Stop Makan Bangkai

Oleh : Annisa Afriliani Hana

APA yang terbayang dibenak kita saat mendengar kata bangkai? Bau, busuk, menjijikan bukan? Tapi sayangnya banyak orang yang makan bangkai saudaranya sendiri tanpa ia sadari. Ya, mereka lah orang-orang yang suka meng-ghibah. Ghibah adalah dosa besar yang dapat menyeret pelakunya dalam kerugian dunia akhirat. Bagaimaba tidak, di dunia ia dijauhi manusia karena hobinya ngomongin orang, di akhirat ia pun mendapatkan adzab dariNya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589).

Kenapa mengghibah diumpamakan seperti memakan bangkai manusia? Karena mengghibah sama dengan mengoyak kehormatan orang lain dan orang tersebut diibaratkan seperti mayat karena tidak berdaya melakukan pembelaan, termasuk membela dirinya saat kehormatannya dikoyak, harga dirinya dijatuhkan.

Namun sayangnya, di sistem kapitalisme sekuler ini, ghibah seolah dihalalkan secara kolektif. Dia dikemas dengan sangat apik, dibahasakan dengan keren, yakni bernama “infotaiment”. Mengghibah pun dikapitalisasi. Rating tinggi, uang mengalir, tak peduli tentang dosa.

Akhirnya makan bangkai pun membudaya. Ada makan bangkai pagi, makan bangkai siang, sampai makan bangkai sore. Naudzubillahi min dzalik....

Mirisnya ghibah sering tak disadari. Kumpul-kumpul dengan tetangga sambil membicarakan aib orang lain. Kumpul keluarga pun saling membuka aib pasangan. Tak hanya itu, di era digital ini, ghibah juga merambah ke dunia medsos. Mengubar aib orang lain lewat status. Mengungkapkan permasalahan rumah tangga di facebook. Istri menjelek-jelekan suami, suami menjelek-jelekkan istri. Untuk apa?

Sejatinya ghibah itu mengungkapkan sesuatu yang benar terjadi pada seseorang, namun sesungguhnya orang tersebut enggan atau merasa malu jika hal itu diketahui orang lain. Tapi kalau ngomongin sesuatu yang sebatas dugaan kita tentang orang lain, dan faktanya memang tidak benar, maka itu namanya fitnah. Keduanya haram hukumnya.
Tahanlah lisan dari berbicara yang sia-sia, apalagi membicarakan orang lain.

Rasulullah saw sungguh telah mengingatkan kita untuk menjaga lisan kita dari sesuatu yang dapat menyakiti orang lain. Beliau bersabda “berkatalah yang baik atau diam.” (HR.Muslim). Stop menggunjing, stop mengghibah. Karena sejatinya menggibah sama saja kita memakan bangkai saudara kita sendiri. Naudzubillahi min dzalik....

“Dan janganlah kalian saling menggunjing. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hujurat: 12).

“Tuh, makanya udah deh gak usah berisik ngomongin penguasa mulu, ghibah tau!” tiba-tiba ada yang nyeletuk demikian. Sesungguhnya itu celetukan gagal paham. Sebab tidaklah dikatakan ghibah aktivitas mengoreksi kedzaliman penguasa. Justru Rasulullah saw bersabda bahwa mengatakan yang haq di depan penguasa dzalim adalah jihad yang utama. Melakukan amar ma'ruf nahyi mungkar juga adalah kewajiban setiap muslim, termasuk kepada penguasa. Lebih-lebih jika penguasa yang ada nyata-nyata tidak berhukum pada hukum Allah swt.

Maka, di sinilah pentingnya kita ngaji islam kaffah agar pemahamannya pun utuh, tidak asal comot dalil untuk menghukumi sesuatu. Sebab bisa jadi tidak tepat.
Jadilah muslim sejati yang kaffah memahami Islam, tidak makan bangkai saudara sendiri dengan sibuk menggunjing di belakangnya sementara manis di depannya. Apalagi jika gunjingan tersebut nyata fitnah belaka, maka hati-hati mendapat dosa karena telah menyebarkan fitnah. Sungguh amat banyak kita menyaksikan fitnah bertebaran terhadap para mengemban dakwah yang menyerukan khilafah, mereka dituduh pembuat makar, teroris, hingga ingin menghancurkan NKRI. Subhanallah....betapa lisan dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam api neraka jika tak dijaga. Yuk sibukkan lisan kita dengan menyebarkan kalimatullah. Stop makan bangkai!

#CatatanAnnisa
#Muhasabah

Post a Comment

0 Comments