Pria Berbahaya

RemajaIslamHebat.Com - Sejak balita hingga dewasa, friksi antara wanita dan pria akan selalu menjadi tarik ulur yang menentukan wajah pengasuhan keluarga.

Seringkali labelling mengecohkan akal dan hati kita dari memilah bahaya yang kasat mata maupun tak kasat mata.

Jika para pemerkosa, pedofili, tuan jual beli anak, peselingkuh, hingga pelaku dosa remeh seperti PHP pernah menjadi jubah antagonis yang dilakoni para penerus Adam ketika menyusuri takdirnya di dunia, maka ada beberapa lakon lain di mana kita perlu memicingkan mata demi jeli melihat pola kejahatannya.

Pria berbahaya tidak musti mereka yang bertato atau berwajah garang, tidak selalu mewujud dalam lengan kekar atau pak-pak rokok (meskipun rokok memang berbahaya)
Pria berbahaya tidak selalu datang dari luar rumah kita. Bukan selalu orang ketiga.

=====

Pria berbahaya bisa jadi adalah para ayah yang menjadi panutan bagi anak-anaknya.

Dia otomatis berbahaya ketika merepetisi kemalasan dan keacuhan untuk dipertontonkan pada keluarganya.
Keengganan seorang ayah untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, adalah dentum siaga bagi bahayanya pola pikir manusia.

Dia berbahaya karena membentuk penerimaan atas penghambaan wanita. Meneruskan praktik feodalisme, dimana pria adalah juragan dan wanita adalah pelayan. Dunia sudah tidak butuh ketimpangan.

Dia juga berbahaya, ketika secara otokrasi menjadi raja dalam keluarga.
Bahwa segala inginnya menjelma dalam ketok palu yang harus dieksekusi tanpa perlu kompromi.
Bahwa segala titahnya harus dipatuhi tanpa membuka meja diskusi. Keluarga yang terlahir dari tangan dinginnya, hanya akan menyimpan dendam batin yang tak tersampaikan dan siap meledak kapanpun.

Dia melanjutkan sosoknya yang berbahaya dalam kamuflase dewa pengabul segalanya. Menuruti apapun, -apapun- yang diminta anak-anaknya demi misi suci membahagiakan mereka tanpa memasang filtrasi.
Slogan semua boleh, dan semua iya adalah lini mematikan yang baru akan terasa ketika anak beranjak remaja atau dewasa.

Pria berbahaya selanjutnya, bisa jadi adalah suami yang menghangatkan teritori kasur di samping kita.

Bukan karena betapa berpotensinya mereka melakukan tindakan abuse atas fisik atau hati kita. Berbahayanya suami kita juga perlu diukur dari seberapa bijaksana ia meruncingkan peran kesuamian-nya.

Suami kita bisa menjadi berbahaya, saat mereka gagal melihat prioritas.
Ada pria-pria yang terus memaksa istrinya untuk bekerja sementara anak di rumah sedang dalam kondisi amat membutuhkan perhatian dan kehadiran ibunya. Ada pria-pria yang gagal menakar, mana kebutuhan hidup dan mana yang gaya hidup.

Kejantanannya terkebiri, karena menganggap jika istri tidak bekerja maka akan tereduksi rezeki. Pria ini berbahaya, karena orientasinya hanya sebatas materi dunia alih-alih bahagianya berkeluarga dan menikmati kehangatan sederhana.

Suami kita bisa menjadi berbahaya, saat mereka memaksa kita menjadi peserta maraton prestise dunia.
Ada pria-pria yang lupa mengingatkan istri mereka, bahwa evaluasi dan koreksi diri adalah bagian dari menjadi manusiawi. Ada pria-pria yang khilaf, bahwa moto Vini, Vidi, Vici bagi wanita tidak harus selalu berwujud dalam menjadi penguasa klasemen.

Kelaki-lakiannya tersudahi, karena ia tidak mampu mengimbangi ambisi dengan mengingat jurus mensyukuri.
Bahwa terkadang kelelahan dan ketidakmampuan wanita hanya memerlukan penerimaan dan istirahat sementara di tempat alih-alih terus dicambuk dengan lecutan.
Pria ini berbahaya, karena di pundaknya kita tidak bisa menemukan sandaran ketika membutuhkan jeda barang sebentar.

Suami kita bisa menjadi paling berbahaya, saat dia lengah menjaga cemburunya untuk kita.
Ada pria-pria yang hilang ingatan dan bertambah bangga ketika si istri bersolek habis-habisan demi menjadi suguhan visual baik di sosial media maupun di luar rumah.
Ada pria-pria yang telah beku sudut hatinya, ketika tidak peduli apakah istrinya telah menimang dan menyuapi anaknya hari ini alih-alih menghadiri undangan "acara sosial" dari hari ke hari.

Keperkasaannya tereliminasi, karena rasa cemburunya gagal terpatri.
Dalam rumah tangganya tidak membekas kecup posesif yang pantas. Sesuatu yang makin hilang sejak menjamurnya tren tutorial MUA dan komunitas "sosial" yang menjelma dalam banyak versi positif maupun negatifnya.

Lalu pria-pria di rumah kita, sampai mana level berbahayanya?

Apakah kita mampu mereinkarnasi kepribadian kita sebagai jiwa baru yang damai setelah sekian tahun dibesarkan dalam kungkungan ayah yang melemahkan...
Apakah kita sendiri mampu tersadar sebagai entitas yang mempunyai pemikiran valid dan mandiri dari suami yang mempengaruhi...

=====

Dari sekian banyak penghargaan yang akan diterima seorang pria setelah hari panjangnya menjadi businessman piawai, menjadi marketer handal, menjadi insinyur kepercayaan, atau bahkan menjadi figur terkenal.. Pada akhirnya, ketika berkeluarga ia harus merasa tetap haus mengejar ilmu dan memutar pantat untuk merevisi perspektif.

Karena para pria (masih) harus menjadi pemimpin di dalam keluarga.
Kita tidak membutuhkan ekosistem yang diisi oleh anak-anak dengan inner child, anak-anak yang kelewat manja dan terbiasa mendapatkan segalanya dengan berbagai cara, atau istri-istri yang hilang arah dalam menjalani peran dan kelimpungan hilang sandaran.

Maka pria yang paling berbahaya di antara yang lainnya, adalah mereka yang menolak dikoreksi, mereka yang berhenti belajar dan memenggal ilmu agama untuk kepentingan dirinya.

Semoga pria yang menghuni rumah kita, selalu dijaga oleh Yang Kuasa agar tidak menjadi yang berbahaya.

Penulis : Nafila Rahmawati

Sumber:

Fb: Nafila Rahmawati

Post a Comment

0 Comments