Pasien Bukan Nasabah!!!

Oleh : Nur Baya

Adakalanya kita sebagai tim medis dituntut untuk memperlakukan pasien layaknya seorang nasabah bank.

Oke lah untuk beberapa hal kami sepakat, 5 S ala pertamina sebaiknya memang kita terapkan.

Sependek ingatan saya klo tidak salah 5 S itu = Senyum, salam, sapa, sopan, santun.

Sebelum melanjutkan membaca, senyum dulu yuk? Minimal menghadiahi diri dengan senyum diri sendiri, hehehe

Ok, lanjut..

Mmmm, mari kita menghadirkan sesuatu terlebih dahulu di alam pikiran. Bayangkan gedung Bank BNI, BRI, BCA, MANDIRI, atau bank apa saja terserah. Suka-suka Anda, asal jangan membayangkan Bank-ku kuliah bersama si mantan terindah yah, hahaha.

Selanjutnya bayangkan gedung Rumah sakit, terserah Anda juga, mau membayangkan rumah sakit kelas Daerah, Provinsi, sampai rumah sakit bertaraf internesyenel.

Suka-suka Anda pemirsa. Membayangkan juga RS tipe C, tipe B, dst boleh-boleh saja asal jangan menghayalkan penyakit tipe-S alias Thypoid yah, hehehe.

Oke, setelah puas membayangkan gedung Bank dan gedung RS, sekarang tugas Anda mengingat-ingat aktivitas di dalamnya, kondisi ruangannya, dan siapa-siapa yang berkunjung ke tempat tersebut.

Sudah?

Kita coba menarik sedikit kesimpulan sederhana pemirsa yah.

Yang bertandang ke Bank itu mayoritas orang ''waras'',  datang dalam keadaan sehat walafiat, urusannya tidak jauh-jauh dari Dewa dunia (baca, duit), 80% orang berpendidikan, klopun tidak berpendidikan minimal didampingi orang berpendidikan.

Datang ke Bank dengan penampilan layaknya mengunjungi mall atau tempat-tempat penting, intinya rapi jali, wangi dan bersih.

Mulai dari satpam, CS, dan Teller dengan ramah bertanya, ada yang bisa kami bantu pak/bu? Tak lupa sunggingan senyumnya bikin hidung nyamuk yang belang meler sampe teler, hehehe bercanda.

Suasana Bank tenang dan adem ayem bukan? Suhu ruangan yang disetting berasa berada di tepi kutub Selatan. (Eh Selatan apa Utara seehh, ato semua kutub dingin yaaahh )

Yang pasti sih kutuk ibu itu paling dingin, saking dinginnya sampe-sampe si Malin Kundang membeku jadi -es- batu .

Baiklah, sekarang kita beralih ke rumah sakit yah.

Tak sedikit keluarga pasien yang komplain habis-habisan, kok pelayanannya gitu sih, koq perawat/bidannya ketus amat sih, bukannya harus mengutamakan pelayanan? Lihat tuh di Bank sana, pelayanannya mantapppp.

Hehehe, statement diatas gak salah sih, benar 10000000% malah. Tapi mari kita mencoba membuka jendela mindset kita. Kita geser sedikit, yuppp sikkiiiii' saja tak usah banyak-banyak .

Bapak-bapak, ibu-ibu semua yang ada di sini (Lagu mba Inul Dara Tista) jangan goyang yukkk.

Makin ngelantur saiahhh, hahaha emak-emak jaman NOW emang begini, susah ditebak pemirsa .

Baiklah, kita lanjutin yahhhh.

Perlu Anda-Anda ketahui bahwa untuk beberapa hal di RS mengharuskan pegawainya tak selemah lembut dan tak segemulai pegawai Bank.

Di RS tuh, aroma kepanikan memantul di seluruh tembok RS, grasak grusuk keluarga yang semuanya ingin mendahulukan keluarganya (padahal dokter / pegawai RS) insya Allah dengan kapasitas keilmuan yang diberikan Allah bisa mendiagnosa, mana pasien yang urgent ditangani terlebih dahulu, mana yang emergency dan mana yg bisa menunggu.

Tapi manusiawi koq kalo kita ingin diprioritaskan, cumaaaaa..

Cuma tiap RS punya SOP (Standar Operasional Prosedur) Pak/Bu. Dan SOP ini bersifat baku dan paten, jadi kudu sabar yaaahhh.

Next..

Di rumah sakit tuh apalagi di UGD akrab dengan darah, muntah, kadang feses dan jeritan-jeritan melengking yang bisa saingan dengan Ms.Kunti, hehehe.

Jadiiiiiii...

Jadi dalam penerapan 5 S kadang gak relevan atau bahasanya apa yah? Mmmm intinya gak sempat lagi deh.

Masak ia ada pasien datang dengan kondisi fraktur tulang disertai luka menganga trus masih sempat-sempatnya menelungkupkan tangan sambil senyum manis ala pegawai bank dan tak lupa dengan intonasi suara yang super empuk seempuk roti sobek lalu berkata ''Selamat pagi bapak, ada yang bisa kami bantu???''.

Belum lagi yang bertandang ke rumah sakit masing-masing kalangan punya perwakilan. Yg lugu, polos dan susah diajak komunikasi ada.

Yang cerdas sekali juga ada. Yang kaya sentosa raya ada sampai yang melarat kelas pauspun juga ada.

Btw, di rumah sakit pemandangan si pengantar pasien bisa 1 bataliyon hingga 1 kampung. Nah, menenangkan pengantar pasien ini kadang butuh tenaga ekstra juga.

Suasana di RS heterogen tingkat langit ke 7 pemirsa yang semoga budiman .

Sebagai penutup perlu saya sampaikan sedikit informasi bahwa dalam merespon
pasien yang perlu diperhatikan mencakup 3 hal yaitu reaksi membuka mata (Eye), bicara (Verbal) dan gerakan (Motorik).

Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam derajat (score) dengan rentang angka 1 – 6 tergantung responnya.

(Silahkan Anda googeling about pemeriksaan GCS untuk informasi yang lebih komplit).

Yang jelas saat kita melakukan anamnese terhadap pasien, respon mereka beragam, ada yang alhamdulillah nyambung, ada yang ditanya ayam jawab unta.

Ada yang nyerocoooooooossss melulu tak terkendali, tapi ada juga yang diam membisu disertai tatapan kosong. (kira-kira yang potongannya seperti ini pernah mampir di bank? Hehehe, klo ia berarti Ayu Tinting salah kasih alamat, jadinya alamat palsu )

Klasifikasi kondisi pasien saat ''bertamu'' di RS seperti di bawah ini.

1. Composmentis : 15-14
2. Apatis : 13-12
3. Delirium : 11-10
4. Somnolen : 9-7
5. Stupor : 6-4
6. Coma : 3

Belum lagi menangani pasien yang keras kepala, bandel dan (maaf)sotoy, duuuuhhhh...  Plissssss deeeeehhhh!!!!

So, maafkan kami petugas medis jika kadang pelayanan kami tak sesuai ekspektasi Anda, tapi jauh dari lubuk hati kami yang paling dalam, jika Anda atau keluarga Anda menginginkan 10 kesembuhan maka kami menginginkan 100 kesembuhan untuk Anda.

Jika Anda bahagia setelah sehat, maka kebahagiaan kami justru berlipat-lipat karena telah berhasil menjadi perpanjangan tangan Allah memberi kesembuhan.

Kepuasan batin kami tak terbayar dengan setumpuk dolar tatkala Anda sukses melewati masa-masa kritis, lalu Anda dinyatakan sehat.

Kami mencintai pasien-pasien kami. We love you.

Kalo sudah sehat silahkan jalan-jalan ke Bank untuk ''cuci mata'' atau cuci uang (baca, sedekah).

Bravo tim medis, Indonesia  .

#30DWC9Day21

**Nurb@y@ Tanpa Siti

Post a Comment

0 Comments