Ustadz Wajib Indonesia



                                                          Oleh : Hilmi Firdausi


Muslim di Indonesia adalah Muslim yang agak spesial, pakai telor 3, telor bebek pula...😁. Bagaimana tidak spesial, mayoritas muslim negeri dengan berbagai latar suku, budaya dan bahasa bisa sangat menjunjung toleransi dengan ummat beragama lainnya, ditengah sedikit gangguan "radikalisme" baik yang dibuat-buat oleh "oknum yg benci Islam", ataupun radikalisme karena salahnya pemahaman tentang Islam...gampangnya sebut aja "Salah Ngaji". 😊


Masalah fiqih ubudiyah (tata cara ibadah) mayoritas muslim Indonesia adalah bermazhabkan Syafi'iyyah...mengikuti ulama mulia Imam Syafi'i rahimahullah. Namun sayangnya, "ada sedikit benarnya" kata Dek Afi (awas jangan salah faham 😅), sebagian muslim tanah air memang hanya menerima "warisan" dari orangtuanya, leluhurnya...termasuk dalam tata cara ibadah. Mereka Sholat seperti yang diajarkan orangtua, ustadz di kampung, atau guru agama di Sekolah yang mengikuti mazhab syafi'i tanpa mau menggali lebih dalam lagi atau malah tidak tau selama ini cara ibadahnya bermazhab Syafi'i, sehingga jangan aneh kalau ditanya, "kenapa kamu gerakan sholatnya seperti itu?", "kenapa kamu Qunut shubuh?", "kenapa bacaan basmalah dikeraskan?", "kenapa dzikir ba'da sholat dizaharkan ?", "kenapa salaman setelah selesai sholat ?", "kenapa dzikir pakai tasbih?", kenapa tarawih + witir 23 rakaa't ?", Jawabannya sama..."orangtua saya begitu, guru-guru saya dulu ngajarinnya begitu."


Ketika hari-hari ini semangat mengkaji Islam bergelora, istilahnya mengikuti Islam yang sesuai sunnah, "ngaji sunnah"...ada sebagian orang langsung terkaget-kaget, "jadi sholat saya selama ini salah ?", "jadi seharusnya Shubuh ga pakai qunut", "jadi seharusnya dzikir ba'da sholat harus disirkan, dsb dsb. Nah...inilah yang saya ingin bahas. Dari kajian-kajian sunnah yang saya ikuti, ada sebagian ustadz sunnah yang hanya menyampaikan pendapat satu mazhab saja, terlebih misal mazhab Hanbali tanpa mengkomparasi dengan 3 mazhab besar lainnya. Akhirnya, jamaah awam akan langsung beropini, inilah yang paling benar...ibadah saya yang dulu, yang diajarkan orangtua saya, guru-guru semasa kecil semua salah, tidak sunnah, tidak ikut Nabi. Hehehe....hayoo, siapa yang suka begitu...😅
 

Padahal para pendahulu kita pun belajar dari para Kyai, Asatidz yang bukannya orang bodoh, kitanya saja yang tidak belajar lebih dalam tentang agama kita, yang akhirnya kita terkaget-kaget sendiri ketika menemukan sesuatu yang baru, padahal ikhtilaf furu'iyah itu sudah ada sejak jaman dulu, dari jaman kuda gigit besi sampai kuda jingkrak ferrari 😅. Jadi biasa aja, tidak harus shock, tidak harus beralih profesi jadi Hakim yang menentukan ini benar, ini salah...padahal ranah furu' bukanlah tentang benar salah, karena semua punya dalil dan hujjah.

 
Namun Alhamdulillah wa Syukurillah, ditengah fenomena tersebut, hadirlah Ustadz Abdul Somad dan Ustadz Adi Hidayat yang saya pribadi menyebut mereka Ustadz Wajib Indonesia. Why ??? Ustadz Abdul Somad dakwahnya begitu merepresentasikan NU (garis lurus) yang merakyat, segar, namun tetap cerdas dalam berargumen dengan dalil-dalil yang lengkap dari 4 mazhab berbeda. Begitupun Ustadz Adi Hidayat, gaya dakwahnya Muhammadiyah sekali, cerdas, edukatif, agak lebih serius dibanding Ust Abdul Somad, ditambah kejeniusan otak beliau dalam menghafal ayat dan hadits sampai letak dan posisinya. Masya Allah...


Walau tak masuk daftar Ustadz Sunnah, namun kajian-kajian mereka berdua sangat mencerahkan, membahas suatu kaidah fiqih dari sudut pandang 4 mazhab berbeda dan tidak mendoktrin jamaah untuk mengikuti mazhab tertentu, hingga tidak tercipta taqlid buta. Fanatisme hanya boleh untuk Islam, namun kita tidak boleh fanatik kepada golongan tertentu, ustadz tertentu, apapun labelnya, apapun gelarnya, dimanapun belajarnya...di Mekah, Madinah, Mesir, Yaman, Libya, Maroko, Pesantren Modern atau Tradisional ataupun di Majlis-majlis Ta'lim...semua adalah sama selama mereka masih menyampaikan Qur'an, Sunnah, Ijtihad ulama salafussholih, semua kita ikuti, kalau sudah melenceng wajib kita ingatkan, kalau tidak mempan ya kita jauhi.



Saya pribadi dalam tholabul 'ilmi tidak melihat-lihat siapa ustadznya, asal mereka membawa kebaikan, membawa hikmah, tidak melanggar syariah, tidak menyelisihi sunnah...maka saya akan hadir di kajian-kajiannya jika ada waktu yang pas, atau minimal menyimak kajiannya lewat internet.
Semoga sahabatpun demikian, semangat menuntut Ilmu agama tapi tidak menjadi kebablasan, karena sebaik-baik pencari Ilmu adalah mereka yang mengutamakan akhlaq, semakin banyak ilmunya, semakin tawadhu, menjauhi menjudge orang lain, apalagi mentahdzir seorang ulama, wal'iyadzubillah...semakin berisi seseorang, semakin mulia akhlaqnya, semakin mencintai saudaranya.
Semoga bermanfaat
Baarakallahu fiikum
*Saya angkat kembali tulisan lama saya ini karena adanya permintaan Jamaah sehubungan dengan tulisan terbaru saya yang sedang viral tentang UAH & UAS.

Post a Comment

0 Comments