Remaja Pejuang, Penerus Masa yang Akan datang

Oleh: RWijaya (Anggota Back to Muslim Identity Samarinda)

Jika mendengar, melihat maupun menulis kata remaja, yang terbayang pertama kali pasti dekadensi moral yang tengah menjatuhkan mereka ke jurang kehidupan yang paling dalam.

Masa remaja alias pemuda adalah masanya coba coba, katanya. Hal-hal yang dulunya dilarang orang tua untuk dilakukan, kini mulai mereka coba lakukan. Dengan dalih rayuan masa lalu orang tua yang salah kaprah "eh, kalau masih kecil nggak boleh pacar-pacaran. Nanti kalau udah dewasa baru boleh". Akhirnya jurus ini secara tidak langsung membekas di pikiran bawah sadar anak, "Kalau dewasa baru boleh pacaran". Jadilah tatkala dewasa, mereka menjadi aktivis pacaran. Bahkan tak sedikit orang tua yang memberikan dukungan dengan menunjukkan kebanggan kalau anaknya punya 'kawan hidup' dan gelisah jika anaknya tidak punya pacar.

Berawal dari pacaran, terbukalah segala jalan kemaksiatan. Atas nama cinta, kemana-mana berdua. Hingga melakukan kemaksiatan lainnya semisal mengkonsumsi narkoba pun berdua, bahkan berjamaah dengan pasangan sejoli lainnya. Parahnya, ada yang sampai mati gantung diri pun berdua. Duh, sungguh romantis. Tapi romantis yang digiring oleh iblis. Na'udzubillah.

Keadaan ini tak berhenti pada masa sekolah saja. Tatkala memasuki masa kuliah malah semakin parah. Terjerat pergaulan bebas lebih besar lagi peluangnya. Belum lagi paham-paham yang ditawarkan di dunia kampus sangat beragam. Kaum muda yang dulunya "lugu" kini mau tak mau harus siap menempuh lembaran hidup baru.

Berawal dari tawaran gaya hidup yang menggiurkan, para remaja yang beralih ke masa kuliah ini pun terlena dengan kesenangan hidup yang membuang waktu. Aktivitas kuliah yang lebih sibuk daripada saat mereka sekolah, membuat mereka sudah cukup lelah dengan tugas-tugas kuliah. Agar stress hilang, hura-hura bersama kawan-kawan menjadi pilihan. Akibatnya, mereka menjadi seperti zombie. Tidak peduli pada problematika yang tengah melanda ummat. Yang penting kuliah cepet selesai. Yang penting masa mudaku menyenangkan.

Di waktu yang sama mereka lupa bahwa mereka adalah para pemuda yang kelak akan mengarahkan sebuah peradaban. Mereka lupa bahwa mereka adalah orang-orang yang dipersiapkan untuk menyambut estafet kepemimpinan. Lantas, mau dibawa kemana negeri ini jika calon pemimpinnya hanya menghabiskan waktunya untuk kesenangan hidup dunia? Jika begini, maka wajar bila pemimpin yang dihasilkan pun adalah pemimpin yang hanya memikirkan kesenangan hidupnya saja. Buta akan problematika rakyatnya, tuli akan jeritan saudara seiman di belahan dunia lainnya dan bisu karena tak mampu bersuara sesuai fitrahnya.

Sebagai seorang pemuda Muslim sejati, maka selayaknya Islam tetap menjadi mutiara di sanubari. Darinya akan terpancar pola pikir dan pola sikap yang khas. Paham apapun yang coba menyerang akan bisa ia tepis. Bahkan ia akan menjadi pelita ditengah kegelapan. Memecahkan setiap masalah dunia dengan Islam yang mentajasad di jiwa, hati dan pikirannya. Pemuda yang memegang erat Islam sebagai jalan hidupnya inilah yang kelak jika ia menjadi seorang pemimpin, maka ia akan memimpin dunia dengan keadilan. Ia akan memberantas setiap kedzoliman dan yang utama adalah ia akan memimpin atas keridloan Yang Maha Kuasa dengan menerapkan seluruh hukum-hukum-Nya dalam segala aspek kehidupan.

Pemuda, siapkanlah dirimu untuk menyambut masa yang akan datang. Karena Islam tidak lama lagi akan gemilang. Tentu saja mempersiapkan diri pun harus dengan bekal ilmu dan tsaqofah Islam dan berjuang agar Islam memenuhi benak-benak ummat hingga menjadi sebuah sistem yang mengatur kehidupan. Selamat berjuang!
Wallahu a'lam bi ash-Showwab []

Post a Comment

0 Comments