Pilihan Hidup

RemajaIslamHebat.Com - Kalau anda menyimak kisah-kisah yang saya sajikan tentang kehidupan lansia, setidaknya ada ada satu pelajaran dari kisah tiap mereka: bahwa kehidupan yang ada di masa tua, baik atau buruk, didasarkan pada keputusan hidup yang diambil di masa sebelumnya. Keputusan yang terkadang salah, meski persoalan yang dihadapi ketika itu sederhana, pada akhirnya melahirkan pilihan hidup yang salah, yang mungkin sudah terlalu terlambat untuk diperbaiki. Saya sendiri, saya akui, tidak selamanya berhasil bersikap adil kepada klien-klien saya, hingga terkadang terlambat memberikan penanganan.

Beberapa minggu terakhir saya terlalu fokus kepada sakitnya salah seorang lansia yang tergolong penting di balai ini, yang kalau salah dalam pelaksanaan prosedur yang sudah ditetapkan, akan memiliki dampak politis besar jika salah penanganan. Akibatnya, saya mengabaikan kondisi salah satu klien yang ternyata drop luar biasa kesehatannya, hingga kemudian meninggal dunia. Ya, meninggal memang domain Allah SWT, tetapi keadilan dalam perhatian ke semua klien, itu tanggung jawab saya.

Mbah Jo, sebut saja itu namanya, yang usianya sekitar 70 tahunan, meninggal dunia. Sebelum meninggal, di kasurnya penuh dengan tinggi atau tungau sehingga kasur tersebut pun perlu dibakar saking banyaknya tinggi. Di kasur itu pula tiga hari yang lalu, sebelum Mbah Jo meninggal, ada sisa BAB dan BAK yang diperkirakan sudah seharian.

Sebenarnya, seminggu sebelumnya sebelum meninggal, saya sempat menemui Mbah Jo. Sekedar mengingatkan padanya akan kemalasannya untuk mengurus diri. Saya mendapati kamarnya penuh dengan laturan minyak tanah dan kapur Bagus yang ditumbuk. Larutan untuk membunuh kutu busuk atau tinggi. Setidaknya saat itu saya suruh pula dia menjemur kasur agar tinggi-tinggi yang ada di situ bisa mati berkurang. Tetapi mungkin, karena Mbah Jo tidak terlalu peduli, perintah saya tidak dilaksanakannya.

Dulunya, Mbah Jo dibawa ke Balai ini dari Camp Assesmen Gelandangan Pengemis. Riwayatnya dulu terciduk atau tergaruk oleh SATPOL PP ketika tidur di satu jalan utama di DIY. Pernah sekali dari Balai ini dia melarikan diri, tetapi terciduk lagi dan masuk lagi ke sini hingga akhirnya meninggal. Wataknya pendiam, perawakannya kecil, tidak berniat mengurus diri sendiri sehingga berhari-hari badannya bau karena tidak mandi, tidak ganti baju dan celana, tidak mengurus kamar dan perlengkapan dia sendiri. Maka sering kami memandikannya secara paksa, bagian dari kekerasan yang harus kami lakukan kepada simbah-simbah yang mengabaikan kebersihan dirinya sendiri.

Karena sikapnya yang introvet, atau mungkin komunikasi verbalnya yang tidak lancar, maka tidak ada kisah hidup yang bisa saya tuliskan dari assesmen bersama dia. Barulah ketika kami mengantar jenazahnya ke desa asal dia untuk dikebumikan, saya berhasil menyingkap tabir masa lalu Mbah Jo, dari pembicaraan dengan warga.

Dulunya, Mbah Jo pernah menikah dengan salah seorang perempuan di desa itu. Mbah Jo berasal dari keluarga biasa yang hidup bertani, tetapi lain dengan si perempuan yang memang berasal dari keluarga mampu. Ketika menikah, tanah, rumah dan semua isi dan perabotan di dalamnya berasal dari keluarga si perempuan. Meski tidak berketurunan, mereka jalani hidup dengan baik. Mbah Jo, selain bertani, juga memelihara kambing kesayangannya. Orang jawa bilang kelangenan.

Sampai kemudian, entah karena sakit atau kejadian apa, istri Mbah Jo meninggal dunia. Mbah Jo sangat terpukul sehingga selama beberapa hari atau bahkan bulan, dia semacam tidak sadar diri. Hanya mengurung diri di kamar dia. Karena khawatir tidak ada yang memperhatikan, Mbah Jo dibawa ke rumah atau keluarga adiknya.

Hingga kemudian Mbah Jo pulih, sadar dan memiliki semangat hidup, dia kembali ke rumahnya. Tetapi sayang, kejadian buruk tidak sempat dia saksikan. Rumah ternyata sudah dijual oleh keluarga istri. Demikian pula dengan kambing kesayangannya. Ada semacam intrik atau politik yang terjadi dari pihak keluarga istri yang kemudian tidak rela bahwa semua harta yang berasal dari si istri jatuh ke tangan Mbah Jo.

Mbah Jo tidak bisa melawan. Dia sadar siapa dirinya dan kemampuannya. Karena itulah dia tidak menuntut. Tetapi cobaan itu begitu hebat dan di luar batas kesanggupannya: istri meninggal, harta lepas, kambing lepas. Depresi dan putus asa. Maka tidak berapa lama, dia memutuskan pergi dari kampungnya itu. Menggelandang, hidup segan mati tak mau dan hanya berharap maut menyambutnya, karena mungkin hanya dengan cara itu kenangan indah bersama istrinya bisa kembali. Beberapa tahun hidup di jalanan bersama dengan ketidakpedulian terhadap dirinya sendiri, hingga mengantarkannya menjadi klien di Balai ini.

Itulah. Seandainya kisah itu terbongkar di awal, seandainya Mbah Jo lebih terbuka dengan dunia ini, dan seandainya keputusan hidup dia tidak sefatal itu, mungkin saja dunia menjadi lebih indah bagi Mbah Jo. Tetapi memang membongkar misteri di tiap kepala klien itu tidak semudah menjawab TTS di KR. Saya masih harus banyak belajar, belajar dan belajar lagi…. 

Tempel, 7 Oktober 2017

Penulis : Feriawan Agung Nugroho

Post a Comment

0 Comments