Bukan Negeri Kucing

Oleh : Annisa Afriliani Hana

Di pojok teras rumah saya, ada seekor kucing betina yang melahirkan seorang anak. Lucu. Setiap hari akhirnya kami memberinya makan, entah tulang-tulang ikan dan ayam sisa makan siang, sampai roti dan kerupuk rajin diberikan oleh anakku untuk induk kucing.

Suatu hari anakku bertanya, "Bunda, bapak kucingnya kemana? Kok setiap hari ada ibunya doank."
Kata saya sambil menahan senyum, "kucing mah bapaknya ga jelas de, bapaknya banyak..."

Kemudian aku jadi terpikirkan sesuatu. Persis di negeri ini. Saat generasi masa kini mengagungkan kehidupan liberal, maka perzinahan merajalela. Tak pandang kelas, tak pandang usia. Anak-anak terlahir tanpa ayah itu sudah biasa. Wanita-wanita yang menikah dalam kondisi hamil juga sudah tak aneh lagi. Bahkan bayi-bayi tak berdosa yang ditemukan tak bernyawa lengkap dengan tali pusatnya di selokan, kardus, rawa-rawa, toilet, dll sungguh menjadi headline harian yang tak pernah sirna. Padahal ini bukan negeri kucing. Bukan negeri binatang.

Atau mungkin lebih hina dari binatang? Bisa jadi. Jika seekor kucing saja begitu protektif menjaga anaknya, siapa berani mendekat dia akan mengeong keras sambil menunjukkan taringnya dan siap mencakar. Bagaimana dengan manusia? Sayangnya manusia seringkali lupa untuk berpikir, lupa untuk memfungsikan nalurinya. Bukankah sering kita dengar seorang ibu yang membunuh bayinya sendiri bahkan sejak dia masih di dalam kandungan? Naudzubillahi min dzalik..... Sungguh ini bukan negeri kucing.

Wanita hamil tak jelas anak dari lelaki yang mana, itu lumrah di sistem yang memuja kebebasan ini. Wanita hamil duluan dengan pacarnya pun tak masalah, sudah banyak dicontohkan, mulai dari orang biasa sampai selebritis, tinggal dinikahi beres! Aib tertutupi. Jika pun ia jujur kepada publik bahwa memang telah hamil duluan dan mengumbar dalih "saya khilaf", maka publik pun akan ramai-ramai memujinya. " Hebat ya, salut...mau mengakui kesalahan...."

Ini bukan negeri kucing, bukan negeri binatang. Sebaliknya ini adalah negeri para manusia yang telah Allah karuniakan akal untuk berpikir. Benar salah, terpuji tercela semestinya disandarkan pada kebenaran sejati yakni Al-Quran dan As-Sunnah. Akal kita lah yang semestinya menuntun ke sana. Berpikir menjadikan kita taat.

Allah melarang mendekati zina, maka pikirkanlah bahwa mendekati zina (pacaran) sudah pasti akan membawa pada kerusakan. Bukan hanya bagi si pelaku, tapi bagi seluruh penduduk negeri. Ingatlah, ini bukan negeri kucing.

“Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, maka rakyat di negeri itu sama saja telah menghalalkan dirinya untuk menerima azab Allah.” [HR. ath-Thabrani, al-Hakim dari Ibnu Abbas, dalam kitab Fathul Kabir, jilid I, hal. 132].

#CatatanAnnisa
#Muhasabah

Post a Comment

0 Comments