Siapa Saja Mahram Kita?

Tanya :
Assalamualaikum ustadzah. Mau tanya, Apakah ipar, ponakan dan paman termasuk mahram?
(B.Ima, Sumbersari)

Jawab :
Wa'alaikumussalam Wr.Wb.
Ibu Ima yang dirahmati Allah, untuk menjawab pertanyaan di atas, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu apa itu mahram.

Definisi Mahram.
Menurut mayoritas ulama, sebagaimana diwakilkan pendapat Imam Ibnu Qadamah rahimahullah, Mahram adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selama-lamanya karena sebab nasab, persusuan dan pernikahan.

Mahram disini dibagi menjadi dua:
1. Mahram Muabbad yakni mahram yang tidak boleh dinikahi selamanya
2. Mahram Muaqqat yakni mahram yang tidak boleh dinikahi sementara

Mahram Muabbad terbagi menjadi tiga macam:

1. Mahram Karena Nasab (Keluarga)
Mahram dari nasab adalah yang disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam surat An-Nur ayat 31.
Para ulama’ tafsir menjelaskan: “Sesungguhnya lelaki yang merupakan mahram bagi wanita adalah yang disebutkan dalam ayat ini, mereka adalah: .
1. Ayah
Termasuk dalam kategori bapak yang merupakan mahram bagi wanita adalah kakek, baik kakek dari bapak maupun dari ibu. Juga bapak-bapak mereka ke atas.

2. Anak Laki-Laki
Termasuk dalam kategori anak laki-laki bagi wanita adalah cucu, baik cucu dari anak laki-laki maupun anak perempuan dan keturunan mereka. Adapun anak angkat, maka dia tidak termasuk mahram

3. Saudara laki-laki, baik saudara laki-laki kandung maupun saudara sebapak ataupun seibu saja.

4. Anak laki-laki saudara (keponakan), baik keponakan dari saudara laki-laki maupun perempuan dan anak keturunan mereka.

5. Paman, baik paman dari bapak ataupun paman dari ibu.
Berkata Syaikh Abdul Karim Zaidan: “Tidak disebutkan paman termasuk mahram dalam ayat ini [An Nur: 31] di karenakan kedudukan paman sama seperti kedudukan kedua orang tua, bahkan kadang-kadang paman juga disebut sebagai bapak. Sebagaimana sebutan Allah dalam surat Al-Baqarah: 133

2. Mahram Karena Persusuan
Pembahasan ini kita bagi menjadi beberapa fasal sebagai berikut:

Definisi Hubungan Persusuan
Persusuan: Adalah masuknya air susu seorang wanita kepada anak kecil dengan syarat-syarat tertentu.
Sedangkan persusuan yang menjadikan seseorang menjadi mahram adalah lima kali persusuan, berdasar pada hadits dari Aisyah Radhiyallahu anhuma, beliau berkata: “Termasuk yang di turunkan dalam Al Qur’an bahwa sepuluh kali persusuan dapat mengharamkan (pernikahan) kemudian dihapus dengan lima kali persusuan.”

Ini adalah pendapat yang rajih di antara seluruh pendapat para ulama’.
Dalil Tentang Hubungan Mahram Dari Hubungan Persusuan
1. Dari Al Qur’an : Firman Allah Ta’ala tentang wanita-wanita yang haram dinikahi dalam QS. An Nisa’: 23
2. Dalil dari Sunnah: Dari Abdullah Ibnu Abbas ia berkata : Rasulullah bersabda:
Diharamkan dari persusuan apa-apa yang diharamkan dari nasab.
Dari Aisyah Radhiyallahu anhuma ia berkata. “Sesungguhnya Aflah saudara laki-laki Abi Qu’ais meminta izin untuk menemuiku setelah turun ayat hijab, maka saya berkata: “Demi Allah, saya tidak akan memberi izin kepadamu sebelum saya minta izin kepada Rasulullah, karena yang menyusuiku bukan saudara Abi Qu’ais, akan tetapi yang menyusuiku adalah istri Abi Qu’ais. Maka tatkala Rosululloh datang, saya berkata: Wahai Rasululloh, sesungguhnya lelaki tersebut bukanlah yang menyusuiku, akan tetapi yang menyusuiku adalah istrinya. Maka Rasululloh bersabda: “Izinkan baginya, karena dia adalah pamanmu”

Siapakah Mahrom Wanita Sebab Persusuan?
Berdasarkan ayat dan hadits di atas maka kita ketahui bahwa mahram dari sebab persusuan seperti mahram dari nasab yaitu:
1. Bapak persusuan (suami ibu susu). Termasuk mahram juga kakek persusuan yaitu bapak dari bapak atau ibu persusuan, juga bapak-bapak mereka keatas.
2. Anak laki-laki dari ibu susu. Termasuk anak susu adalah cucu dari anak susu baik laki-laki maupun perempuan. Juga anak keturunan mereka.
3. Saudara laki-laki sepersusuan. Baik dia saudara susu kandung, sebapak maupun cuma seibu.
4. Keponakan persusuan (anak saudara persusuan). Baik anak saudara persusuan laki-laki maupun perempuan, juga keturunan mereka.
5. Paman persusuan (saudara laki-laki bapak atau ibu susu).

3. Mahram Karena Pernikahan (Mushoharoh)
Definisi Mushoharoh
Mushoharoh berasal dari kalimat: Ash-Shihr. Berkata Imam Ibnu Atsir: “Shihr adalah mahrom karena pernikahan”.
Berkata Syaikh Abdul Karim Zaidan: “Mahrm wanita yang disebabkan mushoharoh adalah orang-orang yang, haram menikah dengan wanita tersebut selama-lamanya seperti ibu tiri, menantu perempuan, mertua perempuan”.
Maka mahram yang disebabkan mushoharoh bagi ibu tiri adalah anak suaminya dari istrinya yang lain (anak tirinya), dan mahram mushoharoh bagi menantu perempuan adalah bapak suaminya (bapak mertua), sedangkan bagi ibu istri (ibu mertua) adalah suami putrinya (menantu laki-laki).”
Dalil Mahram Sebab Mushoharoh bisa dilihat dalam surat An-Nuur yat 31, An-Nisa’ 22-23.

Siapakah Mahram Wanita Dari Sebab Mushoharoh?
Berdasarkan ayat-ayat di atas maka dapat kita ketahui bahwa orang-orang yang haram dinikahi selama-lamanya karena sebab mushoharoh ada lima yaitu:
1. Suami
Berkata Imam Ibnu Katsir, ketika menasirkan firman Alloh ta’ala surat An Nur: 31 “Adapun suami, maka semua ini (bolehnya menampakkan perhiasan, perintah menundukkan pandangan dari orang lain -pent) memang diperuntukkan baginya: Maka seorang istri berbuat sesuatu untuk suaminya yang tidak dilakukannya dihadapan orang lain.”
2. Ayah Mertua (Ayah Suami)
Mencakup ayah suami atau bapak dari ayah dan ibu suami juga bapak-bapak mereka keatas.
3. Anak Tiri (Anak suami dari istri lain)
Termasuk anak tiri adalah cucu tiri baik cucu dari anak tiri laki-laki maupun perempuan, begitu juga keturunan mereka.
4. Ayah Tiri (Suami ibu tapi bukan bapak kandungnya).
Maka haram bagi seorang wanita untuk dinikahi oleh ayah tirinya, kalau sudah berjima’ dengan ibunya. Adapun kalau belum maka hal itu dibolehkan.
5.Menantu Laki-Laki (Suami putri kandung)
Dan kemahroman ini terjadi sekedar putrinya di akadkan kepada suaminya.

Adapun mahram muaqqat atau yang haram dinikahi sementara oleh laki-laki adalah:
Pertama: Saudara perempuan dari istri (ipar).
Tidak boleh bagi seorang pria untuk menikahi saudara perempuan dari istrinya dalam satu waktu berdasarkan kesepakatan para ulama. Namun jika istrinya meninggal dunia atau ditalak oleh si suami, maka setelah itu ia boleh menikahi saudara perempuan dari istrinya tadi.

Kedua: Bibi (dari jalur ayah atau ibu) dari istri.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak boleh seorang wanita dimadu dengan bibi (dari ayah atau ibu) -nya.” (HR. Muslim no. 1408)

Namun jika istri telah dicerai atau meninggal dunia, maka laki-laki tersebut boleh menikahi bibinya.

Ketiga: Istri yang telah bersuami dan istri orang kafir jika ia masuk Islam. QS. An Nisa’: 24)

Keempat: Wanita yang telah ditalak tiga, maka ia tidak boleh dinikahi oleh suaminya yang dulu sampai ia menjadi istri dari laki-laki lain dalam QS. Al Baqarah: 230

Kelima: Wanita musyrik sampai ia masuk Islam. dalam QS. Al Baqarah: 221

Keenam: Wanita pezina sampai ia bertaubat dan melakukan istibro’ (pembuktian kosongnya rahim).

Sahabat muslimah, dari tulisan panjang di atas, bisa disimpulkan bahwa paman dan ponakan adalah mahram muabbad. Kita boleh membuka aurat dengan batasan anggota wudhu di hadapan mereka. Sedangkan ipar adalah mahram muaqqat. Interaksi kita dengan mereka adalah sebagaimana interaksi dengan non mahram. Haram membuka aurat di hadapan mereka.[Info Muslimah Jember]

Post a Comment

0 Comments