Supporter Bola dan Pesilat Zaman Now

RemajaIslamHebat.Com - Ada aja kelakuan pecinta olahraga zaman now. Buat kita kaum hawa, utamanya para bunda, membaca dan menonton berita kisruh BONEK VS PSHT di Jember jelas membuat geleng-geleng kepala. Eh, nggak cuma geleng-geleng ding. Bahkan ngelus dada, lutut gemetar, lisan beristighfar.

Entah apa yang ada di benak pecinta bola dan pesilat di Jawa timur, yang membuat mereka bentrok berulang.  Setelah jatuh dua korban meninggal di Surabaya, Jember sempat mencekam karena kisruh antar mereka berlanjut menjadi Ricuh BONEK VS PSHT part 2.

Tak tanggung-tanggung, bentrokan terjadi di tiga titik ; Balung, Ambulu dan Klompangan. Serta menyisakan banyak korban.

Sebenarnya kejadian kekerasan yang dilakukan antar suporter bola, atau antar perguruan silat bukan pertama kalinya. Ricuh yang berujung kekerasan antar fans klub bola sangat sering terdengar di berita. Baik itu di dalam maupun di luar negeri.

Bulan kemarin, di arena Sea Games, supporter Tim Garuda terlibat kericuhan dengan petugas keamanan Malaysia. Sepanjang 2017, di Indonesia kisruh supporter bola terjadi berkali-kali. Mulai kasus gunung kidul yang berbuntut penahanan 23 supporter hingga kerusuhan Jackmania Juli kemarin. Di Eropa, bahkan tak jarang berujung penembakan dan kematian.

Keganasan fans sepakbola ini memunculkan istilah hooligans, yakni fans bola yang brutal ketika tim bolanya kalah bertanding. Dalam kasus silatpun begitu. Tak jarang terjadi bentrok antar kelompok silat.

Mungkin bagi sahabat muslimah terutama para ibu, kejadian di atas terasa aneh ya?  Entah hal apa yang melatarbelakangi mereka melakukan kekerasan. Hingga rela bertaruh nyawa demi bola, atau demi kebanggan klubnya.

Lebih aneh lagi pemerintah kita. Entah kenapa kejadian seperti ini dibiarkan berulang. Seakan tak  ada tindakan serius, padahal ini menyangkut nyawa anak bangsa. Belum ada tindakan serius kecuali dari PSSI yang menyangsi klub bolanya.

Sedangkan pemerintah, cenderung diam membiarkan kejadian ini berlalu saja. Meski hampir tiap bulan peristiwanya berulang. Tak ada Undang-undang khusus tentangnya, tak ada Perpu yang disahkan. Bahkan secara preventif saja, tak pernah ada seminar menangkal radikalisme Hooligans di sekolah-sekolah dan peguruan tinggi, misalnya.

Padahal kekerasan itu terjadi hanya atas nama benda bulat bernama bola. Atau demi sebelas orang yang bertanding untuk kebanggan daerahnya.
Meski biasanya secara ekonomi, pendidikan apalagi akhlaq tak memberikan manfaat yang nyata

Yang tak kalah aneh adalah sikap media. Tak pernah ada yang menuding mereka radikal, pro kekerasan dan berbahaya bagi keamanan masyarakat dan meresahkan.

Berbeda perlakuan penguasa ketika menghadapi kelompok Islam. Yang tak pernah sekalipun terlibat bentrok, bahkan ketika melakukan aksi demonstrasi saja tertib dan damai, tanpa konvoi motor bising apalagi bawa pentungan.

Tapi karena membawa Islam mereka dicap radikal, pelaku kekerasan, anti damai. Maka mereka harus dibubarkan tanpa lewat pengadilan. Bahkan sampai bela-belain dibuatkan Perppu dan undang-undang. Sebagian aktivis dakwah ditersangkakan hingga berujung pada penahanan. Karena konon mereka mengancam keamanan.

Media tak kalah jahat dan pilih kasihnya. Jika mereka tak pernah mencap Hooligans pelaku kekerasan, kepada aktivis dakwah mereka berikan stigma mengerikan. Seakan aktivis dakwah dan kelompok-kelompok dakwah adalah monster yang akan memporak-porandakan Pancasila dan tanah Indonesia.

Padahal aktivis dan kelompok-kelompok dakwah tsb jelas apa yang mereka perjuangkan. Nyata manfaat dan perannya di tengah-tengah masayarakat. Apalagi di masa kemerosotan akhlaq saat ini. Merekalah yang mendidik masyarakat dengan Islam. Memupuk ketaqwaan umat agar menjadi pribadi-pribadi yang baik lagi bermanfaat bagi bangsa dan ummat.

Mereka mengetahui kebenaran dan faham solusi bagi persoalan di negeri kita. Lalu mereka memperjuangkan agar solusi itu diambil oleh penguasa. Mereka menasihati pemerintah jika membuat kebijakan yang mendzolimi rakyat. Agar pemegang tampuk kekuasaan itu selamat di akhirat. Dan agar Indonesia terhindar dari kerusakan dan laknat. 

Tapi zaman now, zaman-nya banyak yang aneh-aneh. Olahraga yang harusnya bikin sehat, malah bikin warga tercekam.  Penguasa juga ikutan jadi aneh. Ajaran dan seruan kebenaran dari tuhan dianggapnya ancaman. Padahal dalam al-qur’an jelas disebutkan bahwa itu adalah rahmat, petunjuk dan jalan keselamatan.[Info Muslimah Jember]

Post a Comment

0 Comments