Bundaku, Antara Ada dan Tiada

Oleh : Amalia Sinta

"Mah, bikin tenda-tendaan yuuk, buat bobo aku cama boneka-bonekakuu." Gadis kecil itu menghampiri mamanya di dapur.

"Bentar ya sayang, mama tanggung lagi nyuci piring. Kamu main sama bonekamu dulu ya."

Sang anak menurut dan berlalu. Mamanya kembali sibuk dengan cucian piringnya. Gurat kecewa di wajah anaknya tak sempat ia lihat.

Maka dengan segera ia lupa pada janji semacam "sebentar lagi mama temani kamu main", dan justru lanjut mencuci baju setelahnya.

♧♧♧

"Bu, bacain buku pesawat ini donk. Aku mau jadi pilot biar bisa nerbangin pesawat kaya giniii." Jagoan cilik itu berseru riang kepada ibunya yang tengah menjemur baju.

"Iya nanti ya Nak, ibu sedang menjemur."

"Oke bu." Suara kecilnya menjawab.

"Sudah kamu tunggu di dalam saja, nanti ibu bacain buku kalo udah selesai."

Si anak terpaksa menunda semangatnya berpetualang lewat buku. Masuk ke rumah dan tak lama menemukan mainan lain dan asyik dibuatnya.

Ibu yang sudah selesai menjemur, melihat anaknya anteng dengan mainan lain. Maka ia pikir tak apa bila ia melanjutkan pekerjaan rumah lainnya.

Ia lupa bahwa semakin lama ia menunda membacakan buku, semakin hilang antusiasme si anak. Padahal ini justru hal yang paling penting.

Bukankah antusiasme dan curiosity ini yang paling sulit dimunculkan?
Kenapa saat anak menunjukkannya, justru kita sendiri yang memadamkannya?

♧♧♧

"Bunda, udahan donk masaknya. Aku mau ditemenin susun lego."

"Tapi bunda belum selesai. Kalo gak masak, nanti kita makan apa?"

"Kok lama sekali sihh? Aku bosen main sendirian" Si kecil mulai merengek.

"Udah ah, kamu berisik aja sih. Sana main sendiri kan ga papa. Mainan kamu kan banyak tuh di sana."

Sendiri.
Main sendiri.
Ini yang paling sering diucapkan oleh bundanya dan paling sering dilakukan si kecil.

Bundanya selalu ada di rumah. Tapi sepanjang hari, jarang sekali benar-benar terlibat bermain bersamanya.

Bunda lebih sering memegang sapu, pel, panci, sikat baju, atau setrika daripada dirinya. Kalaupun bunda tak sibuk dengan semua benda itu, bunda pasti sedang asik dengan handphone nya.

Bunda tersenyum saat menatap layarnya. Tapi merengut saat menatap si kecil.

Bunda tertawa saat bercerita di telepon dengan temannya. Tapi kelihatan cepat bosan bila berbicara dengan si kecil.

♧♧♧

Ah, andai mahluk-mahluk kecil di rumah sudah pandai bicara, yang tak sekedar mengeluarkan suara, tapi mengungkapkan perasaannya.

Bahwa bagi anak balita, "menunggu sebentar" itu bagai satu jam rasanya. Bosan, bingung mau ngapain. Kita yang sudah dewasa pun, gak suka kan disuruh diam menunggu?

Bahwa bagi anak balita, tidak masalah rumah agak berantakan. Ia merasa bundanya tak perlu mengepel berkali-kali. Tak perlu menyetrika baju harian rumah. Tak perlu memasak terlalu banyak jenis makanan. Agar bunda tidak kelelahan dan punya cukup waktu untuk bermain dengannya.

♧♧♧

Taukah kau bunda,
Bahwa bermain itu sangaaat penting bagiku. Aku melatih indra perabaku lewat permainan yang menyentuh berbagai bentuk dan tekstur benda.

Aku belajar mengenali emosi dari permainan yang dimainkan bersama. Seperti aku takut kehilangan saat bermain petak umpet denganmu. Lalu aku merasa senang saat melihatmu muncul.

Aku belajar berkata yang baik dari obrolan denganmu. Tapi apa yang bisa aku tiru jika aku hanya mendengar usiran, apalagi bentakan?

Tolong ajari aku lewat teladanmu bunda. Berhentilah memarahiku jika aku ingin selalu berada di dekatmu. Ajak aku terlibat di pekerjaan rumahmu agar aku tak perlu bermain sendiri.

Tolong jangan abaikan aku, bunda.

Bukankah aku ini lebih penting dari pekerjaan rumah bunda?

Aku sayang bunda
Aku cinta bunda apa adanya
Aku tak perlu ibu yang sempurna
Yang kubutuhkan adalah ibu yang punya banyak waktu main denganku, sabar dengan tingkah polahku, dan bisa mengarahkan kesalahanku tanpa menggerutu..

Aku cinta bunda selamanya..❤

#SharingnyaSinta

*Yang ingin Share, gak perlu izin
*Jangan dicopas ya

Sumber:

Fb: Amalia Sinta

Post a Comment

0 Comments