Nizhamul Ijtima’i Fil Islam, Sistem Yang Hilang

Oleh: Deasy Rosnawati, S.T.P.
(Pemerhati Persoalan Perempuan Keluarga dan Generasi)

Seorang pedagang laki-laki menggoda pembelinya yang perempuan saat tawar menawar. Bolehkah hal ini dalam Islam? Tidak boleh. Dalam bab jual beli kah ketidak bolehannya dijelaskan? Bukan.

Seorang guru perempuan mengajar di depan kelas dengan dandanan menawan. Para murid laki-laki terpesona, hingga tak bisa memperhatikan pelajaran. Bolehkah seorang perempuan bersolek hingga mempesona laki-laki yang bukan suaminya? Tidak boleh. Dalam bab ta’lim kah ketidak bolehan ini dijelaskan? Bukan.

Seorang perempuan bekerja sebagai sekretaris sebuah perusahaan. Setiap ada meeting, ia pergi berdua bersama bosnya. Bolehkah seorang perempuan berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahromnya? Tidak boleh. Dalam bab upah mengupah kah ketidakbolehan ini dijelaskan? Bukan.

Seorang laki-laki sedang menghadiri undangan pernikahan. Tanpa sengaja ia duduk disebelah seorang wanita. Bolehkah sebuah walimah digelar tanpa memisahkan tempat duduk tamu laki-laki dan perempuan? Tidak boleh. Dalam bab perintah walimah kah ketidak bolehan ini dibahas? Bukan.

Lalu, dalam bab apa, kita temukan pembahasan mengenai semua persoalan ini? Jawabnya Nizhamul Ijtima’i fil Islam. Salah satu sitem yang ada dalam Islam. Ia mengatur bagaimana laki-laki dan perempuan menjaga diri; dalam pakaian dan sikap, saat keduanya bertemu dan berinteraksi.

Nizhamul ijtima’i fil Islam juga memecahkan berbagai persoalan yang muncul akibat lanjut pertemuan laki-laki dan perempuan. Misalnya, ketika keduanya ternyata saling tertarik, maka Islam menjelaskan, jalan halal yang harus mereka tempuh yaitu pernikahan. Selanjutnya, juga menjelaskan bagaimana jalinan hubungan suami istri dibangun, bagaimana dengan pengasuhan anak, bagaimana jika mereka bercerai dsb.

*Sistem Yang Hilang

Nizhamul ijtima’i fil Islam adalah sistem yang hilang. Sistem ini perlahan menghilang dan tidak dikenal oleh kaum muslimin sejak paruh kedua abad ke-18 M. tepatnya ketika Eropa tiba-tiba bangkit dengan revolusi industri.

Kaum perempuan Eropa yang semula dianggap warga negara kelas dua, karena hanya ibu rumah tangga yang tidak menghasilkan materi, memanfaatkan revolusi industri untuk bangkit menuntut kesetaraan. Ketika itu, industri yang menjamur membutuhkan tenaga kerja murah. Kaum perempuan Eropa pun menyambut keberadaan industri ini untuk menjadi buruh-buruh di dalamnya. Dengan begitu, mereka memperolah pemasukan dan berhak untuk disetarakan dengan kaum laki-laki.

Bila laki-laki bekerja, perempuan pun harus bekerja. Bila laki-laki boleh bersekolah, maka perempuan pun harus bersekolah. Bila laki-laki boleh menduduki jabatan tertentu, maka perempuan pun boleh menduduki jabatan yang sama. Intinya, perempuan tidak mau dibedakan sama sekali dengan laki-laki.
Akibatnya, terjadilah campur baur kehidupan laki-laki dan perempuan sebagai ekspresi kesetaraan. Selain campur baur, kaum perempuan barat, juga mengekspresikan diri dalam pakaian dan tingkah laku mereka. Mereka mengumbar aurat, menampakkan kecantikan dan keelokan tubuhnya.

Dunia Islam yang tengah dilanda stagnasi dalam pemikiran, silau dengan revolusi industri. Dunia Islam pun terpengaruh perubahan tata sosial masyarakat Eropa. Kaum muslimah menyangka pakaian perempuan Eropa yang terbuka adalah pertanda kemajuan. Campur baurnya mereka adalah tanda kemuliaan masyarakat yang patut ditiru. Maka, berbondong-bondonglah kaum muslimah di negeri-negeri Islam berprilaku meniru kaum perempuan Eropa. Hingga terjadilah kerusakan akhlak.

Reaksi ektrim terjadi. Sebagain kaum muslimin melihat perubahan ini sebagai kerusakan yang mengancam. Akibatnya, kaum perempuan pun dihijab secara total. Tak boleh melihat dan dilihat laki-laki, tidak boleh berinteraksi dengan laki-laki. Tentu saja tindakan ini menghasilkan perlawanan dari kaum muslimah, yang justru berdampak pada, makin kuatnya penerimaan mereka terhadap peradaban barat.
Sejak saat itu, perlahan namun pasti, kaum muslimin kehilangan gambaran Nizhamul ijtima’i fil Islam.
Dan ketika Khilafah runtuh pada 3 Maret 1924 hingga saat ini, kita dapati kaum muslimin laki-laki dan perempuan berinteraksi secara bebas, persis interaksi para penganut peradaban barat.

Wallahua’lam.

Post a Comment

0 Comments