Pernikahan Ala Rosulullah

Oleh : Ustadzah Lia Herasusanti.

LAGI rame bahas poligaminya pak Ustadz.  Saya mah terus terang males bahas yang kayak gituan.  Bukan karena kontra. Tapi itu hal mubah.  Jadi apa istimewanya buat dibahas.  Seseorang melakukan hal mubah toh tidak berkorelasi pada pahala ataupun siksa. Yang harusnya diributin justru pelacuran dan selingkuhan yang jelas-jelas haramnya.

Tapi bahasannya jadi lain, kalau kemudian ada yang mengaitkan masalah kebolehan poligami dengan pribadi Rosulullah.  Ada sebagian orang yang pikirannya sedikit konslet mengatakan bahwa kemubahan poligami adalah legalitas bagi Rosulullah untuk memuaskan nafsu syahwatnya.

Hellowwww...
Kurang belajar siroh kayaknya nih orang

Dalam siroh dijelaskan, bahwa Rosulullah menikahi Khodidjah pada usia 23 tahun.  Dan hingga Khodidjah meninggal, setelah menikah selama  28 tahun, hanya beliaulah satu-satunya istri yang dicintainya.  Padahal waktu itu,  di tengah-tengah masyarakat Arab, terbiasa hidup dengan istri 2,3,4,5 bahkan lebih.

Bisa dipahami dari penggalan kehidupan Rosulullah ini, bahwa Rosulullah jauh dari sifat mata keranjang seperti yang dituduhkan para pembenci Islam.

Betul bahwa setelah Khodidjah wafat, ketika usia  Rosulullah telah menginjak 50 tahun beliau menikah dengan sepuluh istri.  Namun pernikahan yang dilakukannya bukan karena dorongan syahwat tetapi lebih karena beberapa pertimbangan politis.

Lihatlah bagaimana ditahun yang sama dengan meninggalnya Khodidjah, atau 3 thn sebelum hijrah,  Rosulullah menikahi Aisyah (6 thn), putri sahabatnya Abu Bakar Sidik, yang notabene nya masih sangat kecil,  sehingga tak dapat melayaninya baik secara kebutuhan jasmani maupun rohani.  Dan Rosulullahpun belum membawanya ke rumahnya hingga usianya menginjak 9 tahun.

Ditahun yang sama juga, Rosulullah menikahi Sawdah Binti Zam'ah, janda sahabat Rosulullah yang menurut riwayat tidak memiliki kecantikan, kekayaan maupun kedudukan sebagaimana layaknya laki-laki genit sekarang mencari istri.

Ditahun kedua Hijrah, Rosulullah kembali menikahi Hafsah binti Umar bin Khaththab yang merupakan janda dari sahabat yang pertama-tama masuk Islam, Khunays. Dan juga putri dari sahabat Rosulullah, Umar bin Khaththab.

Pada tahun kellima Hijrah Rosulullah menikahi Juwayriah binti al-Harits.  Beliau adalah putri dari seorang pemimpin bani Mushthaliq.  Sebuah kabilah yang telah ditundukkan oleh Rosulullah.  Pemimpin kabilah tersebut akhirnya masuk Islam dan putrinyapun masuk Islam dan  dinikahi oleh Rosulullah.

Pada tahun ketujuh Hijrah,  Rosulullah kemudian menikahi pula Shafiyah binti Huyay bin Akhthab.  Shafiyah adalah putri seorang pemuka yahudi yang suami, ayahnya, dan kaumnya terbunuh dalam perang Khaibar.  Sebagai tawanan perang, Rosulullah mengangkat derajatnya dengan menikahinya. 

Ditahun kedelapan Hijriyah, Rosulullah menikahi Maymunah, yang merupakan saudara dari istri pamannya Rosulullah Abbas ibn 'Abd al Muthalib.  Pernikahannya dilakukan setelah  Rosulullah diperbolehkan melakukan umroh sesuai kesepakatan perjanjian Hudaibiyah.  Rosulullah dan kaum muslimin yang diperbolehkan ke Mekkah hanya dalam waktu 3 hari, memanfaatkan pernikahan dihari ke 3 keberadaannya di Mekkah untuk meningkatkan saling pengertian antara dirinya dan orang-orang Quraisy.

Selanjutnya Rosulullah menikahi Zaynab binti Khuzaymah dan Ummu Salamah.  Keduanya adalah janda dari sahabat-sahabat Rosulullah yang syahid dimedan peperangan.  Janda-janda sahabat ini keduanya saat dinikahi sudah tidak muda lagi.  Bahkan  Ummu Salamah adalah janda tua yang memiliki banyak anak.

Sedangkan pernikahan Rosulullah dengan Ummu Habibah binti Abu sufyan adalah pernikahan dengan seorang muslimah yang tetap bertahan dengan keislamannya disaat orangtuanya masih kafir dan suaminya murtad setelah hijrah ke Habsyah.

Adapun pernikahan Rosulullah dengan Zaynab binti Jahsyi adalah pernikahan yang ditetapkan Allah untuk menghancurkan pemahaman masyarakat tentang masalah kafa'ah ( kesetaraan) dan untuk menghancurkan kepercayaan masyarakat bahwa seorang anak angkat sama kedudukannya dengan anak kandung.  Kedua alasan inilah yang mengakibatkan Rosulullah menikahi Zaynab, mantan istri dari budak yang diangkat anak oleh Rosulullah yang bernama Zayd.

Dari membaca siroh Rosulullah ini, jelas bahwa pernikahan yang dilakukan Rosulullah bukanlah pernikahan untuk mengejar kesenangan syahwat.  Ada tujuan-tujuan lain yang hendak diraih, disamping bahwa semua yang dilakukannya memang berdasarkan tuntunan dari Allah SWT.

Adalah sebuah perbuatan keji jika melontarkan tuduhan yang tak didasari pengetahuan tentang bagaimana kehidupan Rosulullah sebenarnya.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :َ

Artinya : “Mereka  hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (Q.S. Ash-Shaff [61] : 8).
Allahu A’lam bishshawwab.

Post a Comment

0 Comments