Takabbur Pasti Bangkrut !

Oleh : Alga Biru (Penulis Buku)

Mungkin ini salah kita yang berteriak pada dia yang tuli. Memaksa bicara pada dia yang bisu. Dan salah kita pula, karena kita lupa bahwa dia pun buta. Hampir-hampir tidak ada gunanya memancing negosiasi pada dia yang tuli, bisu, dan lengkap pula kebutaannya.

Andai bukan karena Diin ini adalah kabar gembira, estafet untuk disampaikan, tanpa syarat, maka pastilah kita berhenti sebelum sempurna. Bukan main kelakuan dan cara-cara klasik hamba yang sombong. Ketika mereka melihat apa yang ada dalam kekuasaan mereka, hartanya, pengikutnya yang banyak, merasalah ia hidup selama-lamanya. Satir.

***

“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.

Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mu'min) ketika ia bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat".

Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku di kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu". (TQS Al Kahfi : 32-36)

Sebagian ulama menyatakan bahwa kisah di atas hanyalah permisalan atau perumpamaan saja. Mereka menyatakan bahwa kisah tersebut tidak mungkin terjadi. Adapun jumhur ulama menyatakan bahwa kisah tersebut benar-benar terjadi.

Sesuai Firman Allah Swt, “Dan berikanlah sebuah perumpamaan mereka.” (TQS. Yasin : 13) yang sejalan dengan kelanjutan surah Al Kahfi tersebut yang berbunyi, “maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin.” (TQS. Al Kahfi : 40)

Akhir-akhir ini kita dirundung kekhawatiran akan keselamatan negeri yang kian terancam. Satu sisi, kita mengetahui negeri kita yang melimpah kekayaannya. Entah ini anugerah ataukah musibah, yang kemudian melahirkan tangan-tangan jahil yang saling berebut kekuasaan.

Negara koorporasi yang berkawan dengan elit politik, andil dalam menentukan kebijakan strategis mencakup hajat hidup orang banyak. Ingat, jangan bangga menjual aset rakyat.

Ketika Islam dan para pendakwahnya datang dengan seruan, sebagian dari mereka yang memiliki wewenang, bertransaksi politik untuk terus mengganyang kekuatan Islam.

Tercium hangat syahwat kekuasaan dalam hal ini. Harum pekat, betapa nikmat menduduki lahan-lahan basah. Lengkap dengan proyek yang masih harus digawangi untuk kepentingan tuannya. Lambat laun, kursi kekuasaan menggerus hati nurani dan logika manusia.

Mereka berpikir, kebun uang itu bersifat abadi. Dengan tidak tahu malu, menggelar sidang palsu, penyidikan palsu, yang tak heran pula, lahirlah keputusan palsu. Seseorang bebas melenggang dengan kesalahannya. Sementara seorang lain meregang penjara dan tak berdaya di ranah hukum.

Sudah banyak contoh! Dan tak usah kita berbusa-busa menyebutkan nama-nama. Camkanlah kebangkrutan, yang cepat atau lambat, ditumpahkan bagi mereka yang takabbur! Bukan hanya takabbur dengan kekayaannya yang banyak, namun amanah kekuasaan yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

Marilah kita renungkan kabar kebangkrutan versi kitabulah ini, “Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: "Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku". (TQS Al-Kahfi: 42)

****

Saksikanlah wahai telunjuk yang kelak bersaksi di hadapanNya. Jauhkanlah dari jemari dan hati kita, sifat menantang ayat-ayat Allah Swt, baik terang-terangan ataukah tersembunyi. Janganlah kita takut pada keputusan manusia. Takutlah pada keputusan Allah Swt yang amat cepat masa hisabnya. Wallahu’alam. []

Post a Comment

0 Comments