Suami Takut Allah

Oleh : Annisa Afriliani Hana

BANYAK guyonan bahwa suami takut istri itu suami yang lemah. Gak punya kuasa dihadapan istri. Nurut aja sama kemauan istri. Tapi disisi lain ada celetukan begini, “nah emang harusnya begitu! Itu namanya suami yang baik. Suami takut istri berarti dia gak bakalan nyakitin istri, selalu nyenengin.”

Nah, jadi gimana nih? Yang jelas suami takut istri itu konotasinya negatif. Istri gak perlu ditakutin, emangnya singa? Suami juga gak boleh ‘lemah’ di hadapan istri, sebab bagaimanapun suami itu pemimpin atas istrinya. Dia punya wewenang untuk mengatur istrinya. Bukan malah diatur istri dan bertekuk lutut padanya.

�� Suami Harus Takut Allah
Yang benar semestinya adalah suami takut Allah. Suami takut Allah akan mampu menempatkan dirinya sesuai porsinya. Dia mampu menjadi pemimpin atas istrinya, namun juga tak menempatkan istrinya diposisi rendah darinya.

Suami yang takut Allah berarti ia akan senantiasa berupaya menggapai ridho Allah. Berhati-hati agar tak terjerumus dalam perbuatan yang dimurkai olehNya.

Maka, dia akan memimpin dengan penuh kelembutan, dia memuliakan istrinya, dan mencurahkan kasih sayangnya sepenuh jiwa. Hatinya tebuka menerima nasehat dan pendapat dari istrinya, meski mungkin akhirnya ia memilih pendapatnya sendiri. Tapi ia sudah cukup mampu menghargai keberadaan istri disampingnya sebagai sahabat sekaligus teman diskusi.

Suami takut Allah akan senantiasa berjalan dalam koridor ketaatan padaNya. Ia memuliakan istrinya bukan semata perkara cinta, apalagi takut istri ngambek, melainkan semata-mata wujud pelaksanaan atas hadist Rasulullah saw.

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR. Ahmad, 2/527, At-Tirmidzi no. 1172.)

Suami takut Allah apabila marah tak akan menghinakan istrinya apalagi menjatuhkan harga dirinya. Ia berusaha menahan diri, sebab ia paham bahwa tulang rusuk yang bengkok itu akan patah jika diperlakukan dengan keras. Maka ia akan berupaya menasehatinya dengan ma’ruf, selayaknya guru menasehati muridnya.
Berbahagialah para istri yang dikaruniai suami takut Allah. Ia akan senantiasa membimbing keluarganya menuju jannahNya dan menjaganya dari maksiat sekecil apapun.

“Laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi keluarganya dan kelak ia akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang mereka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)

#CatatanAnnisa
#Muhasabah

Post a Comment

0 Comments