Inilah Kisah Memilukan di Perang Uhud (Bag. 2 - Selesai)

RemajaIslamHebat.Com - Kedua pasukan pun bertempur hingga perang berkecamuk. Abu Dujanah bertempur hingga berada di tengah-tengah antara dua pasukan yang sedang berperang. Ia membunuh siapa saja yang ditemuinya. Di pihak kaum musyrikin terdapat seorang yang tidak membiarkan seorang pun yang terluka dari kaum muslimin kecuali dia membunuhnya sekaligus. Orang musyrik tersebut mendekati Abu Dujanah. Maka aku pun (az-Zubair bin Awwam -pent) berdoa kepada Allah, mudah-mudahan Dia mempertemukan keduanya. Ternyata benar, keduanya pun bertemu dan saling menyerang. Orang musyrik itu memukul Abu Dujanah, namun perisai kulit melindungi Abu Dujanah dan menahan pedang orang tersebut. Kemudian Abu Dujanah memukulnya hingga tewas. Setelah itu Abu Dujanah mengayunkan pedangnya ke atas belahan rambut Hindun binti Utbah, namun kemudian ia menurunkan pedangnya kembali.

Abu Dujanah berkata: “Saya melihat manusia menyayati tubuh korban dengan sayatan-sayatan, maka aku pun menghampirinya dan mengarahkan pedang kepadanya. Ternyata dia adalah seorang wanita, aku pun menghormati pedang Rasulullah untuk tidak membunuh dengannya seorang wanita.”

Sementara itu Hamzah bin Abdul Muthalib bertempur hingga berhasil membunuh Artha’ah bin Abdu Syurahbil bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abdiddaar. Ia adalah salah seorang pembawa bendera kaum musyrikin. Setelah itu Siba’ bin Abdul ‘Uzza al-Ghubsyani yang biasa dipanggil Abu Niyar berjalan melewati Hamzah bin Abdul Muthalib. Hamzah ber-kata: “Kemarilah wahai anak pemutus kelentit!”. Ibu Siba’ adalah seorang tukang khitan di Makkah.

Wahsyi, budak Jubair bin Muth’im berkata: “Demi Allah, aku lihat Hamzah bin Abdul Muthalib membunuh orang-orang Quraisy dengan pedangnya dan tidak menyisakan seorang pun. Aku lihat ia seperti unta yang belang-belang putih dan hitam. Tiba-tiba’ Siba’ bin Abdul Uzza lebih cepat kepada Hamzah bin Abdul Muthalib daripadaku. Hamzah berkata: “Kemarilah!” (Hamzah memanggilnya dengan panggilan yang jelek) Setelah itu hamzah memukul Siba’ bin Abdul Uzza tepat di kepalanya. Aku pun menggerak-gerakkan tombakku hingga ketika aku merasa telah siap, aku melempar-kannya ke arah Hamzah bin Abdul Muthalib dan tepat mengenai bagian bawah perutnya dan tombakku keluar di antara kedua kakinya. Hamzah bin Abdul Muthalib berusaha berjalan ke arahku namun tidak sanggup dan akhirnya terjatuh. Aku membiarkannya beberapa waktu, hingga ketika yakin ia telah mati aku mengambil tombakku dan kembali ke barak. Aku tidak mempunyai tujuan lain selain membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib karena aku ingin menjadi orang merdeka.

Ketika aku tiba di Makkah aku langsung dimerdekakan. Selanjutnya aku tetap berdomisili di Makkah, hingga ketika Rasulullah SAW berhasil menaklukkan Makkah, aku pun lari ke Thaif dan tinggal di sana. Ketika delegasi Thaif pergi menemui Rasulullah SAW untuk menyatakan masuk Islam tiba-tiba terasa gelap semua jalan bagiku. Aku berkata pada diriku: “Aku akan pergi ke Syam atau Yaman atau negara lain.” Demi Allah, aku resah karena itu. Namun tiba-tiba seseorang berkata kepadaku: “Celakalah engkau, demi Allah, dia (Rasulullah -pent) tidak akan membunuh seseorang yang masuk dalam agamanya dan bersaksi dengan persaksian yang benar.”

Mendengar perkataan orang itu aku pun ikut bersama orang-orang pergi menemui Rasulullah SAW di Madinah. Tidak ada yang lebih menakutkan diriku kecuali berdiri di hadapan beliau dan bersaksi dengan persaksian yang benar. Ketika Rasulullah melihatku, beliau bersabda:

“Apakah engkau Wahsyi?”

“Betul, wahai Rasulullah.” Jawabku. Selanjutnya beliau bersabda:

“Duduklah, dan ceritakan kepadaku bagaimana engkau membunuh Hamzah!”

Setelah selesai aku menceritakan peristiwa itu, beliau bersabda: “Celaka engkau, sembunyikan wajahmu dariku! Aku tidak ingin melihatmu lagi.”

Maka aku pun pergi, dan aku berharap semoga Rasulullah SAW tidak melihatku lagi hingga beliau diwafatkan oleh Allah.

Di sisi lain, Mush’ab bin Umair bertempur melindungi Rasulullah. Ia dibunuh oleh Qami’ah al-Laitsi karena ia sangka Rasulullah SAW. Setelah membunuh Mush’ab bin Umair, ia kembali ke Makkah dan berkata:

“Aku telah membunuh Muhammad.”

Ketika Mush’ab bin Umair gugur, Rasulullah SAW menyerahkan bendera kepada Ali bin Abi Thalib yang kemudian bertempur bersama beberapa orang dari kaum muslimin. Ketika perang tengah berkecamuk, Rasulullah SAW duduk di bawah bendera orang-orang Anshar dan menyuruh seseorang untuk menemui Ali bin Abi Thalib dengan membawa pesan hendaknya Ali bin Abi Thalib maju dengan membawa bendera perang. Maka ia pun maju sambil berkata: “Aku adalah Abul Qusham.” { pendekar pembawa bencana. Dia mengatakan seperti itu karena sebagai jawaban terhadap Abu Sa’ad yang mengatakan “Ana Qashim” (Saya pembawa bencana).}

Abu Sa’ad bin Abi Thalhah, pembawa bendera kaum musyrikin berseru: “Wahai Abul Qusham, apakah engkau bersedia perang tanding denganku?” Ali bin Abi Thalib menjawab: “Ya.” Kemudian keduanya melakukan perang tanding di antara barisan kaum muslimin dan barisan kaum musyrikin. Keduanya saling mengayunkan pedang dan akhirnya Ali bin Abi Thalib berhasil menebas Abu Sa’ad bin Abi Thalhah hingga terluka. Selanjutnya Ali bin Abi Thalib pergi dan tidak membunuhnya. Para sahabat pun bertanya: “Mengapa engkau tidak membunuhnya sekaligus?” Ali bin Abi Thalib menjawab: “Ia datang kepadaku dengan kehormatannya dan aku merasa iba kepadanya karena hubungan kekerabatan antara aku dengannya. Dan setelah itu aku tahu bahwa Allah Ta’ala telah mematikannya.

Sementara itu Ashim bin Tsabit bin Abi Aqlah bertempur habis-habisan dan berhasil membunuh Musafi’ bin Thalhah dan saudaranya al-Julas bin Thalhah. Keduanya terkena anak panah Ashim bin Tsabit. Sebelum menemui ajalnya, salah seorang dari keduanya menemui ibunya yang bernama Sulafah dan meletakkan kepala di pangkuannya. Sulafah berkata: “Anakku, siapa yang melukaimu?” Ia menjawab: “Ketika seseorang melemparku dengan anak panah, aku dengar ia berkata: “Ambillah ini, aku anak Abu Abi Aqlah.” Sulafah pun bernadzar jika Allah memberinya kesempatan untuk melihat kepala Ashim bin Tsabit, ia akan menyi-ramnya dengan minuman keras.

Handhalah bin Abu Amir al-Ghasil (yang dimandikan para malaikat) bertemu dengan Abu Sofyan bin Harb di perang Uhud. Ketika Handhalah bin Abi Amir dapat mengatasi perlawanan Abu Sofyan bin Harb, tiba-tiba Syaddad bin Al-Aswad –anak Syu’ub– melihatnya lalu memukul Handhalah bin Abi Amir hingga gugur. Rasulullah SAW., bersabda: “Sungguh sahabat kalian, Handhalah, pasti akan dimandikan para malaikat.” Ketika para sahabat menanyakan perihal Handhalah kepada istrinya: “Ada apa dengan Handhalah bin Abi Amir?” Istrinya menjawab bahwa Handhalah bin Abi Amir keluar dari rumah dalam keadaan junub ketika mendengar panggilan jihad.

Kemudian Allah Ta’ala menurunkan pertolongan kepada kaum muslimin dan menepati janjiNya kepada mereka. Kaum muslimin berhasil membunuh orang-orang musyrik dengan pedang-pedang mereka dan berhasil membobol pertahanan musuh. Kekalahan menimpa kaum musyrikin dan tidak terelakkan.

Az-Zubair berkata: “Demi Allah, aku lihat gelang kaki Hindun binti Utbah dan teman-temannya tercecer dan tidak diambil sedikit pun. Tiba-tiba pasukan pemanah turun ke barak ketika kami berhasil membobol pertahanan musuh dan membiarkan punggung kami berada di depan pasukan berkuda musuh. Akhirnya kami diserang oleh pasukan berkuda musuh dari arah belakang, dan seseorang berseru: “Sesungguhnya Mu-hammad telah terbunuh.” Maka musuh pun berhasil mengalahkan kami setelah sebelumnya kami berhasil mengalahkan para pemegang bendera mereka hingga tak seorang pun yang berani mendekat. Bendera Quraisy yang terjatuh kemudian diambil oleh Amrah binti al-Qamah al-Hari-tsiyah dan diangkatnya tinggi-tinggi kepada orang-orang Quraisy yang kemudian berkumpul di sekitarnya.

Pertahanan kaum muslimin jebol, dan mereka diserang oleh musuh. Hari itu adalah hari ujian dan hari pembersihan. Allah memuliakan kaum muslimin dengan memberikan kepada mereka kesempatan mati syahid. Karena pertahanan kaum muslimin telah terbuka, maka musuh berhasil masuk ke tempat Rasulullah SAW., kemudian melempar beliau dengan batu hingga terjatuh dalam keadaan miring. Batu tersebut mengenai gigi seri, melukai wajah dan bibir beliau. Orang yang melempar beliau dengan batu itu adalah Utbah bin Abi Waqqash. Darah pun mengalir di wajah beliau. beliau mengusapnya seraya bersabda; ‘Bagaimana suatu kaum bisa bahagia, sedang mereka melukai wajah nabi mereka. Padahal ia mengajak mereka kepada Rabb mereka.”

Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat:

“Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim.” (Ali Imran: 128)

Abu Sa’id Al-Khudri RA., berkata bahwa pada perang Uhud, “Utbah bin Abi Waqqash melempar Rasulullah SAW hingga memecahkan gigi seri sebelah kanan bagian bawah dan juga melukai bibir beliau. Abdullah bin Syihab az-Zuhri melukai kening beliau. Ibnu Qami’ah melukai bagian atas pipi yang menonjol hingga dua buah mata rantai besi masuk ke bagian atas pipi beliau. Rasulullah SAW terjatuh ke dalam salah satu lubang yang dibuat oleh Abu Amir agar kaum muslimin terperosok ke dalamnya tanpa mereka sadari. Kemudian Ali bin Abi Thalib memegang tangan beliau dan Thalhah bin Ubaidillah mengangkat beliau hingga bisa tegak berdiri. Malik bin Sinan yakni Abu Sa’id al-Khudri mengusap darah dari wajah beliau dan menelannya. Kemudian Rasulullah bersabda: “Barang-siapa yang darahnya menyentuh darahku, niscaya ia tidak akan disentuh api Neraka.”

Ketika Rasulullah SAW., dikepung oleh orang-orang Quraisy, beliau bersabda: “Siapa yang siap mengorbankan nyawanya untukku?” Ziyad bin as-Sakan berdiri bersama lima orang dari kaum Anshar. Mereka bertempur habis-habisan melindungi Rasulullah SAW hingga satu persatu mereka gugur sebagai syuhada. Dan orang yang terakhir gugur dari mereka adalah Ziyad atau Umarah yang bertempur hingga terluka parah. Ketika dalam keadaan seperti itu datanglah serombongan kaum muslimin yang akhirnya berhasil mengusir orang-orang musyrik dari sekitar Rasulullah SAW. Kemudian beliau bersabda: “Dekatkan ia kepadaku!” Lalu mereka pun mendekatkannya kepada Rasulullah SAW yang kemudian menjadikan kaki beliau sebagai bantalnya. Akhirnya Ziyad bin as-Sakan meninggal sedang pipinya berada di atas kaki Rasulullah.

Sahabat yang pertama kali melihat Rasulullah SAW., setelah kekalahan mereka dan ucapan orang-orang yang mengatakan bahwa beliau telah gugur adalah Ka’ab bin Malik. Ia berkata: “Aku melihat kedua mata Rasulullah yang suci bersinar dari bawah perisai kepala. Kemudian aku berteriak sekeras-kerasnya: ‘Wahai seluruh kaum muslimin, bergembira-lah kalian. Inilah Rasulullah SAW.’ Rasulullah SAW memberikan isyarat kepadaku agar aku diam.”

Ketika kaum muslimin mengetahui bahwa Rasulullah SAW masih hidup, serentak mereka bangkit menuju beliau. Selanjutnya beliau berjalan menuju gunung Uhud bersama mereka dengan dikawal abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khatthab, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidilah, az-Zubair, al-Harits bin ash-Shammah, dan beberapa orang dari kaum muslimin. Ketika Rasulullah mendaki jalan menuju gunung Uhud, beliau berpapasan dengan Ubay bin Khalaf yang kemudian bertanya kepada beliau: “Hendak pergi kemanakah engkau, wahai Muhammad? Aku tidak akan selamat jika engkau selamat.” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, pantaskah seseorang di antara kita bersikap ramah kepadanya?” Beliau bersabda: “Biarkan dia.”

Ketika Rasulullah SAW., telah dekat dengan Ubay bin Khalaf, beliau mengambil tombak dari tangan al-Harits bin ash-Shimmah. Sebagian perawi mengatakan bahwa ketika Rasulullah SAW mengambil tombak tersebut dari tangan al-Harits bin ash-Shammah, tiba-tiba beliau tergoncang dengan goncangan yang hebat yang membuat kami berterbangan dari beliau seperti lalat berterbangan dari punggung unta. Rasulullah SAW maju ke arah Ubay bin Khalaf lalu menikam lehernya hingga terjatuh berkali-kali. Dahulu Ubay bin Khalaf pernah berjumpa dengan Rasulullah di Makkah. Ketika itu ia berkata kepada beliau: “Hai Muhammad, aku memiliki kuda bernama al-Audz yang aku beri makan dua belas kwintal setiap hari, agar kelak aku bisa membunuhmu di atasnya.” Rasulullah bersabda: “Bahkan akulah yang akan membunuhmu, insya Allah.”

Ketika Ubay bin Khalaf kembali kepada orang-orang Quraisy dengan luka di lehernya yang tidak terlampau parah dan darah pun telah berhenti, ia berkata: “Demi Allah, aku telah dibunuh oleh Muhammad.” Orang-orang Quraisy berkata: “Demi Allah, engkau telah kehilangan nyali. Bukankah engkau masih memiliki kekuatan?” Ubay bin Khalaf berkata: “Ketika masih di Makkah, Muhammad pernah berkata kepadaku ‘Aku akan membunuhmu’. Demi Allah, seandainya dia meludahiku, niscaya ia bisa membunuhku dengan ludahnya.” Setelah itu Ubay bin Khalaf menghembuskan nafasnya yang terakhir, dan orang-orang Quraisy membawa mayatnya ke Makkah.

Ketika Rasulullah SAW., tiba di depan jalan menuju gunung Uhud, Ali bin Abi Thalib RA., keluar menuju al-Mihras (sebuah tempat di Uhud), untuk mengisi tempat air. Kemudian Ali membawanya kepada Rasulullah SAW dan beliau minum darinya. Karena mencium bau yang tidak sedap beliau tidak jadi meminumnya. Beliau hanya mengusap darah pada wajah beliau dan mengguyurkan air itu ke kepala, seraya bersabda: “Allah sangat marah kepada orang yang melukai wajah nabi-Nya.” Rasulullah SAW mendaki bebatuan gunung dalam keadaan badan yang mulai melemah dan mengenakan baju besi di depan dan belakang badannya. Beliau berusaha terus mendaki namun gagal. Kemudian Thalhah bin Ubaidillah duduk di bawah beliau lalu berdiri hingga beliau bisa berdiri dengan tegak. Rasulullah bersabda: “Thalhah pasti masuk Surga.” Beliau bersabda demikian karena apa yang telah dilakukan Thalhah terhadap beliau.

Di antara orang yang terbunuh dalam perang Uhud adalah Mukhairiq yang Yahudi. Ia berasal dari Bani Tsa’labah bin al-Fithyaun. Ketika terjadi perang Uhud, ia berkata: “Wahai orang-orang Yahudi, demi Allah kalian tidak mengetahui bahwa membantu Muhammad adalah kewajiban kalian.” Orang-orang Yahudi berkata, “Ini adalah hari Sabtu.” Mukhairiq berkata: “Tidak ada hari Sabtu bagi kalian.” Setelah itu ia mengambil pedang dan perbekalan. Ia berkata: “Jika aku mati, hartaku menjadi milik Muhammad. Ia boleh menggunakan sekehendaknya.” Kemudian ia berangkat menuju Rasulullah dan berperang bersama beliau hingga terbunuh. Rasulullah SAW., bersabda: “Mukhairiq adalah sebaik-baik orang Yahudi.”

Abu Hurairah RA., berkata: “Ceritakan kepadaku orang yang masuk Surga tanpa pernah mengerjakan shalat sekalipun. Jika orang-orang tidak mengenalnya, mereka bertanya kepadanya (Abu Hurairah), ia menjawab bahwa orang tersebut adalah Ushairim, seorang dari Bani Abdul Asyhal, yakni Amr bin Tsabit bin Waqasy. Al-Hushain berkata: ‘Aku bertanya kepada Mahmud bin Asad: “Bagaimana perihal keadaan Ushairim?” Dia menjawab: “Sebelumnya Ushairim tidak menghendaki Islam tersebar di tengah kaumnya. Namun ketika Rasulullah berangkat ke Uhud, tiba-tiba timbul keinginan di hatinya untuk masuk Islam. Kemudian ia pun masuk Islam. Setelah itu ia mengambil pedang dan berangkat ke Uhud hingga tiba di tengah peperangan. Ia bertempur hingga terluka. Ketika orang-orang dari Bani Abdul Asyhal mencari korban-korban mereka di perang Uhud, mereka menemukan Ushairim. Mereka berkata: “Demi Allah ini adalah Ushairim, mengapa mereka datang kemari? Sungguh kami tinggalkan ia karena ia tidak mempercayai berita ini.” Maka mereka bertanya kepada Ushairim apa yang menyebabkan ia datang ke Uhud. Mereka bertanya: “Apa yang mendorongmu datang kemari, wahai Abu Amr, apakah karena kecintaanmu kepada kaummu ataukah kecintaanmu kepada Islam?” Ushairim menjawab: “Aku datang karena kecintaanku kepada Islam. Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta masuk Islam. Setelah itu aku mengambil pedang dan menyusul Rasulullah, lalu bertempur hingga terluka seperti ini.” Tidak lama setelah itu Ushairim menghembuskan nafas terakhirnya di hadapan mereka. Kemudian mereka menyampaikan perihal Ushairim kepada Rasulullah dan beliau bersabda: “Sungguh ia termasuk penghuni Surga.”

Amr bin Al-Jamuh adalah seorang laki-laki yang pincang. Ia memiliki empat orang anak seperti singa yang turut dalam berbagai peperangan bersama Rasulullah. Di perang Uhud, anak-anaknya bermaksud melarangnya ikut berperang seraya berkata: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memaafkanmu.” Amr bin al-Jamuh datang menemui Rasulullah dan berkata: “Anak-anakku bermaksud melarangku berangkat bersamamu. Demi Allah, aku berharap dapat menginjak Surga dengan kakiku yang pincang ini.” Rasulullah bersabda: “Adapun engkau, sungguh Allah telah memaafkanmu dan engkau tidak wajib berjihad.” Dan beliau bersabda kepada anak-anak Amr bin al-Jamuh: “Kalian tidak berhak melarang ayah kalian. Mudah-mudahan Allah memberinya mati syahid.” Setelah itu Amr bin al-Jamuh berangkat jihad bersama Rasulullah dan gugur sebagai syahid di perang Uhud.

Hindun binti Utbah dan wanita-wanita Quraisy mencincang-cincang para korban dari sahabat Rasulullah SAW., serta memotong hidung dan telinga-telinga mereka. Bahkan Hindun binti Utbah menjadikan hidung dan telinga para korban itu sebagai kalung dan gelang kaki. Sementara gelang, kalung dan cincinnya ia berikan kepada Wahsyi, budak Zubair bin Muth’im. Tidak puas sampai di siti, Hindun binti Utbah membelah hati Hamzah bin Abdul Muththalib, lalu mengunyah dan hendak mene-lannya namun tidak mampu. Kemudian ia memuntahkannya.

Al-Hulais bin Zabban saudara Bani Al-Harits bin Abdi Manat adalah pemimpin ahabisy ketika itu. Ia berjalan melewati Abu Sofyan bin Harb yang sedang memukul tulang rahang bawah Hamzah bin Abdul Muththalib dengan tombak besi sambil berkata: “Rasakan ini hai orang durhaka!” Al-Hulais berkata: “Hai orang-orang Bani Kinanah, inikah perilaku pemimpin Quraisy terhadap anak pamannya. Tidakkah kalian melihat ia telah mati?”

Abu Sofyan berkata: “Celakalah engkau, rahasiakan kejadian ini! Karena ini merupakan sebuah kesalahan.” Ketika Abu Sofyan bin Harb hendak pulang, ia naik ke atas gunung dan berteriak sekeras-kerasnya: “Aku menang, sesungguhnya kekalahan telah terbalas, hidup Hubal, jayalah agamamu!”

Lalu Rasulullah SAW., memerintahkan Umar bin Al-Khatthab RA: “Berdirilah wahai Umar, jawablah seruan Abu Sofyan dan katakan kepadanya bahwa Allah lebih tinggi dan lebih mulia. Tidak sama antara korban kami yang masuk Surga dengan korban kalian yang masuk Neraka. Setelah Umar bin Al-Khatthab menjawab seruan Abu Sofyan, maka ia berkata: “Kemarilah engkau hai Umar!” Rasulullah berkata: “Datangilah ia wahai Umar, dan lihatlah apa yang ia perbuat!”

Umar bin Al-Khatthab pun mendatangi Abu Sofyan. Abu Sofyan berkata kepadanya: “Aku bersumpah demi Allah hai Umar, benarkah kami telah membunuh Muhammad?” Umar menjawab: “Sekali-kali tidak! Beliau sekarang sedang mendengarkan ucapanmu!” Abu Sofyan berkata: “Engkau lebih jujur dan lebih baik dalam pandanganku daripada Ibnu Qamiah yang berkata kepada orang-orang Quraisy: “Aku telah membunuh Muhammad!”

Setelah itu Abu Sofyan berteriak: “Di antara korban-korban kalian ada yang dicincang! Demi Allah aku tidak rela dan aku juga tidak marah, aku tidak melarang dan tidak menyuruh perbuatan tersebut!” Ketika Abu Sofyan beserta anak buahnya hendak kembali ke Makkah, ia berseru: “Sungguh kita akan bertemu lagi di Badar tahun depan!” Rasulullah bersabda kepada seorang sahabat: “Katakan ya! Dan kita mempunyai per-janjian dengan mereka untuk bertemu!”

Kemudian beliau mengutus Ali bin Abi Thalib dan berkata kepadanya: “Pergilah dan mata-matai orang-orang Quraisy serta lihatlah apa yang mereka kerjakan dan apa yang mereka inginkan. Jika mereka meletakkan kuda-kuda mereka di sebelah selatan dan menaiki unta-unta berarti mereka hendak pulang kembali ke Makkah. Namun jika mereka menaiki kuda-kuda mereka dan menuntun unta-unta mereka berarti mereka hendak menuju ke Madinah! Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya! Jika mereka hendak menyerang Madinah, aku pasti akan kembali ke Madinah dan aku perangi mereka di dalamnya.”

Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku berjalan menelusuri jejak orang-orang Quraisy dan melihat apa yang mereka kerjakan. Ternyata mereka meletakkan kuda-kuda di sebelah selatan mereka dan menaiki unta-unta mereka dan berjalan kembali ke Makkah.”

Setelah itu kaum muslimin mengurusi korban-korban mereka. Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang bersedia mewakiliku untuk melihat apakah Sa’ad bin ar-Rabi’ masih hidup ataukah ikut terbunuh?” Salah seorang dari kaum Anshar berkata: “Wahai Rasulullah, aku bersedia mewakilimu untuk melihat Sa’ad bin ar-Rabi’. Kemudian sahabat Anshar itu mencarinya lalu mendapatinya terluka di antara para korban namun ia masih hidup. Sahabat Anshar itu berkata kepada Sa’ad: “Sesungguhnya Rasulullah memerintahkan aku untuk melihat apakah engkau masih hidup ataukah turut menjadi korban? Sa’ad bin Ar-Rabi’ menjawab: “Aku termasuk korban di antara para korban, sampaikan salamku kepada Rasulullah dan katakan kepadanya bahwa Sa’ad bin Ar-Rabi’ berkata kepada Anda: Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan atas jasa Anda sebaik-baik balasan yang Allah berikan kepada seorang nabi karena umatnya. Dan juga sampaikan salamku kepada kaummu serta katakan kepada mereka bahwa Sa’ad bin ar-Rabi’ berkata kepada kalian bahwa kalian tidak memiliki udzur di sisi Allah apabila RasulullahSAW terlepas dari perlindungan kalian sementara di antara kalian masih ada yang hidup.”

Sahabat Anshar itu berkata: “Tidak lama setelah itu ia pun menghembuskan nafas terakhir. Kemudian aku menemui Rasulullah dan menceritakan perihal Sa’ad bin ar-Rabi’ kepada beliau.

Kemudian setelah itu Rasulullah keluar untuk mencari Hamzah bin Abdul Muththalib. Beliau menemukannya di dasar lembah dalam keada-an perut terbelah dan hatinya dicincang-cincang, hidung dan telinganya dipotong-potong. Setelah melihat Hamzah, beliau bersabda: “Kalaulah sekiranya tidak membuat Shafiyah bersedih dan menjadi sunnah sepeninggalku, niscaya aku biarkan jenazah Hamzah bin Abdul Muthathalib hingga menjadi santapan binatang-binatang buas dan burung-burung. Jika Allah memberi kemenangan kepadaku atas kaum Quraisy, aku pasti akan mencincang-cincang tiga puluh korban dari mereka.”

Ketika kaum muslimin melihat duka Rasulullah SAW dan kemarahan beliau atas perbuatan orang-orang Quraisy atas paman beliau, mereka berkata: “Apabila Allah memberi kemenangan atas mereka pada satu hari nanti, kita pasti akan mencincang-cincang mereka dengan pencincangan yang tidak pernah dikerjakan oleh seorang Arab pun sebelumnya. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Allah menurunkan ayat berikut menanggapi ucapan Rasulullah SAW dan ucapan para sahabatnya:

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (an-Nahl: 126-127)

Akhirnya Rasulullah memaafkan orang-orang yang menyincang Hamzah dan melarang melakukan penyincangan.

Rasulullah memerintahkan agar jenazah Hamzah bin Abdul Muthalib ditutup dengan kain burdah kemudian dishalati. Beliau bertakbir sebanyak tujuh kali. Setelah itu jenazah-jenazah yang lainnya diletakkan di samping jenazah Hamzah bin Abdul Muththalib kemudian dishalati, hingga akhirnya jenazah Hamzah bin Abdul Muththalib dishalati bersama mereka sebanyak tujuh puluh dua kali.

Shafiyan binti Abdul Muththalib datang untuk melihat Hamzah bin Abdul Muththalib, saudara kandungnya. Rasulullah bersabda kepada az-Zubair bin Awwam, putra Shafiyah: “Temui ibumu dan suruh agar ia pulang hingga tidak menyaksikan apa yang menimpa saudaranya.” az-Zubair berkata kepada ibunya: “Ibu, sesungguhnya Rasulullah SAW menyuruhmu pulang.” Shafiyah bertanya: “Mengapa Rasulullah menyuruhku pulang, sedang aku mendengar berita bahwa saudaraku dicincang-cincang, dan itu terjadi di jalan Allah? Tidak ada yang lebih melegakan dari hal itu. Aku pasti mengharap pahala dari-Nya dan mampu bersabar, insya Allah.” Az-Zubair menemui Rasulullah dan menceritakan perihal ibunya. Kemudian beliau bersabda: “Biarkan dia!” Shafiyah pun melihat jenazah Hamzah bin Abdul Muththalib dan ber-istirja’ (mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un), dan memintakan ampunan baginya. Setelah itu Rasulullah memerintahkan agar jenazah Hamzah bi Abdul Muththalib dimakamkan. Pada mulanya beberapa orang dari kaum muslimin ingin membawa korban mereka ke Madinah dan dimakamkan di sana. Namun Rasulullah melarangnya, dan bersabda: “Makamkan mereka di tempat mereka gugur.”

Diriwayatkan dari Abdullah bin Tsa’labah bahwa ketika Rasulullah berdiri di hadapan para korban perang Uhud, beliau bersabda: “Aku menjadi saksi atas mereka. Sesungguhnya seseorang yang terluka di jalan Allah, dia akan dibangkitkan dalam keadaan lukanya berdarah, warnanya warna darah dan aromanya laksana kesturi. Lihatlah siapa di antara mereka yang paling banyak hafal al-Qur’an, dan letakkan ia di depan sahabat-sahabatnya di tempat pemakaman.” Para sahabat memakamkan dua atau tiga orang dalam satu liang.

Kemudian Rasulullah kembali ke Madinah. Beliau berjumpa dengan Hamnah bintu Jahsy. Ketika Hamnah berjumpa dengan para sahabat dan dikabarkan kepadanya tentang kesyahidan saudaranya Abdullah bin Jahsy, ia pun ber-istirja’ dan memintakan ampunan baginya. Demikian juga ketika dikabarkan kepadanya kesyahidan pamannya, Hamzah bin Addul Muththalib, ia ber-istirja’ dan memohonkan ampunan baginya. Namun ketika dikabarkan kepadanya kesyahidan suaminya, Mush’ab bin Umair, ia berteriak dan mengucapkan kata-kata ratapan. Rasulullah SAW., bersada: “Sesungguhnya seorang suami memiliki kedudukan tersendiri di hati istrinya.” Karena beliau melihat Hamnah bisa bersabar atas kesyahidan saudara dan pamannya, namun meratap atas kesyahidan suaminya.

Selanjutnya Rasulullah SAW berjalan melewati pemukiman kaum Anshar, yakni pemukiman Bani Abdul Asyhal dan pemukiman Dzafar. Beliau mendengar tangis dan ratapan atas korban-korban mereka. Air mata beliau pun tak terbendung lagi. Setelah itu Rasulullah SAW bersabda: “Namun Hamzah, tidak ada yang menangisinya.” Ketika Sa’ad bin Muadz dan Usaid bin Hudhair kembali ke pemukiman Bani Abdul Asyhal, keduanya memerintahkan para wanita Bani Abdul Asyhal mengenakan ikat pinggang dan pergi menangisi Hamzah bin Abdul Muththalib. Ketika Rasulullah mendengar tangis para wanita itu atas Hamzah bin Abdul Muthalib, beliau keluar menemui mereka di pintu masjid beliau, dan bersabda: “Kembalilah kalian, mudah-mudahan Allah merahmati kalian. Sungguh kalian telah menyamakan Hamzah sebagaimana korban-korban kalian.”

Rasulullah juga berjalan melewati seorang wanita Bani Dinar yang kehilangan suami, saudara dan ayahnya di perang Uhud. Ketika kabar itu disampaikan kepadanya, ia berkata: “Bagaimana dengan kabar Rasulullah?” Para sahabat menjawab: “Beliau baik-baik saja, wahai ibu Fulan. Alhamdulillah beliau sebagaimana yang engkau harapkan.” Wanita itu berkata: “Tunjukkan Rasulullah supaya aku bisa melihat beliau.” Kemudian ia dibawa menghadap Rasulullah. Setelah melihat beliau, ia berkata: “Segala musibah setelahmu adalah kecil artinya.”

Setibanya di rumah Rasulullah menyerahkan pedang beliau kepada Fathimah, putri beliau, seraya bersabda: “Cucilah darah dari pedang ini! Demi Allah ia telah jujur kepadaku hari ini.” Ali bin Abi Thalib juga menyerahkan pedangnya kepada Fathimah sambil berkata; “Tolong bersihkan juga pedangku ini! Sungguh ia telah jujur kepadaku hari ini.” Rasulullah bersabda: “Jika engkau berperang dengan jujur, sungguh Sahl bin Hunaif dan Abu Dujanah juga jujur bersamamu.”

Perang Uhud terjadi pada hari Sabtu tanggal lima belas bulan Syawal. Keesokan harinya tanggal enam belas, penyeru Rasulullah SAW memberi kepada kaum muslimin untuk mengejar musuh dan bahwasanya yang diperintahkan untuk keluar adalah mereka yang keluar bersama kami kemarin di perang Uhud. Jabir bin Abdullah bin Amr bin Haram berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, ayahku menyuruhku untuk menjaga tujuh orang saudara perempuanku dan ia berkata kepadaku: “Anakku, tidak selayaknya kita meninggalkan ketujuh saudaramu tanpa ada seorang laki-laki pun bersama mereka. Dan aku tidak ingin menganak-emaskanmu daripada diriku dengan ikut berjihad bersama Rasulullah. Karena itu tinggallah engkau bersama ketujuh orang saudara perempuanmu. Maka aku pun tinggal bersama ketujuh saudaraku.” Akhirnya Rasulullah SAW mengizinkannya pergi bersama beliau. Beliau bersama para sahabat mengejar musuh untuk menakut-nakuti mereka, agar mereka berkesimpulan bahwa beliau masih memiliki kekuatan dan apa yang menimpa para sahabat tidak melemahkan semangat mereka. Rasulullah beserta para sahabat berjalan hingga tiba di Hamraul Asad yang berjarak delapan mil dari Madinah. Beliau tinggal di Hamraul Asad pada hari Selasa, Rabu dan Kamis, kemudian kembali ke Madinah.

Ma’bad bin Abi Ma’bad dari Al-Khuza’i berjalan melewati Rasulullah. Ketika itu Khuza’ah, berikut penduduknya baik yang muslim maupun kafir merupakan tempat persembunyian Rasulullah. Beliau mempunyai perjanjian dengan mereka bahwa mereka tidak akan menyembunyikan segala sesuatu yang terjadi di sana. Ketika itu, Ma’bad bin Abi Ma’bad masih musyrik. Ia berkata: “Wahai Muhammad, demi Allah kami turut bersedih atas apa yang menimpa sahabat-sahabatmu. Dan kami berharap semoga Allah menyelamatkanmu di tengah-tengah mereka.” Setelah itu ia pergi –sementara Rasulullah tetap tinggal di Hamra’ul Asad– sampai dia bertemu dengan Abu Sofyan bin Harb beserta anak buahnya di Rauha’ (sebuah desa yang terletak sejauh perjalanan dua malam dari Madinah) yang bermaksud balik menghadapi Rasulullah dan para sahabatnya. Mereka berkata: “Kita telah mengalahkan sahabat-sahabat Muhammad, para tokoh dan pemimpin mereka. Mengapa kemudian kita pulang tanpa membasmi mereka hingga habis?” Kita pasti akan kembali dan menghabisi mereka.”

Ketika melihat Ma’bad bin Abi Ma’-bad, Abu Sofyan berkata: “Berita apa yang engkau bawa wahai Ma’bad?” Ma’bad menjawab: “Muhammad mengejar kalian bersama sahabat-sahabatnya yang belum pernah aku lihat sebelumnya karena marah kepada kalian. Sahabat-sahabatnya yang tidak ikut serta dalam perang Uhud, semua bergabung dengannya dan menyesal tidak turut berperang. Mereka sangat marah kepada kalian dan aku tidak pernah melihat kemarahan seperti itu sebelumnya.” Abu Sofyan berkata: “Celaka engkau, apa yang engkau katakan ini?” Ma’bad berkata: “Demi Allah, aku berpendapat hendaknya engkau kembali hingga engkau melihat kepala kuda meninggi.” Abu Sofyan berkata: “Demi Allah kami telah bersepakat untuk kembali ke tempat mereka dan menghabisi sisa-sisa mereka.” Ma’bad berka-ta: “Aku sarankan agar engkau tidak melakukannya. Demi Allah, sungguh apa yang aku lihat membuat aku melantunkan sya’ir-sya’ir tentang mereka.” Abu Sofyan berkata: “Bagaimana sya’ir yang engkau lantun-kan?” Ma’bad menjawab: “Aku katakan:

“Hewan tungganganku nyaris tumbang karena suara-suara

Ketika bumi mengalir dengan kuda-kuda yang pendek rambutnya berkelompok-kelompok

Kuda-kuda itu lari dengan singa-singa mulia yang tidak pernah kehilangan nyali di medan perang

Tidak satu pun orang tanpa senjata yang mampu bertahan di atas pelana kuda

Aku terus berlari karena aku sangka bumi telah leleh

Ketika mereka naik kepada kita dengan pemimpin yang pantang mundur

Aku katakan: ‘Celakalah anah Harb jika bertemu dengan kalian

Jika bumi bergetar dengan sekelompok manusia

Aku ingatkan penduduk tanah suci secara terbuka

Bagi setiap orang yang masih memiliki akal

Dari pasukan Ahmad yang tidak ada di dalamnya orang kelas gembel

Apa yang kukatakan ini bukanlah omong kosong.”

Syair-syair itu menggoyahkan keinginan Abu Sofyan beserta anak buahnya untuk kembali ke Madinah. Ketika serombongan musafir dari Bani Abdul Qais berjalan melewati Abu Sofyan bin Harb, ia pun bertanya kepada mereka: “Hendak pergi ke mana kalian?’ Mereka menjawab: “Ke Madinah.” Abu Sofyan berkata: “Untuk apa kalian pergi ke Madinah?” Mereka menjawab: “Kami hendak pergi ke al-Mirah.” Abu Sofyan berkata: “Maukah kalian menyampaikan suratku kepada Muhammad? Jika kalian bersedia, aku akan memikulkan anggur ini ke pasar Ukadz besok pagi.” Mereka menjawab: “Ya.” Abu Sofyan berkata: “Jika kalian setuju, sampaikan kepada Muhammad bahwa kami telah bersepakat untuk balik kepadanya dan para sahabatnya untuk membasmi seluruh sisa-sisa mereka.” Ketika rombongan musafir itu berjumpa dengan Rasulullah SAW., di Hamra’ul Asad dan menyampaikan apa yang dikatakan Abu Sofyan bin Harb beserta anak buahnya, beliau bersabda; “Cukuplah Allah bagi kita dan Dia adalah sebaik-baik pemelihara.”

Sebelum kembali ke Madinah Rasulullah menangkap Muawiyah bin al-Mughirah dan Abu Izzah al-Jumahi. Rasulullah pernah menawan Abu Izzah al-Jumahi pada perang Badar, namun kemudian membebaskannya. Ia berkata; “Wahai Rasulullah, bebaskan aku!’ Rasulullah SAW., bersabda: “Tidak, demi Allah, engkau tidak akan bisa lagi membasuh kedua sisi badanmu di Makkah, dan tidak lagi bisa bekata: ‘Aku telah menipu Muhammad dua kali. Penggal lehernya wahai Zubair!” Maka Zubair pun memenggal leher Abu Izzah al-Jumahi.

Selanjutnya Rasulullah kembali ke Madinah. Ketika itu Abdullah bin Ubay bin Salul memiliki tempat berdiri di setiap hari Jum’at, dan tidak seorang pun yang mengingkari kemuliaannya di tengah kaumnya. Ia memang seorang yang berkedudukan di tengah mereka. Jika Rasulullah duduk dari khutbah Jum’at, Abdullah bin Ubay bin Salul berdiri dan berkata: “Wahai manusia, inilah Rasulullah di tengah-tengah kalian. Dengannya Allah memuliakan dan memenangkan kalian. Oleh karena itu tolong dan bantulah ia, dengar dan taatlah kepadanya!” Kemudian ia duduk. Setelah ia membuat ulah di Perang Uhud dan kaum muslimin kembali dari Perang Uhud, ia melakukan hal yang serupa. Namun kaum muslimin menarik bajunya dari segala sisi dan berkata kepadanya: “Duduklah hai musuh Allah! Demi Allah engkau tidak layak berbuat seperti itu lagi. Engkau telah berbuat durhaka sebelum ini.” Abdullah bin Ubay bin Salul berjalan di tengah-tengah manusa sambil berkata: “Demi Allah, aku berkata tentang suatu perkara yang besar ketika aku berdiri mengatakan urusannya (Rasulullah SAW.,).” Salah seorang dari kaum Anshar bertemu dengan Abdullah bin Ubay bin Salul di pintu masjid, kemudian berkata: “Celakalah Engkau, apa yang terjadi dengan dirimu?’ Ia menjawab: “Aku berdiri menguatkan urusannya, kemudian salah seorang dari sahabatnya meloncat ke arahku, ia menarik bajuku dan berbuat kasar kepadaku, seakan-akan aku melakukan kejahatan yang besar.” Sahabat Anshar itu berkata: “Celaka engkau, mintalah kepada Rasulullah agar memintakan ampunan untukmu.” Abdullah bin Ubay bin Salul menjawab: ‘Demi Allah, aku tidak butuh dia memintakan ampunan untukku.”

Ibnu Ishaq berkata: “Perang Uhud adalah ujian dan pembersihan. Dengannya Allah menguji kaum mukminin dan membongkar kedok orang-orang munafik yang menampakkan keimanan dengan lisan namun menyembunyikan kekafiran di hati mereka. Dan hari di mana Allah Ta’ala memuliakan para wali-Nya yang Dia kehendaki gugur sebagai syuhada’

LAHUM AL FATIHAH...

BAROKALLOHU FIKUM...

Sumber:

Fb: Abu Nana

Post a Comment

0 Comments