Spirit Sumpah Pemuda Hakiki Melawan Kapitalisme Global

Oleh : Rahmadinda Siregar, Mahasiswi Sejarah Kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga

Pemuda merupakan salah satu pilar penting penopang setiap perubahan masyarakat dan bangsa. Setiap perjuangan yang mengarah pada perubahan, tidak akan pernah absen di dalamnya peran sentral pemuda. Begitupun sejarah bangsa ini, berdirinya NKRI tidak lepas dari peran pemuda dalam pentas perlawanan menghadapi tiran penjajah kolonial.

Hari ini, bertepatan 28 Oktober 2017, sejarah mengingatkan kita sebuah ikrar para pemuda yang bersikukuh membebaskan negeri ini dari penjajahan klasik. Ikrar yang mengisyaratkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa terucap dari lisan para pemuda.

Meskipun kini, usia sumpah pemuda sudah 89 tahun sejak diikrarkan pertama kalinya dalam kongres pemuda 27-28 Oktober 1928. Namun apa yang kita saksikan hari ini? Gerakan dan semangat sumpah pemuda semakin menghilang dan mengalami kepudaran. Ibarat orang yang berlari membawa air di dalam ember bocor, itulah gambaran spirit sumpah pemuda kini dari masa ke masa.

Gerakan dan semangat itu telah tertawan oleh kepentingan pragmatis ideologi Kapitalisme sekuler yang terus mengeksploitasi pemuda.

Kesetiaan mereka terhadap persoalan negeri ini semakin memudar, jarak pemuda dan masyarakat pun kini mengaga lebar bagaikan menara gading dan akar rumput.

Pemuda kini tak lagi hadir untuk rakyat, mereka memilih lebih apatis terhadap fakta sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Tumpulnya daya kritis terhadap kebijakan-kebijakan rezim yang merugikan rakyat seakan tertutupi kabut tebal dari pandangan pergerakan pemuda.

Bagaimana tidak, kita menyaksikan mahasiswa -yang merupakan elemen pemuda- juga turut menggantungkan almamater-almamaternya seraya duduk manis di antara pesta pora kekuasaan. Ada yang menjadi pejabat, ada yang menjadi DPR, ada yang menjadi menteri. Semua telah bungkam pada nurani perjuangan.

/ Kesetiaan pemuda terhadap sumpah setiannya haruslah direnungkan kembali /

Cukupkah sumpah yang hanya lahir dari spirit ruh nasionalisme semata, yang sejatinya juga adalah racun yang dihembuskan penjajah Barat untuk semakin memecah belah persatuan umat Islam atas nama bangsa (nation) dan kemerdekaan. Sumpah yang hanya membangkitkan sentimen atas dasar emosional semata tatkala ada ancaman fisik dari penjajah asing.

Sumpah yang seperti itu bukanlah sumpah hakiki yang membawa pemuda negeri ini ke arah kebangkitan yang benar. Pasalnya, sentimen nasionalisme muncul hanya ketika ancaman fisik itu ada.

Sedangkan saat ini, di saat negeri ini dijajah oleh Kapitalisme neoliberal, dalam bidang ekonomi misalnya, perampokan legal kekayaan SDA oleh asing dan aseng dibiarkan begitu saja, lampu hijau yang terus dinyalakan bagi investor asing dan aseng pada pembangunan meikarta, reklamasi teluk jakarta, proyek infrastruktur lainnya.

Sumpah sejati mustinya tidak hanya slogan dan jargon semata, namun sumpah yang benar-benar membangkitkan dan membawa perubahan hakiki di tengah-tengah masyarakat.

Untuk itu perlu kiranya para pemuda negeri ini mengokohkan kembali visi hakiki sumpah yang hidup dalam ruh perjuangan mereka.

Sumpah yang menjadi saksi pula kelak di yaumul akhir hakikat diri mereka sebagai hamba Allah swt.

“SESUNGGUHNYA SHALATKU, IBADAHKU, HIDUPKU, DAN MATIKU HANYA UNTUK RABBIL'ALAMIIN!”

Inilah sumpah hakiki kita wahai pemuda! Sumpah yang akan menggerakkan kaki-kaki ini melawan kezhaliman dan menyapu bersih setiap ancaman yang merongrong negeri ini dari penjajahan neoimperialisme dan neokolonialisme.

Sumpah setia kita kepada rabbul ‘aalamiin yang akan menjadi ruh dan akar kebangkitan hakiki yang tidak bisa digantikan oleh slogan slogan kosong manusia. Sumpah yang tidak akan menerima tawar menawar kepentingan demi menggadaikan idealisme kita.

Maka ingatlah, tatka kita membacanya dalam sholat, doa dan harapan kita dengan penuh kekhusyukan dan ketundukan bahwa kita telah berikrar untuk setia dan mengikatkan diri sepenuhnya dalam seluruh aspek kehidupan kita dengan tali agama-Nya. []

Post a Comment

0 Comments