Generasi Pembangkit bukan Penebar Penyakit

Oleh : Way Revolt

Bismillahirrahmanirrahiim
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri “ (TQS. Ar-Ra’du : 11)

Sekolah atau kampus sebagai tempat para pemuda mengenyam pendidikan, juga berperan penting dalam mempersiapkan para pribadi unggul dan berprestasi. Tidak hanya di bidang akademik, tapi juga dalam character bulding dan skill management. Sehingga sekolah maupun kampus bisa menjalankan dua fungsi dalam mentransfer ilmu dan mentransform karakter pada anak didiknya.
Salah satu elemen bangsa yang merupakan sumber kekuatan Negara adalah generasi muda, sehingga kebesaran suatu bangsa dapat dicirikan oleh kualitas generasi mudanya. Generasi yang dilahirkan oleh suatu negara dengan kepribadian unggul dalam konteks memahami keberadaan dirinya sebagai mahluk ciptaan Allah dengan tugas pokok menjalankan ibadah selama hidupnya, akan menciptakan generasi pemimpin yang luar biasa tangguhnya.

Generasi yang berkualitas adalah generasi harapan bangsa yang ditangannyalah masa depan cemerlang dapat direalisasikan. Remaja khususnya pelajar adalah generasi muda pembawa perubahan hakiki, namun sepertinya hal ini belumlah disadari sepenuhnya oleh mereka.  Generasi berkualitas yang kita semua harapkan tentu bukanlah sekedar yang study oriented semata atau cerdas dalam bidang akademik saja, sedangkan disisi lain mereka kurang memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan atau kondisi sekitar, terlebih di kondisi saat ini dimana budaya liberal (kebebasan) dan hedonis telah menjadi nilai di kehidupan remaja atau pelajar yang sedikit demi sedikit telah mengikis keimanan, ketaqwaan mereka menjadi generasi yang labil yang mudah terpengaruh dan terjerumus kepada hal-hal negative.

Pemuda adalah ujung tombak perubahan ke arah positif negeri ini. Di tangan para pemudalah tongkat estafet kepemimpinan di masa depan terayun. Sayangnya, masih banyak pelajar yang belum menyadari pentingnya peran mereka sebagai agen perubahan. Gencarnya budaya liberal yang merusak pribadi pemuda melalui media, berakibat pada tumpulnya produktifitas mereka dalam membangun karakter pribadi unggul dan berprestasi.

Agama sebagai pondasi seseorang, saat ini kian terabaikan fungsinya. Pelajaran agama yang didapat dari lembaga-lembaga pendidikan terkadang hanya dijadikan sebagai ilmu “teori” semata tanpa implementasi dalam kehidupan. Sehingga berbagai permasalahan remaja yang berkaitan dengan prilaku yang buruk tidak dapat dihindarkan, karena agama tidak lagi dijadikan sebagai filter.

Fakta buramnya potret remaja saat ini telah memberikan gambaran real betapa mereka masih “asing” dengan agamanya sendiri (Islam) dan justru lebih mengenal budaya barat yang bebas sebagai life stlye. Dimana, dalam kehidupan ini, fungsi agama adalah sebagai pegangan/pedoman hidup bagi pemeluknya. Sehingga, jika mereka hidup jauh dari agamanya, maka mereka pasti akan mencari pedoman dari luar agamanya. Hal inilah yang seharusnya memunculkan kekhawatiran tentang sosok pemimpin di masa depan. Karena, kejayaan atau kemunduran suatu bangsa bahkan dunia ditentukan oleh kualitas generasinya, dan kualitas generasi masa depan ditentukan oleh kualitas generasi sekarang. Dalam konteks inilah, mewujudkan generasi cemerlang dan berkualitas yang berkepribadian Islam, cerdas, kreatif dan berprestasi adalah suatu kebutuhan yang membutuhkan peran dan kerjasama sinergis dari keluarga, sekolah, masyarakat dan negara.

Dalam Islam, seorang pemuda memiliki peran yang sangat besar dalam upaya penyebaran dakwah Islam. Lihatlah bagaimana peran sahabat Nabi dalam memperjuangkan perkembangan dakwah di masa kenabiaan. Para sahabat sebagian besar berasal dari kaum muda. Semangat pergerakan dimasa Rasulullah saw pun di dukung oleh para pemuda yang luar biasa. Sebut saja Ali bin Abi Thalib, Mush’ab bin Umair, Aisyah vdan masih banyak lagi, yang perannya tidak sedikit, hingga Islam menemui kejaaannya kala itu.
Pertanyaan pentingnya adalah masih adakah pemuda sekualitas para Sahabat di masa kini? Apalagi jika menyaksikan fakta dan fenomena makin buruknya potret keseharian remaja. Mulai dari masalah narkoba, tawuran, free sex, dan lain-lain.

Tentu tanpa menafikan masalah yang melingkupi para pemuda, yang kian hari kian kompleks, kita bisa jawab pertanyaan diatas, dengan jawaban masih ada pemuda sekualitas para Sahabat”. Kenapa kita harus begitu yakin? Sebab, potensi yang dimiliki pemuda masa lalu, masa kini ataupun masa akan datang adalah sama.
“Pemuda itu istimewa”, banyak potensi dan kelebihan dibanding usia selainnya. Setidaknya remaja memiliki kelebihan dalam hal : waktu, fisik, tenaga, usia dan energik. ketika potensi-potensi pemuda itu diabaikan dan hanya dihabiskan untuk aktivitas yang sia-sia bahkan untuk kemaksiatan, maka disitulah letak kesalahannya. Pemuda sebagai generasi penerus harus berubah dan melakukan perubahan dengan memaksimalkan potensi yang mereka miliki dengan menjadi generasi hebat. Bukan generasi pembebek, apalagi generasi penyakitan, seharusnya generasi muda diarahkan untuk lebih dalam mengkaji Islam dan taat kepada Islam secara totalitas, kemudian menjadi pemain utama yang turut melakukan perubahan dengan mendakwahkan Islam ditengah-tengah masyarakat.

Maka kita perlu menyadari bahwa masa depan Islam terletak diatas pundak para pemudanya. Merekalah yang memegang kendali bahtera Islam. Kemanapun mereka mau, maka kesanalah bahtera Islam. Kemanapun mereka mau, maka kesanalah bahtera itu melaju. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kebangkitan Islam di masa mendatang dimanifestasikan oleh pemuda, dengan syarat mereka mempunyai kesadaran dan kecintaan penuh pada agamanya. Jika prasyarat ini gagal ditanamkan pada jiwa pemuda, niscaya tragedi kebangkitan Islam tidak akan pernah berkumandang lagi. Wallahu a'lam.[]

Post a Comment

0 Comments