Seratus Tahun Ke Dua

Oleh : Doni Riw

PERADAN Islam berawal dari seorang yatim buta huruf yang lahir tahun 570 di tanah tandus Makkah; Muhammad s.a.w. Makkah, era itu adalah sebuah negara ke tiga di jamannya. Terjepit di antara dua super power; Romawi & Persia.

Barang kali lebih buruk dari kondisi Indonesia hari ini yang berada dalam jepitan Amerika & China. Indonesia hari ini masih diperebutkan oleh dua super power demi kekayaan alamnya. Makkah waktu itu sama sekali tak masuk dalam daftar rencana taklukan Romawi & Persia yang sama-sama berambisi memperluas kekuasaannya.

Namun siapa sangka, hanya dalam tempo seratus tahun, negara yang dibangun anak yatim itu justru menaklukkan  Romawi & Persia. Di tahun 700an, wilayah-wilayah sebagian Romawi dan Persia jatuh ke kekuasaan Khilafah Islam.

Sehingga di seratus tahun pertama, peradaban Islam bertumbuh dari tak sepetak tanah pun dikuasan, menjadi negara besar yang membentang dari sepanyol hingga India. Dengan kehidupan masyarakat yg egaliter, adil, dan makmur.

Perkembangan seratus tahun pertama itu, menjadi kunci bagi perkembangan seratus tahun ke dua.

Masyarakat Khilafah yg dibangun Rasulullah adalah masyarakat heterogen, multi bangsa, multi agama, namun dalam satu kendali lokomotif; yaitu hukum Islam yg adil bagi siapapun.

Kondisi itu membuahkan satu konsekuensi samping, yaitu peleburan potensi-potensi warisan keilmuan yunani, persia, india, dan seluruh bangsa-bangsa yang menyatu di bawah Khilafah.

Khalifah Al-Makmun dari bani Abasiyah, memfasilitasi itu dengan membangun Bait Al-Hikmah. Semacam universitas sekaligus lembaga research, perpustakaam, dll.

Tahun 800an, Bait Al-Hikmah akhirnya melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar muslim.

Penemuan sistem numerik simple oleh Al-Khawarizmi mengakibatkan persoalan-persoalan rumit dalam ilmu matematika menjadi mudah dipecahkan.

Implikasi lebih luas, penghitungan gejala astronomis menjadi lebih tepat. Penghitungan geografis menjadil lebih tepat.

Garis lingkar bumi pun dapat dihitung dengan tepat, meski belum ada foto satelit waktu itu.

Semua adalah hasil ikhtiar maksimal baik dari sisi ilmu eksak para ilmuwan maupun dari kebijakan politik Kekhilafahannya.

Berbeda dengan kita hari ini yang percaya begitu saja bahwa bumi datar, hanya dengan melihat video propaganda dari youtube.

Seratus tahun ke dua peradaban muslim adalah periode keemasan ilmu pengetahuan. Mulai dari Aljabbar, Astronomi, Geografi, Kedokteran, dll. Pada waktu yg bersamaan, eropa tengah tenggelam dalam abad kegelapan.

Semua tercapai karena kesungguhan ummat dalam memenuhi panggilan Allah, sepenuh hati beribadah mahdhon maupun ghairu mahdhoh.

Pengembangan iptek yang dilandaskan pada ibadah, juga aktivitas politik pemerintahan yang juga dilandaskan pada ibadah, serta ibadah mahdoh itu sendiri, telah melahirkan generasi cemerlang dunia akhirat.[]


Tulisan tambahan :

KORUPSI BUKAN MASALAH UTAMA

© Doni Riw

Sebagian orang bilang bahwa masalah utama negeri ini adalah korupsi.

Kesimpulan yg diajukan seseorang atas suatu masalah memang bergantung pada seberapa jauh pemahaman dasar hidupnya.

Bagi orang yg berpikir bahwa harta adalah segalanya, maka analisanya selalu akan berujung harta juga.

Bahagianya sebatas harta.

Kalau jadi mahasiswa, yg penting dapet hibah & beasiswa. Apapun caranya. Meski harus mengabdi pada budaya & ideologi sponsornya.

Jadi aktivis atau ketua ormas juga, kerjanya cari peluang untuk dapet founding dari luar sana. Meski imbalanya musti memukul dakwah saudaranya.

Nanti kalau dapet peluang jadi pejabat, ya gitu juga. Cari sepuluh persen imbalan kemenangan tender perusahaan rekanan.

Jadi pengamat pun akan gitu. Kalimat analisanya tak jauh dari harta. Misal; "dari pada demo, mending cari nafkah untuk keluarga". Seolah tak ada yg lebih penting dari harta.

Contoh lain: "Kamu demo dibayar berapa?"
Kepala yg penuh dengan ilusi harta, tak mampu menyimpulkan bahwa ada ghiroh yg daya geraknya seribu kali lipat dibanding bumi seisinya.

Maka tak mampu pula dia berpikir bahwa korupsi itu hanya buah dari masalah utama, yaitu sistem negaranya yang memang tak sempurna.
.

Post a Comment

0 Comments