Hilangnya Rasa Cinta dan Kasih Sayang dalam Keluarga

Oleh : Surfida (Guru TPA Sampolawa, Buton Selatan)

Keluarga adalah tempat saling berbagi, tempat kita saling memberi, tempat menumpahkan segala rasa cinta, rasa sayang, rasa manja antara suami, istri dan anak-anak. Dalam keluarga, merupakan tempat pertama anak menempuh pendidikan sebelum berinteraksi dengan dunia luar. Namun, tidak semua saat ini menjadikan keluaga sebagai tempat mencurahkan rasa sayang, rasa cinta, rasa berbagi kepada anggota keluarga yang lain. Seperti yang terjadi di Pekalongan, Bocah Cilik yang bernama Sofia Isa (3,5). Bocah ini sangat malang nasibnya, ibunya seharusnya menjadi tempat ia bermanja-manja, namun ibunya merupakan monster baginya. Sofia Isa harus meregang nyawa ditangan ibunya sendiri. Ibunya menusuknya dengan sebuah pisau dapur. Syarenie (31) yang merupakan ibu korban saat melakukan perbuatan tersebut, diduga sedang depresi. (liputan 6 COM. 4/11/2017).

Setelah kasus pembunuhan anak, kejadian yang sama juga terjadi di Jakarta, seorang dokter dibunuh oleh suaminya sendiri. Kasus penembakan ini terjadi di Klinik Az-Zahra, Cawang Jakarta Timur sekitar jam 14.00 wib, diduga saat itu sang suami sedang mengalami psikotik dan dibawah pengaruh obat (Tribun News. 9/11/2017).

Itu hanya beberapa kasus saja yang kita ketahui. Bisa jadi masih banyak lagi kasus-kasus yang terjadi dalam Rumah Tangga(KDRT) dan luput dari pemberitaan media. Sungguh ironis, keluarga seharusnya menjadi tempat untuk menumpahkan rasa cinta, rasa sayang agar mendapatkan ketentraman hidup, tetapi saat ini sebagian di masyarakat sudah beralih fungsi. Ini semua terjadi karena saat ini, semua lini kehidupan diatur dengan sistem kapitalisme yang melahirkan sekularisme. Agama dipisahkan dari kehidupan sehingga ilmu agama semakin jauh dari kehidupan masyarakat saat ini. Yang ada dalam diri manusia hanya kejumudan dalam berfikir sehingga rasa manusiawi dan fitrah(rasa cinta dan sayang) hilang. Dalam sistem ini juga bukan hanya melahirkan pikiran yang jumud, tetapi juga membuat manusia terhimpit ekonominya. Mereka bingung dan stres bagaimana memenuhi kebutuhan hidupnya, harga barang-barang selalu naik, utang terus menumpuk sehingga jalan satu-satunya yang mereka tempuh agar terbebas dari itu semua adalah bunuh diri atau membunuh anggota keluarganya yang dianggap terlalu membebani.

UU No. 23 Tahun 2004 tentang Pengahapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga(PKDRT) dan UU KDRT terhadap anak dan perempuan yang di keluarkan pemerintah ternyata tidak mampu memberikan efek jera kepada masyarakat saat ini untuk tidak melakukan kekerasan pada anak, istri maupun suami.

Apalagi belum lama ini pemerintah memberikan kado indah lagi pada rakyat yaitu penyederhanaan listrik, sehingga masyarakat yang tergolong pelanggan listrik 900 VA akan disederhanakan menjadi 4.400 VA. Selain itu, dalam sistem kapitalisme, standar kehidupan masyarakat berubah. Bahagia dalam pandangan masyarakat adalah ketika mereka memiliki materi(uang) yang banyak agar mereka dihormati dan disanjung, sehingga berusaha agar memiliki uang yang banyak itu meskipun bertentangan dengan  Islam.

Pandangan Islam

Islam adalah agama yang mengatur segala sisi kehidupan dan senantiasa menganjurkan Umatnya untuk menjalin hubungan dengan sesama manusia. Dalam kehidupan tentunya manusia tidak ingin hidup sendiri  tapi ingin hidup berkeluarga. Dalam berkeluarga juga harus tercipta ketenangan dan kenyamanan. Sehingga lahirlah keluarga yang Sakinah, Wawadah wa Rahmah. Dimana Allah SWT telah menganugerahkan kepada setiap manusia di muka bumi ini memiliki naluri untuk saling menyayangi. Hal ini Allah SWT telah menyampaikan dalam Firman-Nya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia yang menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismuu sendiri, supaya kamu cenderung merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Q.S. Ar-Rum: 21).

Islam juga mengukur kebahagiaan bukan dari segi banyaknya materi(uang) yang dimiliki, tetapi kebahagiaan itu ketika kita mampu menggapai Ridho dari Allah SWT. Seperti dalam Firman-Nya dalam Q.S Al-Baqarah : 207: “ Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk meraih keridhaan Allah. Dan allah Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya,”

Jika saat ini semua aturan di kembalikan kepada Islam, maka akan tercipta rasa aman, tentram dalam keluarga. Seorang suami tidak lagi berfikir bagaimana caranya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya karena negara sudah menyiapkan lapangan pekerjaan untuk rakyatnya, istri tidak akan lagi bingung bagaimana mengatur uang pemberian suami agar cukup sebulan, anak-anak tidak lagi putus sekolah, sehingga kasus bunuh diri dan pembunuhan anggota keluarga berkurang bahkan hilang. Masyarakat tidak akan lagi menjadikan hidupnya ini semata-mata untuk mengumpulkan uang yang banyak tetapi akan ada waktu untuk Allah (ibadah mahdho).  Maka dari itu, marilah kita perjuangkan Islam ini agar bisa diterapkan secara Kaffah/ menyeluruh dalam semua lini kehidupan, sehingga kita mampu menggapai ridho Allah SWT. Wallahua'lam bissawab.[]

Post a Comment

0 Comments