbeda agama dan keyakinan. 

Selain itu Allah tidak menjadikan suku, kabilah dan bagsa sebagai standar tinggi, rendah, unggul dan tidaknya mereka. Tetapi, Allah telah menjadikan ketaqwaan mereka sebagai standarnya. Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengecam kebanggan jahilyah, kebanggaan suku, kabilah dan bangsa.

Jika melihat peta perjalanan Islam wilayah kekuasaan kaum Muslim sejak rentang zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga Khilafah Utsmaniyah meliputi Jazirah Arab, benua Afrika, Asia hingga Eropa. Ulama Islam terdiri dari beragam etnis. Imam al-Bukhari berasal dari kawasan desa Bukhara Uzbekistan, Rusia, Imam Ibn Hazm berasal dari Cordoba, Spanyol, Imam an-Nawawi berasal dari Damaskus, Syam.  Ada juga Imam an –Nawawi al-Bantani yang berasal dari serang, Banten.

Kisah manis kerukunan umat beragama dicatat dengan indah oleh Will Durant, dalam the Story of Civilization, ketika menggambarkan bagaimana keharmonisan antara pemeluk beragama Islam, Yahudi dan Kristen di Spanyol  di era Khilafah Bani Umayah. Will Durant  menuturkan, orang-orang Yahudi yang ditindas oleh Romawi, membantu kaum Muslim yang datang untuk membebasan Spanyol. Mereka pun hidup damai, aman dan bahagia bersama orang-orang Islam disana hingga abad ke-12 M.

Para pemuda Kristen yang dianugrahi kecerdasan mempelajari ilmu fiqih dan bahasa Arab bukan untuk mengkritik  atau meruntuhkannya, tetapi untuk mendalami keindahan gaya bahasanya yang luar biasa. Mereka pun membelanjakan banyak uang mereka untuk memenuhi perpustakaan mereka dengan referensi Islam dan bahasa Arab. [Will Durant, Qishat al-Hadharah, juz XII/296-297].

Keberagaman adalah sunnatullah yang tidak bisa di tolak. Allah menciptakan mahluk di atas muka bumi dalam keseragaman, namun dalam keragaman dan perbedaan dalam hal suku, bangsa, warna kulit, agama, keyakinan dan lain sebagainya. Dari setiap perbedaan yang ada, Allah memerintahkan agar manusia saling mengenal, mengasihi tidak saling bermusuhan.

Ajaran Islam bukan saja menafikan perbedaan suku bangsa dan kabilah, bahkan juga mengharamkan sikap membanggakan suku bangsa dan keturunan. Ubay bin Kaab ra. pernah mendengar seorang pria berkata “Hai keluarga fulan!” Ubay lalu berkata kepada dia, “Gigitlah kemaluan bapakmu!” Ubay mencela dia terang-terangan tanpa memakai kata kiasan! Orang itu berkata kepada Ubay, “Wahai Abul Mundzir (Abu Ubay), engkau bukanlah orang yang suka berkata keji,” Ubay berkata kepada dia, “Sungguh aku  mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa saja yang berbangga-bangga dengan slogan-slogan jahiliyah, suruhlah ia menggigit kemaluan ayahnya dan tidak usah pakai bahasa kiasan terhadap dirinya.”(HR. Ahmad)
Karena itu dalam Islam tak ada tepat bagi pengususng ide primordialisme  atau chauvinism, yang kerap merendahkan bangsa lain dan menganggap bangsanya atau rasnya lebih superior.

Sejarah mencatat perjalanan hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mendakwahkan Islam  di jazirah Arab di wilayah Makkah. Sebelum Islam datang, di Arab telah berkembang bermacam-macam agama dan kepercayaan yang berbeda, adanya agama samawi dan paganisme seperti Yahudi, Nasrani, Majusi, Zooroaster dan Shabi’ah. Masa hijrah Nabi Muhammad ke Madinah tepat dimana pertama kalinya sistem peradaban Islam di topang dalam bentuk pemerintahan yang Islami, disana sudah ada beragam agama yang dianut Yahudi dan Nasrani yang terdiri dari suku-suku dan keberagaman adat istiadat.

Adanya keberagaman tersebut tidak menjadikan Islam memecah persatuan dan memaksakan aqidah selain Islam untuk berislam sebab Islam sebagai agama rahmatan ll’alamin. Islam memahami bahwa perbedaan adalah sebuah rahmat yang tidak menjadi soalan.

Adalah sebuah misleading dari kaum liberal yang memelintir fakta pluralistic untuk membenarkan ajaran pluralism. Padahal antara pluralitas dan pluralisme dua hal yang jelas berbeda. Kemajemukan masyarakat adalah realitas Ilahi. Secara fitrah dan hakiki masyarakat memang plural. Bahkan adanya sebagian manusia yang tetap memilih berada dalam kekufuran juga   realitas yang diakui Allah SWT (TQS. Al-kahfi[18]:29).

Dalam aspek aqidah, masyarakat yang hidup dalam naungan Khilafah Islamiyah memiliki corak yang beragam. Wilayah Spanyol dalam naungan Khilafah  dikenal sebagai masyarakat dengan ‘tiga agama’. Di  dalamnya kaum Muslim hidup berdampingan  dalam damai dengan umat Nasrani dan Yahudi. Justru saat kekuasaan diambilalih  oleh Ratu Isabella terjadi perpecahan dan genocide. Pemaksaan agama kepada umat non-Kristen bahkan dengan cara kekerasan. Karena itu menyatakan bahwa Khilafah akan meniadakan pluralitas adalah kebohongan.

Sementara itu, untuk konsep pluralisme muncul dengan alasan fanatisme agama  telah menimbulkan pengkotak-kotakan masyarakat dan disharmonisasi. Karena itu harus ada cara pandang; menundukkan semua agama dan keyakinan sama rendah dan sama tinggi, termaksud sama benarnya. Jadi, tak ada lagi terminology kufur dan iman karena keduanya dikaburkan bahkan dihilangkan.

Sebaliknya, Eropa yang kental liberalsmenya justru memperlihatkan naiknya angka kebencian terhadap terhadap Islam terlebih setelah tragedi WTC (World Tren Center). Beberapa negara seperti Jerman, Belanda, Prancis, Italia melarang penggunaan burqa di tempat-tempat umum. Sikap diskriminasi terhadap umat Islam makin sering terjadi. Ini bukti bahwa liberalisme justru menyuburkan sikap anti toleransi, khususnya kepada kaum Muslim.

Sehingga tuduhan mengancam perpecahan bangsa dengan isu SARA yang dituduhkan kepada Islam adalah HOAX  alias kebohongan, karena Islam mengakui keberagaman-pluralistik, namun tidak akan menjual aqidah untuk memenuhi tuntutan pluralisme. Penyebab perpecahan yang saat ini di ”paksakan”   menjadi standar toleransi guna meraih tujuan politik kekuasaan.[]

Post a Comment

0 Comments