Shafiyya binti Huyay: Istri Rasulullah Saw yang Paling Dicemburui

Oleh: Sandra Anshoriah

Shafiyya binti Huyay adalah satu-satunya Ummahatul Mu’minin yang berasal dari kalangan Yahudi. Shafiyya terlahir sebagai putri seorang kepala suku Bani Nadhir, yaitu Huyay bin Akhthab. Suatu ketika Bani Nadhir melanggar perjanjian yang dilakukan bersama Rasulullah Saw, Rasulullah Saw pun mengepung Bani Nadhir hingga Bani Nadhir menyerah. Atas sikapnya tersebut, Rasulullah Saw mensyaratkan mereka untuk keluar dari Madinah dengan membawa keluarga dan perbekalan seperlunya.

Mereka pergi meninggalkan Madinah dengan menunggangi kuda, namun tidak diperkenankan membawa senjata. Atas pengusiran ini, tokoh-tokoh utama Bani Nadhir seperti Huyay bin Akhthab dan Salam bin Abdul Huqaiq beranjak dari Madinah menuju Khaibar, sedangkan masyarakat Bani Nadhir lainnya beranjak menuju Syam.

Di Khaibar, Huyay bersekutu dengan salah satu suku Yahudi, yaitu Bani Quraizhah. Lagi-lagi, mereka bersekongkol dan berkhianat terhadap perjanjian yang disepakati dengan Rasulullah Saw. Mereka pun mencaci maki Nabiyullah Muhammad SAW. Akhirnya, Rasulullah pun memerangi Bani Quraizhah dan mengepung mereka selama 25 hari hingga mereka menyerah.

Atas keputusan Sa’ad bin Muadz ra, pemimpin terkemuka suku Aus, sebagai sekutu utama Bani Quraizhah, kaum laki-laki dari Bani Quraizhah dihukum pancung, termasuk Huyay bin Akhthab dan suami Shafiyya. Atas penaklukan ini, kebun-kebun dan harta-harta yang ada di Khaibar dibagi-bagi. Wanita dan anak-anak ditawan, termasuk Shafiyya, wanita terhormat di kalangan mereka.

Shafiyya adalah wanita yang putih dan cantik sekali, sehingga seorang shahabat, Dihya, ketika dipersilakan mengambil salah satu tawanan,  memilihnya untuk menjadi miliknya. Melihat hal ini, para shahabat yang lain protes. Mereka berkata bahwa Shafiyya lebih cocok diberikan kepada Rasulullah Saw.

Menanggapi hal tersebut, Rasulullah Saw meminta Dihya mengambil tawanan wanita lainnya, dan Shafiyya pun diambil oleh Rasulullah Saw. Para mufassir menafsirkan bahwa Rasulullah Saw mengambil Shafiyya dari Dihya bukan hanya karena kecantikannya. Beliau melihat bahwa Shafiyya adalah seorang wanita berkedudukan terhormat di tengah kaumnya. Rasulullah Saw khawatir Dihya tidak bisa membimbingnya. Disamping itu juga mempertimbangkan protes para sahabat lainnya, bila Rasulullah Saw membolehkan Dihya mengambil Shafiyya.

Saat peristiwa itu, usia Shafiyya masih sangat muda, yaitu 17 tahun. Rasulullah menyerahkan Shafiyya kepada Ummu Sulaim untuk didandani. Pengambilan Shafiyya ini masih menimbulkan tanda tanya di kalangan para shahabat, apakah Rasulullah akan menjadikannya sebagai istri ataukah seorang budak. Para shahabat pun tak sabar menunggu. Jika Shafiyya didandani dengan menggunakan khimar dan jilbab, maka Rasulullah menjadikannya sebagai budak. Namun apabila Shafiyya didandani dengan tambahan niqab, maka ia dijadikan Rasulullah sebagai istri. Ternyata Rasulullah Saw menutup wajah Shafiyya. Para sahabat memahami bahwa Rasulullah Saw telah memerdekakan Shafiyya dan menjadikannya sebagai salah satu dari ummahatul mukminin.

Berita ini sampai kepada para istri Nabi lainnya. Mereka sangat mencemburui Shafiyya. Di sisi lain, karena Shafiyya berasal dari yahudi. Ketika Shafiyya bergabung dengan istri-istri Rasulullah Saw yang lain, Shafiyya sempat direndahkan oleh para istri Rasulullah Saw yang lain.

Shafiyya pernah menangis mengadukan Hafshah kepada Rasulullah Saw, karena Hafshah mengejek Shafiyya sebagai anak Yahudi. Tampaknya, masa lalu yang kelam dan berat memang membuat Shafiyya mudah rapuh dan menangis. Rasulullah Saw pun menegur Hafshah, “Takutlah kepada Allah, wahai Hafshah”. Rasulullah menenangkan Shafiyya dengan berkata “Sesungguhnya kamu keturunan Nabi, pamanmu seorang Nabi dan suamimu pun seorang Nabi.”

Aisyah pun pernah mengatakan hal yang tidak baik kepada Shafiyya. “Cukuplah bahwa dia itu pendek.” Ini seperti mengata-ngatai Shafiyya. Rasulullah Saw pun marah padanya dan menegurnya.

Ketika musim haji tiba, Rasulullah membawa istri-istrinya untuk pergi ke Mekah guna menunaikan ibadah haji. Mereka pergi dari Madinah dengan menunggangi unta. Saat itu, unta yang ditunggangi Shafiyya terjatuh hingga dia tidak bisa melanjutkan perjalanannya. Shafiyya pun menangis.

Melihat hal ini, para shahabat mengabari Rasulullah Saw  bahwa Shafiyya terjatuh dan menangis. Rasulullah Saw pun menghampiri Shafiyya, mengusap air matanya, dan membujuknya untuk berhenti menangis. Lalu Rasulullah Saw menyuruh Zainab binti Jahsyi (satu-satunya istri Rasul yang dinikahkan langsung oleh Allah Ta’ala) untuk memberikan untanya kepada Shafiyya. Zainab nampak keberatan hingga ia berkata, “Apakah aku harus memberikan untaku kepada Yahudimu itu?”. Mendengar respon Zainab, Rasulullah Saw marah. Begitu marahnya Beliau, hingga tidak mendatangi dan tidak menggaulinya selama beberapa bulan. Hal ini membuat Zainab sangat menyesali kesalahannya dan benar-benar pasrah akan akibatnya. Namun Rasulullah Saw memaafkannya. Beliau hanya menta’dibnya atas kata-kata yang merendahkan dari Zainab terhadap Shafiyya.

Latar belakang kehidupan Shafiyya memang sangat berat. Penuh penderitaan apalagi setelah semua laki-laki kaumnya dihukum pancung dan kaum wanita serta anak-anak menjadi tawanan. Rasulullah Saw hendak menyelamatkannya. Membangkitkan kembali kehidupannya dari keterpurukan. Trauma pada diri Shafiyya setelah ayah dan suaminya dieksekusi,  masih membekas. Pada awal pernikahannya dengan Rasulullah Saw, ia masih belum benar-benar bisa mencintai Rasulullah dan belum menerima Islam. Namun Rasulullah  Saw dengan sabar menjelaskan kepada Shafiyya terkait kesalahan-kesalahan besar ayahnya. Dengan sabar pula Rasulullah Saw membimbing Shafiyya, mengajarkannya Islam hingga akhirnya Shafiyya pun dapat benar-benar mencintai Rasulullah dan mencintai Islam dengan ikhlash.

Kecintaannya pada Rasulullah Saw begitu tulus. Hal ini ditunjukkan ketika suaminya jatuh sakit. Ia berkata “Aku berharap sakitmu itu aku saja yang menanggung”. Nampaknya istri-istri Rasulullah yang lain meremehkan dan mencibirnya. Rasulullah Saw menegur istri-istrinya yang lain dan mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Shafiyya itu adalah benar adanya. Artinya, Shafiyya benar-benar telah mencintai Rasulullah Saw dengan ikhlash.
Sepeninggalnya Rasulullah Saw, Shafiyya selalu menjaga diri dan bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa. Begitu pun dengan istri-istri Rasul yang lainnya.

Begitulah figur seorang Shafiyya. Latar belakangnya sebagai keturunan Yahudi tidak lantas menjadikan ia hina dina. Ketika ia masuk ke dalam Islam, semua memiliki kedudukan yang sama, yang membedakan hanyalah tingkat ketaqwaannya.

Shafiyya pun wafat pada tahun 50 Hijriyah dan telah mengalami masa pemerintahan 4 Khulafaur Rasyidin.

******
Catatan:
Hendaknya ketika kita merujuk kepada cerita di atas, tidak lantas membuat kita menjudge istri-istri Rasulullah yang lain dengan begitu saja. Istri-istri Rasul adalah ummul mu’miniin yang patut kita jadikan contoh. Mereka pun adalah manusia biasa yang pernah melakukan kesalahan. Yang perlu kita lihat adalah bagaimana taubatnya mereka ketika melakukan kesalahan dan kekhilafan.
Hafshah, selalu membasahi mulutnya dengan bacaan Al Quran, selalu meletakkan kepalanya di tanah sebagai bentuk penghambaannya kepada Allah, juga selalu mengosongkan perutnya hingga waktu berbuka tiba.
Begitu pun dengan ‘Aisyah, istri Rasul nan cerdas. Ibadahnya, kedermawanannya dan keilmuannya, sangat luar biasa. Sekitar 2.210 hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan darinya. Para shahabat dan Tabi’in besar pun berguru padanya dari balik hijab.
Zainab Binti Jahsy, kedermawannya tak tertandingi, hingga dikenal sebagai Ummul Masaakiin. Bahkan ketika Rasulullah Saw mengisyaratkan bahwa istri beliau yang pertama kali akan menyusul beliau wafat adalah yang paling panjang tangannya. Ternyata dia adalah Zainab Binti Jahsy, ummul mukminin yang paling banyak bersedekah. Keahliannya membuat barang-barang kerajinan dan mengelola para wanita lain untuk membuatnya, menghasilkan uang yang semuanya untuk disedekahkan.

Itulah gambaran betapa mulia orang-orang yang berada dekat dengan Rasulullah Saw, khususnya para ummahatul mu’miniin. Hendaknya kita selaku muslimah selalu berbenah dan selalu berkaca diri, sudah seberapa banyak amalan yang kita lakukan. Tidak cukup hanya itu saja, yang terpenting adalah sudah seberapa banyak amalan yang sudah kita lakukan dengan hati yang IKHLASH. Semoga Allah selalu membimbing kita di jalan yang lurus. Aamiin.

Wallahu a’lam bish-shawwab []

Post a Comment

0 Comments