Viral yang Tidak Penting

Ditulis oleh Fissilmi Hamida (@fissilmihamida)

Ini fotoku, bersama mas pengamen di Royal Mile, Edinburgh, Skotlandia.

Saat umurku 9 tahun, aku bermimpi untuk suatu saat nanti bisa berfoto langsung dengan mas-mas Skotlandia yang memakai rok (Traditional Scottish Kilt) setelah aku melihat foto-foto budaya Skotlandia di buku Atlas yang ditunjukkan oleh Ibuku saat aku bertanya luar negeri itu seperti apa. Maka ketika pada akhirnya aku berhasil menginjakkan kakiku di Skotlandia, aku histeris, aku menangis, aku kegirangan, aku terlampau senang dan tak melewatkan kesempatan ini.

"The 9-years-old you must be really happy for her dream comes true. Want to take more pictures?" kata si mas pengamen itu.

Eh, tapi bukan ini sih, yang mau aku ceritakan di tulisan kali ini. Tapi tentang viral tidak penting yang seringkali muncul di tengah-tengah kita. Prolog saja sih ini karena berkaitan.
_______________________

Well, di negeri kita tercinta, seringkali kita temui viral tidak penting. Bahkan yang sangat tidak penting. Pengamen ini misalnya. Jika di Indonesia, mungkin dia akan mendadak viral sebagai pengamen ganteng dengan hashtag #KamiNaksir bertebaran di berbagai social media, seperti yg pernah terjadi saat tragedy bom Jakarta. Ingat, kan? Itu loh, ada foto pak polisi yang pakai pistol, dengan pose yahud ala ala petugas FBI yang di film-film. Langsung saat itu dunia maya dipenuhi hastag #kaminaksir dan banyak sekali pengguna social media wanita mendadak centil. Atau ingat Pak Hamdan Zoelva? Si ketua MK yang saat itu mendadak booming karena pesona (fisik)nya yang dianggap begitu charming mirip oppa Korea? Kemudian saat itu media-media beramai-ramai membuat headline : "Hamdan Zoelva, Idola Baru Kaum Hawa". Duh, Mak. Padahal ketimbang mem-viralkan fisiknya, banyak sekali lho padahal prestasi dan pencapaian Pak Hamdan yang jauh lebih layak untuk diviralkan.

Dan yang terbaru, apaan sih itu, #AksiBelaIslan ? Apaan coba. Cuma gara-gara Mbak artis Chelsea Islan dikabarkan dekat sama Mas Bastian Coboy Junior? Udah viralnya nggak penting banget, eh ditambah bullying-bullying kurang ajar pada fisik Mas Bastian. Kalaupun benar mereka ada hubungan, lha terus urusanmu opo? Kowe ki sopo? Kamu tu sopone Mbak Islan? kok ngatur-ngatur Mbak Islan kudu sama siapa. Senenge kok sok memiliki hidup orang lain Satu kata buat kamu yang menciptakan dan yang latah ikut-ikutan viral nggak penting ini : #mbelgedes!
______________________

Nah, kenapa di Inggris tidak?

Alasan nyelenehnya adalah karena disini orang cakep mirip artis di TV atau yang cakepnya sesuai standar cakep ala kaum pemuja fisik sempurna ada dimana-mana. Polisi polisi yang suka patroli keliling naik kuda itu, hmmmm.... Artis banget wajahnya. Supir bus yang mirip cover boy, maintenance team di flatku yang atletis dan model banget, petugas kasir yang mirip Charlie Puth, bahkan homeless saja cakep.

Alasan seriusnya, karena masyarakat dan media disini tidak mudah untuk menjadikan hal-hal yang tidak penting menjadi viral seperti selebgram entahlah yang dianggap mirip artis Korea yang mendadak seleb lah, polisi ganteng lah, dua orang yang lipsing lagu dangdut dan mendadak ngartis lah, kasir minimarket cantik, video remaja putri yang termehek-mehek nangis curhat saat putus dengan pacarnya dengan hastag #relationshipgoal nya yang kemudian jadi selebgram aw aw lah, dan banyak sekali hal hal tidak penting yang diviralkan. Parahnya, hal-hal yang kemudian viral ini seringkali viralnya fokus pada embel-embel CANTIK atau GANTENG, bukan pada prestasi, pencapaian, atau hal baik yang dilakukan, yang sebetulnya tidak membawa kemanfaatan apapun. Like seriously?

Alasan lainnya adalah orang Inggris tidak suka dipuji karena fisiknya, melainkan lebih suka dipuji karena prestasi, pencapaian, atau perbuatan baiknya. Bahkan, to some extents, ada beberapa keadaan dimana memuji fisik atau appearance bisa dianggap sebagai hal kurang ajar, loh. Awalnya aku sendiri tidak tahu budaya ini, tapi kemudian aku mengetahuinya dari teman-temanku yang British tulen dan dari beberapa kejadian yang aku alami (meski nggak semua orang Inggris begini). Ini beberapa ceritanya.
________________________

Saat itu di common room Dean's Court, saat akan mengerjakan presentasi untuk mata kuliah Research Method for TESOL.

"Isabelle, I miss you," kata salah satu temanku (laki-laki) pada Isabelle. Tak disangka, Isabelle marah. Mimik mukanya yang ceria langsung berubah. Ia bilang temanku kurang ajar. Temanku kebingungan, sebab ia sama sekali tak ada niat kurang ajar. Ia begitu karena memang sudah semingguan kami semua tidak saling bertemu. Di tengah kebingungan, James, si British tulen menjelaskan bahwan memang dalam budayanya, apa yang dilakukan temanku itu termasuk hal kurang ajar. Apalagi Isabelle adalah seorang wanita menikah sehingga ucapannya itu dianggap berarti "aku ingin menidurimu". Woah! Kita semua yang disitu kaget dong. Termasuk temanku yang akhirnya jadi berdebat sendiri dengan Isabelle : "Ih, GR! Siapa juga yang mau nidurin kamu!" Bahkan menurut James, ketika seorang lelaki memuji wanita yang sudah menikah dengan pujian semacam : "you are gorgeous", juga akan dianggap kurang ajar karena itu dianggap berarti "aku ingin menidurimu". Duh. Semakin bengong dan ndomblong dong kita.
__________________

Winston Theatre University of Bristol. Saat akan menonton Sweeney Todd yang dimainkan oleh anak-anak drama kampusku.

Semua mahasiswa yang saat itu datang memang diwajibkan 'berdandan' ala ala pesta Inggris raya. Laki-laki berjas lengkap, perempuan memakai gaun. Mau tidak mau aku ikut berdandan agak agak cetar membahana dong. Memakai gaun dengan rok mekruk alias mengembang warna kombinasi hitam putih (untung nemu gaun cantik mekruk ini di charity shop dengan harga sangat murah :p #inipentingbiargakdikiraborju haha) , dengan pashmina hitam yang aku modifikasi seperti rambut yang disanggul. Ditambah hiasan anting anting dan mahkota, dan high hells (walaupun saat menyusuri terjalnya tanjakan Park Street, aku pakai sepatu trepes dan high heelsnya aku masukin plastik. Baru dipakai pas sampai di gedung teater). Wis, gak usah dibayangke. Ribet pokoke .

Tiba-tiba saat drama selesai dan semua pemain berdiri di panggung, ada seorang mahasiswa dengan jas abu abu dan dasi kupu-kupu berpindah tempat di sebelahku. Basa basi bertanya jurusan apa dan fakultas apa, lalu tiba-tiba ia bilang : "You know what, you look gorgeous!". Entah mengapa, spontan aku jawab : "Thanks, but I am married." Mendengar jawabanku, wajah lelaki itu langsung merah padam menahan malu. Ia kemudian terus menerus meminta maaf padaku. Meminta maaf atas perkataannya, meminta maaf atas ketidak tahuannya bahwa aku seorang wanita menikah, menjelaskan bahwa ia tak punya maksud buruk apa-apa, menjelaskan agar ia tak dianggap sebagai sosok kurang ajar karena pujiannya. Barulah lelaki berambut coklat itu tenang setelah aku mengatakan : "It's okay. I am a TESOL student and I learn pragmatics. So I know it." Kok iso ya mase sampe ketakutan gitu? (walaupun tetep ada juga orang-orang yang centil, sih disana)

Lain lagi dengan Hannah, mahasiswa part-time di kelasku, seorang British tulen. Ia bekerja sebagai pengajar di Language Centre kampusku. Saat itu aku ke kantornya di student union karena aku akan mengerjakan presentasi kelompok bersamanya. Saat aku datang, beberapa students tengah berpamitan padanya. Salah satu mahasiswa memuji rambut baru Hannah, mengatakan rambutnya indah dan Hannah terlihat sangat cantik dengan rambut itu. Dan taraaa..... Sebagian orang mungkin akan bilang terimakasih sambil menunduk malu-malu, mata berkedip kedip, dan sambil memilin-milin rambutnya ketika dipuji begitu.Tapi Ia justru langsung naik pitam. Ia menghela nafas tanda kesal sambil menjelaskan bahwa ia tidak menyukai pujian akan rambutnya. Persis seperti James, ia kembali mengingatkan agar tak sembarangan memuji fisik orang. Jika ingin memuji, pujilah prestasinya, pujilah pencapaiannya.

[#note : Duh! Berarti nggak boleh muji dong, disana? Terus gimana? Tapi kok di TV gini, tapi kok di film gitu"? Hohoho no need to worry, Love. Nggak serta merta kayak gitu, kok. karena tentu saja konteks juga mempengaruhi. Perlu dilihat situasinya, dekat atau tidak hubungannya, pemilihan katanya dsb. Seperti halnya dengan teman akrab kita, tak akan jadi masalah ketika kita bilang 'I miss you', atau bahkan 'beb' sekalipun :D Gorgeous untuk memuji fisik, bisa jadi dianggap kurang ajar jika yang memuji dan yang dipuji adalah lawan jenis dan bukan orang yang akrab, atau bahkan strangers. Tapi gorgeous untuk memuji performance, misalnya. Tentu tidak masalah dan malah bagus sekali. Meski memang harus lebih berhati-hati agar tidak sembarangan memuji.
______________________

Semoga saja masyarakat dan media kita segera move on dari mengangkat hal-hal yang tidak penting ini menjadi viral. Masih banyak hal yang memang jauh lebih pantas untuk diviralkan, seperti seseorang yg rela menjadi TKI demi agar bisa kuliah hingga akhirnya menjadi Dosen, mantan TKI di Hongkong yang ketika pulang, dia sudah menambahkan title sarjana dari salah satu universitas di Hongkong dengan gelar cumlaude dan pulang membangun tempat asalnya, perjuangan pemuda penjual gorengan menjadi sarjana, polisi jujur yang bekerja sampingan sbg pemulung, si pemuda belia yang menemukan listrik dari kedondong (meski banyak yang kemudian menghujatnya dengan mengatakan penemuannya tidak efektif tanpa sedikitpun menghargainya), tentang dek Izan si 14 tahun putranya mbak Yanti Wij yang tidak mengenyam pendidikan formal (Izzan homeschooling bersama ibunya) yang berhasil lolos diterima di ITB dan UI di usianya yang masih sangat belia,  Mas Cuy Roel Mustafa si lelaki seribu janda yang mencintai dan merawat para janda dengan cara yang sangat mulia, dan hal-hal bermanfaat dan inspiratif lainnya.
_______________________

Jadi, Love. Yuk, jangan mudah tergoda viral-viral murahan. Mari viralkan hal-hal positif yang jauh lebih membawa kebermanfaatan

[Anyway, kisah lengkap mimpi masa kecilku dan haru biru saat mimpi itu berhasil terwujud di Skotlandia, insyaaAllah bisa diihat di (calon) bukuku berkolaborasi dengan Mas Ario Muhammad yang sedang on process di penerbit :) ]

Sumber:

Fb: Fissilmi Hamida

Post a Comment

0 Comments