Monday, November 20, 2017

Balada Tiang Listrik Sampai Tiang Agama

Oleh : Alga Biru

Tiang Listrik

Brak! Seorang pemuda bersorak, bukan main kegirangan. Dia baru saja menabrakkan mobil virtual ke tiang listrik. Sama virtualnya dengan tiang listrik yang dia hantam. Sepekan ini, tiang listrik jadi viral gara-gara accident mengganaskan Setya Novanto (Setnov) yang mengakibatkan benjol bakpao di kepala. Saking bahaya, Setnov digadang-gadang akan dirujuk ke Singapura, untuk mencegah geger otak. Apalagi kalau amnesia, bisa berabe kita! Indonesia gegar. Kalau nggak kreaktif, bukan orang Indonesia namanya. Aneka meme, sandiwara dan yang paling seru, tentu saja game ‘tiang listrik’ yang bisa mengurangi sakit kepala.

Korupsi, salah satu tantangan terbesar bangsa kita. Anda baru tahu jeleknya korupsi kalau Anda pintar berhitung. Katakanlah, jika korupsi terjadi di sektor kehutanan. Tata kelola hutan yang memihak kepada pelaku bisnis, misalnya. Pembakaran hutan untuk membuka lahan, sudah rahasia umum kita ketahui bersama dalam nuansa korupsi struktural Indonesia. Pejabat korup bersiap memfasilitasi rakyak dengan mimpi buruk.   Lihat dampaknya! Pada akhir Oktober 2015, hampir seperenam (43 juta) dari 258 juta penduduk Indonesia diperkirakan terkena dampak asap akibat kebakaran hutan di Sumatera Selatan. Ongkos penderitaan dan kematian ini  bisa lebih parah dari berita penyalahgunaan obat alias narkotika. Belum termasuk biaya restorasi dua juta hectar lahan gambut yang diperkirakan menyentuh dana Rp25 triliun dalam jangka waktu Panjang (Kompas, 2016).

Kembali ke tiang listrik. Drama Setnov bergenre komedi ini mengalahkan  Antasari Azhar yang  berlangsung beberapa tahun silam. Yang ditakutkan dari genre komedi ini, kita terbiasa menontoni dan hilangnya nalar betapa horor tindakan korupsi di negara yang kita cintai. Sementara drama dimainkan, tiga BUMN strategis lepas kandang. Gosip naiknya listrik dan kebijakan mengerikan lainnya mewarnai lini masa. Jika dirunut-runut, kebijakan nyeleneh itu tak jauh-jauh dari mental korup pejabat negara.

Andai Setya Novanto hidup satu zaman dengan Pangeran Dipenogoro, dia pasti sudah ditimpuk pakai selop. Sketsa Pengeran Dipenogoro menciduk  lalu menampar Danurejo IV  selaku Patih Yogya yang korup, mengajarkan kita betapa tua usia korupsi di negeri ini. Korupsi itu bahaya, lagi-lagi bahaya. Perkara korupsi bahkan jadi item meletusnya Perang Jawa. Plus ca change, plus c’est la meme chose, demikian bunyi petuah Prancis. Yang secara tersirat artinya, semakin berubah semakin tetap sama. Bye bye revolusi mental. Setelah ‘kerja kerja kerja’, rezim ini menggelinding ‘ngutang ngutang ngutang’ di tahun ketiga pemerintahan. Jangan sampai lupa, kita tentu saja perlu membayar hutang (plus bunga) di bawah jargon ‘jual jual jual’ aset negara. Sebuah langkah fenomenal, yang belum pernah dilakukan siapa pun.
.
.
.

Tiang Agama

Agama adalah nasihat. Jika bukan pakai agama, apa jadinya hidup kita. Walaupun Rina Nose mengilhami banyak orang, bahwa hidup teratur dan disiplin ala Jepang, tidak perlu pakai agama. Sampai-sampai ada selorohan, departemen yang paling banyak korupsinya malah departemen yang mengurusi agama. Dalam agama kita diberitahu, Shalat sebagai tiang agama. Shalat mencegah perilaku keji dan mungkar. Pertanyaannya, jika ada orang shalat tapi masih korupsi, itu bagaimana?  Disini kita harus mengerti, agama tidak pakai logika, namun pakailah otak ini sebaik-baiknya. Masih dari teks agama, dalam Al-Quran surah Al-Mukminum tercantum puja-puji tentang ‘beruntunglah orang beriman itu. Orang yang khusyu dalam sholatnya’. Clear ya. Sholat bukan sembarang sholat, melainkan sholat yang ditegakkan sampai ia khusyu. Seberapa khusyu, tidak ada yang tahu. Tapi orang yang khusyu dalam sholat, pasti mendapat kemujaraban shalat, yaitu terjauh dari keji dan mungkar.

Tersebab kita tidak tahu seberapa khusyu sholatnya seseorang, maka Islam tidak mencukupkan umatnya melakukan preventif dari ranah ritual alias modal sholat tok. Ada reformasi struktural, yang mau tidak mau, diubah dari tataran paling mendasar. Langkah paling radikal, mengubah dasar negara kalau memang mau Islam beneran. Pastinya banyak tidak setuju, atau belum sampai sana nalar kita.  Masih nyaman. Maklum, sholat kita juga sering ketinggalan, belum termasuk khusyu tidaknya . Namun sampai kapan kita membohongi diri, betapa jahili kehidupan kita selama ini. Penerapan gaji insentif di luar gaji pokok, terbiasa dengan riswah alias suap, mark up anggaran, PNS yang anti-pecatable (alias susah dipecat atau diberhentikan) dan turunan lainnya. Itu masih seputar lingkaran korupsi loh ya. Belum sektor macem-macem yang saling terkait satu sama lain. Islam itu mengatur dari bangun tidur sampai bangun negara. Menjaga tiang listrik sampai tiang agama. Kalau dalam tataran berislam, masih seperti prasmanan alias pilih-pilih, wajar kalau masyarakat kita lebih sering sakaw dari sehatnya. Salah satu gejala sakaw, drama Setnov dan sang tiang listrik yang jadi tumbal. Sayangnya ini bukan game virtual, melainkan kenyataan. Wallahu’alam []


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!