Sunday, November 19, 2017

Bercadar Karena Trend?

Oleh : Annisa Afriliani Hana

Dulu saya bercadar. Seperti di foto ini. Ini saya 9 tahun silam. Tapi saya bercadar bukan karena saya menganggapnya itu sebuah kewajiban bagi muslimah. Karena yang saya pahami, hukum bercadar mubah saja alias boleh. Mubah artinya pilihan, bisa dipakai bisa tidak. Saya mamahami hadist Rasulullah saw tentang aurat wanita, bahwa wajah dan telapak tangan bukan termasuk aurat.

Berikut hadistnya:
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menegur Asma binti Abu Bakar Radhiyallahu anhuma ketika beliau datang ke rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengenakan busana yang agak tipis. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memalingkan mukanya sambil berkata :

Wahai Asma ! Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh nampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan).[HR. Abu Dâwud, no. 4104 dan al-Baihaqi, no. 3218. Hadist ini di shahihkan oleh syaikh al-Albâni rahimahullah]

Dengan sangat jelas, Rasul saw mengatakan bahwa wanita yang sudah baligh wajib menutup seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Bahwa wajah bukan termasuk aurat yang harus ditutup juga terdapat dalam hadist lainnya, yakni:

Dari ’Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ’anhu ia berkata : ”Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam membonceng Al-Fadhl bin ’Abbas di belakang beliau ketika haji, kemudian datang seorang wanita dari Khats’am yang meminta fatwa kepada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam. Maka Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam memalingkan kepala Al-Fadhl agar tidak melihat kepada wanita tersebut. Maka paman beliau – Al-’Abbas – berkata kepada beliau : ”Engkau memalingkan kepala anak paman engkau, wahai Rasululah ?”. Maka beliau menjawab : ”Aku melihat seorang pemuda dan seorang pemudi, maka aku tidak merasa aman dari syaithan terhadap mereka berdua.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Hadist tersebut mengisyaratkan bahwa wajah wanita Khats'am tersebut tidak tertutup, maka Rasul memerintahkan kepada Fadhl untuk memalingkan pandangannya dari menatap wajah wanita tersebut. Bukan menyuruh wanita tersebut menutup wajahnya. Artinya ada kewajiban bagi seorang lelaki apabila bertemu dengan wanita untuk ghadhul bashar (menundukkan pandangan) agar lebih terjaga kehormatan dan terlindungi dari bangkitnya syahwat.
Kedua hadist tersebut jelas menunjukkan bahwa tidak ada kewajiban bagi muslimah untuk menutup wajahnya. Dan pemahaman itulah yang saya pegang sampai saat ini.

Lalu kenapa dulu saya bercadar? Dengan bercadar saya merasa nyaman, terlindungi dari tatapan para lelaki. Intinya saya menemukan kenyamanan saat menakainya. Meski mubah, saya tidak mau mempermainkannya dengan mudah melepas pakai, kecuali dalam kondisi tertentu yang saya harus membukanya. Contohnya ketika saya thawaf di Baitullah saya membuka cadar saya sebagaimana seharusnya. Karena thawaf tidak boleh menutup wajah. Begitupun pada saat shalat, saya membuka cadar saya. Jika saja itu sebuah kewajiban, tentu saya berdosa membukanya sebab ada banyak lelaki asing di sekitar saya yang melihat.

Sekali lagi, meski saya berpijak pada hukum syara yang memubahkan cadar, saya tetap mempertahankan agar bercadar syari, bukan cadar gaul ala remaja zaman now. Saya lebih memilih warna-warna gelap dan tidak bermotif saat itu. Jadi cadarnya cadar beneran. Bukan cadar trendi.

Yup, setuju gak sih kalau cadar kayaknya sekarang lagi trend? 9 tahun yang lalu rasanya saya susah banget nyari gamis set cadar. Soalnya jarang yang jual. Sampe-sampe hampir semua cadar saya ngejahit sendiri di tukang jahit langganan waktu di Jatinangor. Beda banget sama sekarang, hampir tiap toko, baik offline maupun online jual gamis set cadar. Suka mupenggg pengen pake lagi kaya dulu...eehh....

Saking ngetrennya tuh cadar, sampe-sampe sekarang udah gak aneh ngeliat akhwat yang cadaran. Terutama anak-anak muda. Saya pernah lagi ke mall melihat sekelompok anak remaja bercadar semua, tapi haha hihi sambil nongkrong2 gitu. Terus sering juga lihat akhwat bercadar tapi berfungsi sebagai masker aja kalau naik motor, biar gak kena debu katanya. Eh ada juga yang bercadar tapi gamisnya rame motif plus warnanya mencrang banget.

Akhirnya saya merasa cadar bener-bener kehilangan esensinya sekarang. Kayak cuma trend aja. Bener ga sih? Kalau saya sih mikirnya, kalau memang niat mau bercadar yah usahakan bercadar yang syari, bukan sekadar buat pencitraan saja. Apalagi sekadar ikutan trend. Ingatlah, setiap muslim terikat dengan hukum syara dalam setiap perbuatannya.

#CatatanAnnisa
#Muhasabah


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

1 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!