Yang Muda yang Punya Peran

Surabaya, Press - Remaja adalah pemuda agen perubahan. Smart with Islam community mendobrak peran remaja Surabaya hari ini, minggu 8 Oktober 2017 melalui acara " Temu Sahabat Smart with Islam" dengan mengangkat tema yg sangat menarik, "Yang muda yang punya peran". Acara ini diadakan di Majelis Mie, Jl. Citarung no.02 Darmo Wonokromo, Surabaya.

Nisa, dari SMA HSG Khairu Ummah selaku MC menyapa peserta dg penuh semangat. Yel-yel yg diserukan, semakin membakar semangat remaja Surabaya yg hadir. "Remaja Smart with Islam!" seru Nisa pada peserta. "Remaja keren, bersemangat, mengguncang dunia, Allahu Akbar," jawab peserta dengan penuh semangat.

Mbak Siti Zulaiha M.Pd menyampaikan sambutannya di depan Remaja dari berbagai SMP dan SMA Surabaya, diantaranya SMPN 1, 12, 21, 30 Surabaya, SMAN 9, 15, 16 Surabaya, SMKN 1 Surabaya dan masih banyak yang lainnya. Kemudian mbak Zulaikha mengenalkan komunitas SWI sebagai komunitas remaja yg smart dengan Islam dan Islam membuat remaja menjadi smart.

Acara temu SWI ini semakin hidup dg puisi yg dibacakan oleh shabat SWI, Izzah dr SMA Mujahidin Surabaya.

Dipandu oleh Hamida, dari SMA HSG Khairu Ummah sebagai MC, dan Ustadzah Tawang selaku pembicara dalam acara Temu SWI  ini menyampaikan materinya. "Pemuda memiliki potensi yang luar biasa dengan kekuatan fisik dan intelektualitasnya yang tinggi," jelas beliau membuka materinya.

Beliau melanjutkan, sayang saat ini banyak remaja yang telah jatuh pada kubangan kemaksiatan, seperti free sex, narkoba, dll. Mengapa hal itu terjadi? Beliau menggambarkan bahwa remaja saat ini sedang dibidik oleh Barat untuk menanamkan gaya hidup hedonisme, permisivisme pada remaja dengan tujuan globalisasi. Maka tidak heran, jika budaya K-pop, baper-baperan, pacaran, bahkan hamil di luar nikah sudah mewarnai kehidupan para remaja.

"Kenapa problem ini terjadi? Karena Islam tidak mengatur kehidupan," papar Ustadzah Tawang.

Koordinator Muslimah Media Center ini mengurai faktor yang menyebabkan rusaknya kehidupan remaja data ini, yaitu ketakwaan individu yang lemah dan lingkungan yang rusak.

Beliau mengajak peserta temu sahabat SWI flashback melihat pemuda di zaman Islam yang mereka hidup di bawah naungan Islam. Pada usia yang masih belia (18 tahun), Imam Syafi'i telah menjadi mujtahid madzhab dan panglima perang.

"Hal ini tentu karena didukung oleh metode pendidikan Islam, dan untuinput mewujudkan hal tersebut butuh dakwah Islam," tambah beliau.

Di akhir acara, sebuah narasi penaklukan Konstantinopel oleh sahabat SWI semakin menyadarkan remaja SWI bahwa untuk memenagkan Islam perjuangan yang keras dan keimanan yang tinggi.[Muslimah Pembela Islam]

Post a Comment

0 Comments