Anak yang Tak Pernah Kenal Kata Gengsi

RemajaIslamHebat.Com - Bismillah. Suatu hari, salah seorang anak kami mengadukan tas nya sobek. Minta dibelikan yang baru. Saya perhatikan sejenak, sobeknya masih sedikit nak. Masih bisa dijahit ini. Terus selama dijahit pakai tas apa donk, mi? Pakai 2 tas mu yang lain masih ada. Tas hadiah pemberian tantenya. Sambil agak cemberut, kemudian bertanya ke saya. Boleh ga aku dibelikan tas?

Belum bisa. Tas nya masih ada 3, dan kondisi masih cukup bagus semua. Kecuali tas mu itu mau dihibahkan kepada orang lain. Dan beli tas baru, dari sebagian uang saku mu gimana?

Anak saya saat itu terdiam. Mungkin masih mencerna mengapa begitu sulit umi nya membelikan tas baru.

Dihari yang lain, saat perjalanan keluar kota akan kemping sekeluarga, AC mobil kami mati, rusak. Otomatis selama perjalanan kami merasa kepanasan. Awalnya anak-anak mengeluh, kenapa AC mobil bisa mati. Saya bilang, kepada mereka. Bertahun-tahun kita pakai mobil ini dengan kondisi ber AC baik. Sesekali ada keadaan rusak begini, nikmatilah perjalanannya ya.

Karena kami pasangan, yang bukan berpenghasilan tetap, dan tidak gemar menabung. Seringkali disampaikan ke anak-anak. Nak, esok hari bisa saja kehidupan kita berubah drastis. Karena penghasilan orang tua kalian ini tidak tetap. Jadi bersiap-siaplah jika mungkin ada kehidupan tidak nyaman yang akan kalian lalui. Walaupun pada kenyataannya, hidup kami juga biasa saja sekarang ini, alhamdulillah.

Berkata hal ini buat kami menjadi penting, agar anak-anak paham mungkin saja hidup kita berubah dengan tiba-tiba. Hingga tidak merasa perlu menjadi momok yang mengerikan seolah-olah hidup selalu harus terus berada dalam kenyamanan.

Sesekali menikmati kehidupan biasa, dan menikmati situasi tidak enak sesungguhnya membuat kita akan lebih banyak berfikir dan mampu beradaptasi. Bahwa fasilitas yang dinikmati dalam hidup sifatnya tidak selalu melekat. Dan hanya sementara. Ya sungguh karena fana nya dunia itulah, hingga persoalan bagaimana gaya hidup bukan hal yang terlalu penting untuk selalu ingin kita rasakan.

Jadi ga perlu menjadi orang kagetan, merasa risih, gelisah ketika mendapati nasi dingin yang harus dimakan, wc yang kita temui diperjalanan tidak sebersih dirumah, atau udara panas terik yang datang serta kehujanan basah kuyup ditengah hutan saat kemping.

Tetap bisa menikmati hidup, makan dengan penuh syukur, serta hati gembira walau kondisi dimanapun.

Anak-anak terlahir memang sebelumnya ga pernah kenal istilah gengsi. Ga mengerti malu, rendah diri akan apa yang seharusnya ia pakai, atau yang ia kenakan untuk suatu hal yang nilainya sederhana. Sampai orang dewasa, semisal orang tua yang sibuk mengenalkan, menyiapkan seolah-olah anaknya harus terus hidup bak putri dan pangeran kerajaan secara terus menerus.

Padahal kehidupan esok hari yang dijalani bisa saja berubah bukan? Belum tentu akan sama dengan apa yang dinikmati saat orang tua masih bersamanya.

Andai saja orang tua mau mengerti, bahwa kebutuhan hidup anak itu begitu sederhana, mudah dan begitu ringan dalam menikmatinya.

Maka mungkin akan jarang sekali orang tua yang gelisah berangkat kerja pagi sebelum subuh, pulang tengah malam demi atas nama mencukupi kebutuhan keluarga.

Karena jika hanya persoalan kebutuhan fisik saja yang diberikan, bisa jadi memang ga akan pernah cukup untuk mengikuti standar hidup orang tua. Beda jika ortu yang berusaha sendiri mendidik anaknya.

Jika kemudian hari, kita melihat ada anak yang tidak bergairah dalam menjalani hidupnya. Ingatlah betul-betul siapa yang pada awalnya berusaha memberikan segala kenyamanan dan menjadi sulit anak menerima keadaan yang sedang dijalani.

Saran yang bisa dicoba, sesekali membiarkan anak menikmati perjalanan mendadak tanpa rencana akan menginap dimana, atau pergi ke tempat yang berbeda dari biasanya ada dirumah. Belajar menurunkan standar hidup mungkin salah satu sarana efektif mendidik anak akan artinya syukur tanpa perlu orang tua banyak bicara.

Hingga kemudian petualangan hidup yang dirasakan oleh anak akan semakin berwarna dan memberikan pengalaman membahagiakan.

Seperti foto ini, dimanapun anak-anak tetap bisa enjoy menikmati keseruan fasilitas penginapan yang sederhana sekalipun.

Nurliani
-ketika belajar ga selalu didalam kelas

Sumber:

Fb: Nurliani Ummu Nashifa-Zhafira

Post a Comment

0 Comments