Wanita Ibarat Permen

RemajaIslamHebat.Com - Langit tanpa penyangga terlihat biru membentang. Awan-awan putih saling berarakan dengan berbagai karakter tak beraturannya. Semilir angin memberi sapuan kesejukan di siang yang panas itu.

Ada 2 sosok pemuda berpakaian rapi duduk di salah satu bangku taman. Satu pemuda berambut ikal, tampak manis dengan kacamata yang nangkring di atas hidungnya. Arya Namanya.

Teman duduknya lebih gemuk dari dia  tapi terlihat gaul dari dandanannya. Celana pensil dipadukan kemeja kotak-kotak yang menjuntai keluar. Sebut saja namanya Dany.

"Bro, loe liat tu cewek-cewek itu!" Dany menepuk pundak Arya sambil menunjuk 3 orang muslimah yang berjalan di sebrang mereka.

"Kenapa?" tanya Arya menatap mereka sebentar lalu kembali pada tasnya. Ia sedang mencari sesuatu di tasnya. Entah apa.

"Mereka tu kan masih mahasiswa ya? Ngapain juga pakai baju kayak emak-emak gitu? Krudungnya gedhe lagi? Mana ada cowok yang mau sama mereka?"

"Nah, ketemu." Arya girang permen yang  terselip di tasnya bisa ia temukan.

"Eh, loe denger gue nggak sih?"

"Denger." Arya membuka satu bungkus permen kemudian ia lempar ke tanah bersama satu permen yang masih terbungkus.

"Gile loe bro. Permen enak kayak gitu loe buang seenaknya." Dany mengambil permen yang masih terbungkus. Ia membukanya lalu mengulumnya.

"Kenapa loe nggak ngambil permen yang udah gue buka? Kan enak tu tinggal hap. Nggak susah-susah lagi loe membuknya." Tatap Arya penuh tanya.

"Eh, jijik kali. Hanya orang yang nggak waras yang mau ngambil permen kotor kayak itu. Kalau ada bungkusnya kan masih terjamin tu dalemnya. Bersih dan higienis."

"Itu loe tahu. Loe waras mangkannya memilih yang terbungkus. Begitulah Islam. Islam menjaga kesucian para wanitanya dengan mewajibkan mereka menutup aurotnya. Hanya laki-laki waras yang berhak mendapatkan mereka."

Analogi wanita ibarat permen membuat Dany terbelalak. Selama ini ia mengganggap para hijaber itu terkungkung dengan pakaiannya. Ternyata, ia salah. Ia baru sadar bahwa pakaian itulah yang menjaga mereka.

"Udah yuk! Kita masih ada kelas." Arya beranjak dari tempat duduknya dan berlalu meninggalkan Dany yamg masih menjelajahi alam pikirannya.

"Hanya laki-laki waras yang berhak mendapatkan mereka." Satu kalimat ini membuat ia terus berfikir. Ia laki-laki waras atau bukan.

#SarapanKata edisi esok "Pangeran Berkuda Mesin"

#KMOIndonesia
#JumpaPenulis

Sumber:

Fb: Choirin Fitri

Post a Comment

0 Comments