Revolusi Mental Gagal Selamatkan Generasi Muda

Oleh : Emma Lucya Fitrianty, Pemerhati Masalah Perempuan, Keluarga, dan Generasi

Melihat fenomena akhir-akhir ini di kalangan generasi muda, mereka nampaknya telah tergerus dalam hingar-bingar dunia hedonis, instan dan serba mudah.

Acara-acara TV juga menopangnya dengan menghadirkan acara ajang pencarian bakat anak-anak muda yang menawarkan ketenaran semata dan acara-acara hiburan yang tak mendidik.

Adegan pertengkaran, adu mulut, perkelahian, tawuran ditayangkan tanpa sensor sehingga banyak ditiru oleh anak-anak.

Di Bandung, remaja berinisial SF yang masih duduk di bangku SMP berani menghabisi nyawa temannya secara sadis. Padahal korban yang bernama PD itu pernah menjadi cinta monyetnya alias mantan pacar.

Dia nekat membunuh korban dengan membacokkan palu ke kepala PD hingga korban terkapar. SF melakukan perbuatan keji itu lantaran cemburu siswi SMP 51 Bandung tersebut sudah memiliki pacar baru.

Selain itu, seperti pengakuan SF, dia membunuh karena ingin memiliki HP korban (merdeka.com, 2/9)

Ada lagi di Jakarta, seorang siswa SMP ditemukan tidak bernyawa dalam keadaan tergantung di rumah orang tuanya di kawasan Ciracas, Jakarta Timur diduga karena putus cinta dengan sang kekasih (negeri.co.id, 13/7).

Siswa berinisial FR yang baru berusia 13 tahun itu nekat gantung diri di ruang tamu rumahnya pada Senin (13/7) sore.

Orangtua ABG tersebut sangat terpukul dan tidak percaya anaknya nekat mengakhiri hidup hanya karena persoalan cinta monyet.

Kalau sudah seperti ini siapa yang akan bertanggung jawab?

Untuk mencegah kejadian serupa terjadi, harus ditanamkan pemahaman Islam secara mendalam kepada anak agar mampu membedakan baik-buruk, perbuatan mana yang dicintai dan dibenci oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Pada saat yang sama orang tua harus selalu memperhatikan dan mendidik anak dengan baik sehingga menjadi agent of change yaitu orang-orang yang memiliki pengaruh dan memberikan perubahan terhadap masyarakat.

Perubahan di sini bukan berarti perubahan yang menjerumuskan anak ke jalan yang tidak benar. Akan tetapi menjadi orang yang melakukan perubahan terhadap orang lain untuk menuju jalan yang benar.

Jika lingkungan sekitar kita dipenuhi oleh orang-orang berjiwa agent of change maka akan terwujud generasi yang cerdas, beretika dan bermoral.

Tidak hanya matang secara intelektualitas, tapi juga secara emosional. Jika pun kemudian mereka menjadi entitas berpengaruh yang dapat memberikan sentuhan bakatnya terhadap masyarakat setempat secara rutin dan terus-menerus, dengan syarat didukung oleh political will negara yang serius memperbaiki kerusakan generasi muda, insyaAllah akan terwujud masyarakat yang bermartabat. Semua itu hanya akan terlaksana dengan Sistem Islam. []

Post a Comment

0 Comments