Sekulerisme Penyebab Wabah Narkoba

Oleh: Dr. Indrawati, M.Kes, SpGK

Narkotika, psikotropika, dan obat-obatan terlarang telah menjadi momok yang sangat menakutkan bagi masyarakat saat ini.  Pemberitaan di berbagai media massa termasuk media sosial baru-baru ini terkait penyalahgunaan obat bertuliskan PCC yang beredar di Kendari, Sulawesi Tenggara hingga menyebabkan 1 (satu) orang meninggal dunia dan 42 orang lainnya harus dirawat di beberapa Rumah Sakit di Kendari, kembali menambah daftar kasus yang sangat menakutkan seputar peredaran narkoba. Sebelumnya  dua petinggi di negeri ini yang mengeluarkan data dan fakta terkait peredaran narkoba di Indonesia. Mereka adalah Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Keduanya menyampaikan data yang sama, 250 ton sabu asal China masuk ke Indonesia setiap tahunnya.  Belum lagi fenomena oknum yang mengkonsumsi obat-obat penenang tanpa berkonsultasi dengan psikiater banyak sekali jumlahnya. Walaupun awalnya mungkin dokter yang memberikan, banyak ditemukan pasien selanjutnya menggunakan obat tersebut tanpa aturan dokter lagi. Bahkan membagi-bagikannya kepada orang yang sebenarnya tidak memerlukan obat tersebut. Dari mana para pecandu ini mendapatkan obat penenang? Beberapa taktik para pecandu untuk mendapatkan obat resep antara lain dengan memperbanyak kopi resep dan gonta-ganti dokter untuk mendapatkan lebih banyak resep. Di Indonesia, obat-obatan penenang ini bahkan dijual bebas secara online.

  Penyalahgunaan obat  dan peredaran narkoba dalam segala bentuknya telah menjadi warna yang sangat  mengkhawatirkan dari suramnya  masyarakat kapitalistik sekuler ini.  Pandangan materialistik yang dihasilkan dari falsafah sekulerisme (pandangan yang memisahkan agama dengan kehidupan) mendorong manusia untuk beramai-ramai mengejar materi. sekulerisme telah memisahkan sanksi hukum pidana dengan konsep dosa-neraka. Paham ini meniadakan konsep dosa, melahirkan budaya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan materi sehingga pelaku pengedar obat-obatan terlarang merasa aman dari siksa neraka. Dipidana berapa kali pun, ternyata setelah keluar mereka tetap kembali kepada pekerjaan semula.Sama sekali tidak ada efek jera. Bahkan mereka menganggap penjara adalah lahan subur distribusi obat-obatan. Apalagi materi yang sangat menggiurkan di bisnis ini. Asumsi kasar, untuk jenis sabu kualitas wahid, satu gram sabu dapat di hargaiRp. 2 – 2,5 juta, maka silahkan dikalkulasi berapa rupiah untuk penjualan 250 ton sabu. Walhasil anak-anak dan  remaja tidak luput dari ancaman sasaran para pengedar barang ini dalam berbagai bentuk  dan warnanya.

Sekulerisme juga telah mencerabut nilai-nilai moral dan spiritual dalam kehidupan. Dalam kasus penyalahgunaan obat penenang untuk alasan kesenangan (recreational), oknum-oknumnya terjebak dalam dunia fantasi, memandang dunia untuk bersenang-senang dan mencari kepuasan materi dan mengabaikan hidup setelah mati. Standar hidup mereka bukan lagi halal atau haram, tetapi menyenangkan atau tidak. Apa saja  yang dianggap menyenangkan dilakukan bahkan tanpa memikirkan konsekuensi. Ketika materi yang diinginkan tidak mampu didapatkan, generasi yang kehilangan harapan melarikan diri dari masalah lewat obat penenang.

Sekulerisme juga telah mencerabut fungsi keluarga sebagai benteng tempat mendapatkan kasih sayang yang diharapkan mampu melindungi dari berbagai stress yang dialami setiap saat dalam kebuasan suasana kehidupan yang materialis kapitalistik. Suasana masyarakat yang sangat liberal dan individualis tidak mampu melahirkan sikap kepedulian dan kebersamaan untuk mencegah kerusakan wabah penyalagunaan obat dan narkotika. Semua hal ini ibarat benang kusut dan lingkaran setan dalam sistem kehidupan  sekuler yang rusak ini.
Walhasil saatnya kita kembali merenungkan dan mengikuti peringatan Allah SWT akan hal ini:

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar kepada sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak akan lengah dari apa yang kamu perbuat” (QS. Al-Baqarah 2: 85)

Islam merupakan agama yang turun dari Dzat yang telah menciptakan manusia, karena itulah semua syariat dalam hukum-hukum Islam berkesuaian dengan kondisi manusia. Adalah tugas kita bersama untuk menerapkan Islam dalam semua lini kehidupan, bukan hanya karena tuntutan zaman, melainkan pula karena tuntutan aqidah kita sebagai seorang muslim.
Wallahu ‘alam bishowwab.[]

Post a Comment

0 Comments