Tere Liye Berguru pada Burung Pipit, Penyu dan Pohon Kelapa

RemajaIslamHebat.Com - Tak banyak yang tau kalo mas Tere Liye ini adalah seorang akuntan. Orang lebih banyak mengenal beliau sebagai penulis.  Tak heran jika ia begitu piawai mengkritisi menteri keuangan terkait dengan pajak profesi penulis yang dianggapnya "melampaui batas".

Gak main-main, Mas Tere adalah jebolan universitas bergengsi. Beliau adalah alumni Universitas Indonesia, Fakultas Ekonomi. Skripsinyapun dulu mengupas habis tentang perpajakan. Jadi bukan hanya sekedar isapan jempol tatkala ia membeberkan a-z seluk beluk dunia perpajakan yang begitu terang benderang.

Yang menarik menurut saya adalah amat sangat jarang seorang akuntan atau orang yang lebih dominan mempergunakan otak kirinya untuk kemudian menjadi penulis atau sastrawan. Akuntansi boleh dikata saudara kandung dengan Matematika. Terkecuali jika mas Tere mungkin alumni fakultas sastra, akan sangat wajar jika ia begitu lihai membuat padu padan ragam tulisan yang membuat kita ketagihan untuk melahapnya.

Pria yang berasal dari Sumatera Selatan Palembang ini, melalui kehidupan masa lalu yang “pahit”. Ia berasal dari keluarga petani biasa yang jauh dari kata berkelimpahan harta. Tapi meskipun ia tak kaya dari segi materi namun didikan dan penanaman nilai-nilai kehidupan dari orang tua Bang Tere stoknya unlimited, demikian yang beliau sampaikan saat menjawab pertanyaanku. Ternyata tebakan saya tak meleset walau sebenang kan? Hehehe.

Kemudian nama Tere Liye memang diadopsi dari negeri Acha-Acha, nehi-nehi, Kya hua??? Yupp kata Tere Liye berasal dari sungai gangga yang berarti untukmu. Semua karya-karya mas Tere Liye diperuntukkan untuk kamu, iyaaahhh kamuuuuHHH. Semoga dengan karya-karyanya membawa angin segar untuk merubah wajah peradaban.

Next…

Inilah yang menjadi senjata pamungkas, tips dan trik agar semangat menulis kita tidak lesu. Mas Tere mengisahkan tentang persahabatan antara Penyu, burung Pipit dan Pohon kelapa.

Tolong disimak dan dibaca pelan-pelan yah?

Alkisah hiduplah tiga sahabat yaitu Penyu, burung Pipit dan pohon kelapa. Semilir angin sore membelai wajah mereka di bibir pantai. Lalu berundinglah 3 sahabat tersebut.

Penyu : Rasa-rasanya membosankan yah kalo kita hanya berdiam di pantai ini, kita jalan-jalan yuk?

Pipit : Wah ide yang bagus tuh, aku juga lelah hanya beterbangan di sekitar pantai ini. Tapi tunggu dulu, kita harus minta persetujuan kelapa. Dia kan tidak bisa kemana-mana.

Penyu : Oooo ia, kelapa tidak bebas seperti kita Pit. Mmmm bagaimana menurutmu kelapa?

Kelapa : Ia tidak apa-apa, saya setuju. Silahkan kalian menjelajah tapi dengan syarat datanglah ke tempat ini setelah  20 tahun. Saya akan setia menunggu di tempat ini jawab kelapa sembari daun mudanya melambai-lambai diterpa angin.

Setelah menyepakati persyaratan kelapa lalu kembalilah si penyu ke dalam laut. Ia berenang jauh, jauh meninggalkan kelapa yang menatapnya dari kejauhan.

Bertahun-tahun penyu melintasi lautan. Ia begitu terpesona tatkala sudah berada di pantai luar negeri, sungguh jauh berbeda dengan suasana pantai tempat mereka biasa bercengkrama dengan si pipit dan kelapa.

Penyu semakin penasaran dengan lautan-lautan yang ada di bumi. Iapun menyelam dan berenang semakin jauh melintasi beberapa samudera.

Tak ketinggalan rasa takjub membuatnya begitu terpesona akan keindahan lautan dan pesisir pantai di beberapa negara.

Si pipitpun tak mau ketinggalan, ia mengepakkan sayapnya meninggalkan pantai tempat kelapa berpijak. Ia membumbung tinggi membelah angkasa. Kini ia terbang sudah sangat jauh. Melintasi berbagai batas territorial negara.

Ia berdecak kagum akan keindahan bumi yang ia terawang dari atas langit. Matanya tak bosan-bosan menelanjangi pesona ciptaan Allah.

Sementara kelapa masih tak bergeming. Tetap menjulang dan terpasung di tepi bibir pantai tempat mereka melabuhkan janji dahulu kala.

20 tahun kemudian.

Sesuai dengan waktu yang disepakati, kembalilah 3 sahabat ini berkumpul. Lalu dengan semangatnya si pipit dan penyu ingin menceritakan pengalamannya pada pohon kelapa.

Kelapa : Selamat datang kembali sahabat-sahabatku, terima kasih atas janji yang kalian tunaikan. Sungguh penantian selama 20 tahun bukanlah waktu yang singkat.

Hanya keyakinan akan persahabatan kita yang membuat saya bertahan menanti kalian bertahun-tahun. Kelapa membuka percakapan disertai haru yang begitu membuncah. Baiklah, silahkan penyu terlebih dahulu bercerita.

Penyu : Terima kasih banyak kelapa, sungguh saya sangat menyesal tak bisa membawamu ikut serta, ternyata pemandangan bawah laut di tempat kita ini berbeda dengan tempat-tempat yang kusambangi.

Variasi terumbu karangnya beragam dan saaaaaaangattt indah. Di lautan sana banyak kapal-kapal pesiar yang meliuk manja di atas permukaan laut.

Aku menyaksikan raut kebahagiaan-kebahagiaan mereka terpancar begitu indah. Di pesisir pantai luar negeri sana begitu banyak resort dan restoran-restoran mewah tempat manusia melepas penat. Sungguh pemandangan yang tidak kita temukan di tempat kita ini.

Kelapa : Waaahhh, indah sekali yah. Bagaimana dengan kamu pipit? Tanya kelapa.

Pipit : Dari tadi saya sudah tidak sabaran untuk dipersilahkan berbagi pengalaman. Sungguh pemandangan yang saya liat dari atas langit begitu luar biasa.

Setelah saya terbang jauh meninggalkan tempat kita ini selama bertahun-tahun, begitu banyak perubahan yang terjadi. Di daratan nampak gedung-gedung tinggi menjulang seolah-olah hendak menjolok langit.

Jalan-jalan begitu indah berkelok-kelok. Pepohonan rimbun di mana-mana laksana permadani hijau yang terbentang.

Bunga-bunga bermekaran begitu indahnya. Manusia-manusia bertebaran di daratan bercengkrama dengan keluarga mereka.

Ah sayang sekali sahabatku tidak bisa ikut menyaksikan keindahan-keindahan itu. Sabar ya kelapa?

Sebelum kelapa menanggapi kisah Pipit, tiba-tiba si Penyu nyelutuk.

Penyu : Kau sendiri kelapa selama 20 tahun ini ngapain saja? Tidakkah kau dilanda kejenuhan?

Kelapa kemudian tersenyum lembut lalu berkata : Terima kasih kisahmu sahabat-sahabatku, tapi saya ingin bertanya.

Wahai penyu apakah setiap kau berkunjung ke lautan yang berbeda kau tetap melihat pohon kelapa terpancang kokoh di tepi pantai? Apakah pohon kelapa berjejer indah di pingir pantai?

Kemudian untuk sahabatku pipit, apakah kau tak menemukan pohon kelapa juga tumbuh di daratan? Tumbuh di sekitar rumah-rumah penduduk?

Tanpa kalian jawab saya tau bahwa pohon kelapa selalu ada di tepi pantai dan di daratan. Karena meskipun saya tidak kemana-mana tapi buahku terbawa arus dan gelombang lautan sehingga pohonku tumbuh di mana-mana.

Kemudian pertanyaan Penyu tadi yang mengatakan, tidakkah saya dilanda kejenuhan? Oh, sama sekali tidak. Aku bahagia menyaksikan manusia-manusia  yang berkunjung ke pantai ini, aku bahagia memberikan buahku untuk mereka nikmati, airku membasuh kerongkongan mereka yang dahaga. Aku bahagia tatkala manusia berteduh sambil bersandar pada batangku.

Aku juga bahagia tatkala nelayan menambatkan tali perahu kecilnya pada batangku ini. Aku juga terharu karena buah-buahku melanglang buana meskipun saya tetap terpasung di sini.

Si penyu, pipit dan pohon kelapapun saling berangkulan di serbu haru. Terima kasih kelapa sahabatku yang begitu bijak jawab pipit dan penyu bersamaan.
*********************
Dari kisah di atas kita bisa memetik setangkai hikmah. Demikian adanya juga dengan tulisan. Meskipun kita hanya menulis di rumah atau disuatu tempat, tapi buah tulisan-tulisan kita akan melanglang buana mencari rimba dan berkelana menjumpai takdirnya.

Tulisan kita seperti buah kelapa, menjadi tempat berteduh bagi yang jiwanya kerontang, menjadi penebus dahaga bagi yang haus ilmu, dan menjadi penebar manfaat bagi siapa saja yang membutuhkan.

Olehnya itu marilah kita menulis yang baik-baik saja agar tercipta kebaikan yang menular dan menularkan kebaikan.
Melalui tulisan ini saya menitipkan salam pada Mas Tere liye, terima kasih banyak wejangannya Mas.

Sampai jumpa di event Jumpa penulis. Bagi teman-teman yang berminat diberi suplemen kehidupan dari sang maestro, silahkan menjumpai para penulis-penulis keceh di acara Jumpa penulis tersebut.
#sarapankata
#kmoindonesia
#jumpapenulis
**Nurb@y@ Tanpa Siti

Penulis : Nur Baya

Post a Comment

0 Comments