Pagi

Oleh : Wina Risman

Bagaimana suasana pagi di rumah anda? Terutama pada hari kerja/sekolah?
Rame dan hiruk pikuk pastinya. Apalagi jika ada anak lebih dari dua. Mempersiapkan agar mereka sampai sekolah tepat waktu tanpa ketinggalan suatu apapun. Sekaligus melatih kemandirian dan kedisiplinan, yang terkadang terasa masih sangat jauh dari kesempurnaan. Belum lagi membantu persiapan sang ayah yang juga ngak kalah repotnya.

Jika anda ada sedikit saja  waktu luang, saya ingin mengajak anda untuk melihat kembali bagaimana suasana pagi di rumah anda? Apakah ada ketengangan yang terekskalasi atau meningkat? Suara yang meninggi karena anak belum juga melakukan apa yang disuruh, dan waktu berjalan terus? Ataukah pagi yang tenang? Dimana semua saling tersenyum dan mengucapkan selamat pagi kepada sesama? Yang mana?

Coba anda bayangkan suasana pagi di rumah anda, dan memposisikan diri sebagai seorang penonton. Suasana apakah yang sedang anda lihat?

Pertanyaan berikutnya, sudah berapa lama seperti itu?

Pagi adalah awal hari yang menyimpan banyak keberkahan. Seakan diberi izin oleh sang pencipta untuk memulai kembali dengan bersih. Saya dengar dari ustadz, bagaimana harimu, ditentukan oleh bagaimana sholat shubuhmu. Entahlah itu kata bijak atau dalil, saya menganggapnya baik, dan mempercayainya. Burung mencari rezekinya di pagi hari, dan pasti dapat. Siang sudah pulang, membagikannya kepada keluarga. Itu burung. Harusnya, kan manusia lebih baik.

Saya tergelitik menulis tentang pagi, ketika suatu hari, saya membaca sebuah artikel tentang pagi, yang sangat menampar saya sebagai ibu dan istri di rumah tangga saya.

Artikel dimulai dengan pertanyaan seperti diatas, 'bagaimana pagimu?'. Lalu artikel itu menjelaskan, bahwa terkadang kita lupa, menyiapkan dan menjalani pagi dengan bahagia. Pagi kita selalu diisi dengan stress tingkat dewa. Apakah yang dipersepsi anak-anak tentang semua ini? Akankah pagi yang seperti ini yang akan menjadi rutinitas mereka selama mereka diusia sekolah? Pagi seperti inikah yang kita ingin mereka kenang?
Yang pastinya, mereka akan mengulangi hal yang sama, diluar sadar mereka, ketika mereka berumah tangga kelak.

Artikel itu juga sedikit megingatkan bahwa, jangan jangan, pagi yang tinggi tingkat stress tersebut sudah menjadi sebuah kebiasaan di rumah tangga anda, sehingga anak-anakpun sudah menganggap itu wajar dan biasa.

Waduh

Saya lantas berkaca, sedih tapi saya harus berubah. Dimulai lagi lagi dengan mengatur schedule yang lebih rapi, sejak malam. Selalu disounding tentang perlunya disiplin dalam kehidupan. Pujian tehadap keberhasilan-keberhasilan kecil yang mampu dilakukan anak sepanjang jalan. Misalnya jika si tengah sudah mandi tepat waktunya, dan lebih dulu dari saudara-saudaranya. Dipuji, dipeluk dan tanpa diberi tahu dua minggu kemudian dapat apalah, coklat atau apa, dan katakan itu adalah sebagai hadiah dari hebatnya ia mandi pagi tepat waktu dan paling duluan selama beberapa hari terakhir.

Perhatikan senyum kegembiraan, ketika kita mengapresiasi hal -hal kecil tersebut. Juga perhatikan bahagianya ia diberi coklat sebagai reward yang tidak dikira-kira.. karena ia bukanlah iming iming.

Disiplin itu ditumbuhkan dari dalam diri. Ia harus menjadi faktor internal yang dimiliki anak. Tugas kita adalah mengajarkan dan memahamkan kenapa ia penting. Sehingga, kita tidak perlu lagi tegang tingkat tinggi dan atau teriak-teriak mengingatkan apa yang mesti dilakukan.. pagi-pagi (terkadang sore dan malam juga). Jika sampai saat ini, itu masih terjadi, berarti disiplin yang ada pada anak masih external, artinya orang lain yang mengontrolnya, bukan dirinya sendiri.  Sehingga, jika orang lain itu tiada, begitu juga dengan disiplin yang sudah ditanamkan olehnya.

Disiplin adalah produk konsistensi dan ketekunan. Ngak mungkin ada tanpa dua hal itu.

Saya sempat terkejut dan takjub ketika berbicara dengan seorang ibu, kawan dari anak saya. Mereka orang Afrika,  suaminya itu tahfidz Qur'an Masha Allah. Ternyata di keluarga itu, ngak perduli anak umur berapa, dari sedini mungkin, satu rumah dibangunkan setengah jam sebelum shubuh, sholat tahajud bersama, sampai sholat subuh. Lalu anak-anak bersiap untuk sekolah. Walau anak-anak itu tekantuk kantuk, tapi ini masalah pembiasaan. Setelah beberapa waktu, makan anak pun terbiasa, walau dia baru usia TK.

Oleh karena bangun awal tadi, setelah sholat shubuh, anak-anaknya bisa 'beroperasi' dengan normal dan cepat, dan tidak pelan-pelan layaknya orang yang baru dibangunkan. 

Masha Allah! Memang Allah tidak bohong tentang keberkahan pagi. Oleh sebab itu saya semakin percaya, pagimu adalah bagaimana shubuhmu.

Yuk kita ciptakan pagi yang lebih ramah, disiplin dengan kasih sayang. Peraturan dan kejelasan yang berterusan (ditekankan bisa melalui cerita, terutama bukan di pagi harinya).  Puji setiap keberhasilan kecil. Lihat perubahannya.

Mari menyambut pagi dengan senyuman, rendahkan oktaf suara, pelukan dan pujian.

Pagi adalah permulaan hari bagi keluarga kita.  Mari mulai dengan keindahan. Minimal diusahakan. Ibu adalah tolak ukurnya, ibunya tenang, suasana terkendali dan nyaman.

Bukankah pengasuhan itu meninggalkan kenangan?

Wallahu a'lam bis shawab

Post a Comment

0 Comments