Budaya Kekerasan Oleh Usia Belasan

Oleh: Nor Aniyah, S.Pd (Pemerhati Remaja & Pembina Komunitas Remaja Cinta Quran)

Sempat viral kasus kematian Hilarius Christian Even Raharjo (15), siswa kelas I SMA Budi Mulia, tewas menggenaskan setelah dipaksa berduel ala gladiator oleh para seniornya. Di kalangan pelajar di Bogor dikenal istilah “bom-boman,” yaitu pertarungan mirip gladiator yang dilakukan antara dua sekolah yang bertanding di kompetisi basket.

Kita juga masih mengingat bocah SR (8), siswa kelas 2 SD Longkewang, Desa Hegarmanah, Kecamatan Cantayan, Kabupaten Sukabumi, yang diduga dipukul temannya. Padahal SR dikenal sebagai anak yang baik dan periang. Bahkan, salat lima waktu tidak pernah ditinggalkannya.

Banyaknya kasus meninggalnya siswa dari SD hingga SMA akibat kekerasan yang dilakukan teman sebaya menunjukkan bahwa budaya kekerasan sudah menjadi perilaku yang menyasar anak-anak remaja, khususnya usia sekolah. Fenomena ini jelas sangat berbahaya bagi pembentukan karakter generasi bangsa.

Anak sangat mudah meniru apa yang dicontohkan. Namun, bila yang mencontohkan adalah perilaku yang kurang baik. Menimbulkan efek untuk terbiasa melakukan dalam kenyataan.

Tak bisa dipungkiri, lahirnya perilaku kekerasan karena secara sistemik anak-anak terpapar konten kekerasan dari media (gadget, tayangan TV dan sebagainya) dan kadang juga mendapatkan contoh perilaku kekerasan di keluarga dan lingkungan.

Anak-anak belasan kini sudah terbiasa dengan budaya kekerasan. Memukul, menendang, dan menghabisi nyawa lawan. Diajarkan dalam game online, misalnya. Apapun dilakukan untuk mendapatkan kemenangan. Membuat mati rasa belas kasihan. Sehingga membunuh pun terasa biasa. Para pembuat dapat meraup keuntungan. Anak-anak yang jadi korban.

Kecanduan game berefek pada kehidupan nyata. Ingin mencoba mempraktikkan. Mencari teman berduel. Tak peduli lagi dengan teman. Main pukul dan tendang tanpa ampun.

Dari segi sosial, keinginan untuk berinteraksi pun berkurang. Lebih betah berjam-jam bermain game dari pada main atau bergaul dengan teman. Kurang peduli orang lain. Akhirnya, cenderung menutup diri dari lingkungan sosial. Ini membahayakan perkembangan mereka.

Dari segi kecerdasan pun menurun. Lebih suka bersantai. Malas beraktivitas. Malas belajar. Bahkan malas untuk berpikir. Maka, tak jarang didapati mereka memiliki masalah prestasi yang kurang memuaskan dan daya tangkap cukup sulit. Akibat kebanyakan hanya memikirkan game. Sedangkan satu halaman Al-Qur'an saja sudah bosan. Jauh dari pikiran.

Sesuatu yang sesuai porsi sebenarnya ada baiknya. Boleh saja sesekali main game. Tapi, sekadarnya untuk me-refresh kejenuhan. Namun, kalau sampai keterusan dan tidak bisa berhenti, maka inilah yang buruk. Dan dilihat lagi, jenis permainannya harus yang positif dan non-kekerasan. Agar tidak merusak pemikiran.

Memang banyak masalah dalam media dan internet saat ini. Situs-situs yang berbahaya penuh berjejalan. Pornografi dan kekerasan di mana-mana. Kenapa tidak dapat dicegah. Terkesan dibiarkan. Tidak memedulikan dampaknya terhadap kerusakan generasi.

Kadang kekerasan juga dicontohkan oleh orang di sekeliling anak. Orang tua yang sering cek-cok. Kalau lingkungan keluarga tak mampu menjaga keamanan anak. Dari berbagai keburukan lingkungan. Pengaruh teman juga berperan besar. Karena di rumah sangat sebentar. Lebih banyak waktu dihabiskan di lingkungan luar. Maka, makin lengkaplah penanaman unsur kebolehan akan perilaku kekerasan tertanam kuat dalam alam bawah sadar anak. Yang akan muncul kepermukaan, menjadi tindakan nyata dalam kesehariannya.

Inilah gambaran masyarakat sekuler yang melanggengkan kekerasan dan mengambil keuntungan dari perilaku kekerasan. Tak dipungkiri, begitu besarnya omset dari bidang perdagangan ini.

Terlebih, negara pun nampaknya masih absen dalam menghentikan kekerasan sistemik karena tidak tegasnya kebijakan negara terkait konten kekerasan di media dan menghentikan kekerasan dan premanisme di masyarakat.

Membatasi jam menonton atau main game. Mengingatkan waktu shalat dan mengajak untuk beraktivitas yang sehat. Agar bisa menikmati indahnya dunia di kehidupan nyata. Waktu, ada untuk melakukan amalan yang shaleh. Karena, kita akan ditanya untuk apa waktu itu dihabiskan. Ini kiranya, dapat dilakukan oleh para anggota keluarga dan masyarakat.

Dalam Islam, budaya kekerasan itu dilarang dan tidak akan dibiarkan tumbuh. Negara pun memiliki kewajiban untuk mengontrol media agar bebas dari unsur kekerasan dan merusak, seperti pornografi dan pornoaksi. Hanya informasi yang meningkatkan keilmuan serta ketakwaan yang boleh diizinkan untuk disebarkan. Sehingga kemajuan teknologi akan meningkatkan keimanan dan ketakwaan generasi.

Memang perlu sinergi berbagai lapisan. Baik bidang pendidikan, sosial, ekonomi, media, dan teknologi. Agar masyarakat bisa tersejahterakan. Generasi penerus pun tumbuh sebagai insan yang cerdas dan punya integritas terhindar dari budaya kekerasan. Maka, masyarakat, keluarga dan negara harus saling bahu-membahu memastikan berjalannya tatanan aturan yang benar, sesuai syariah dalam sistem Islam.[]

*)

Post a Comment

0 Comments