Nikah Sirri dan Lelang Keperawanan

Oleh : Kholda Naajiyah

Tujuan menikah bukan mengubah zinah menjadi ibadah, bukan pula solusi mengentaskan kemiskinan.
.
***
.
Dilelang keperawanan! Harganya 400 jutaan. Milik gadis Tiongkok, Xu Yanhua (19). Uangnya untuk biaya pengobatan saudara yang menderita kanker darah, serta membayar utang  keluarga. Ada yang mau beli?
.
Astaghfirullah! Fenomena jual keperawanan demi uang itulah yang menjadi inspirasi menyesatkan bagi Aris Wahyudi, sang penggagas aplikasi nikahsirri. Dengan tagline "mengubah zinah menjadi ibadah," program ini menjebak para perawan dan perjaka untuk menjual kelaminnya demi mengatasi problem keuangan.
.
Sebab, menurutnya, orang-orang miskin pasti punya aset paling berharga miliknya: keperawanan. Jika dijual dengan harga tinggi, tentu akan menaikkan taraf hidup. Mengentaskan kemiskinan, menuju Indonesia sejahtera. Na'udubillahi minzalik.
.
Berkedok istilah nikah siri, program ini juga “mempermudah” orang untuk “menikah”. Cukup klik fotonya, langsung bisa nikah. Sebab, semua yang bergabung di situ, sudah berkomitmen siapapun yang mengklik fotonya harus mau dinikahi. Tidak ada proses ta'aruf, saling mengenal dan sebagainya.
.
Bagaimana jika setelah nikah ternyata tidak cocok? Ya, tinggal cerai. Talak tanpa perlu ke Pengadilan Agama, toh hanya nikah siri. Jadi gak perlu ribet. Ini yang disinyalir semacam nikah kontrak, atau bahkan prostitusi. Nikah jadi ajang legalisasi seks semata. Demi penyaluran libido biologis, karena menurutnya Indonesia akan damai jika nafsu seks masyarakatnya terpenuhi dengan mudah. Astaghfirullah!
.
SESAT PIKIR
.
Nikah Sirri dari bahasa Arab, yang artinya “nikah rahasia". Nikah yang dirahasiakan atau tidak diumumkan kepada publik. Di masyarakat umum, dipahami arti nikah sirri sebagai pernikahan yang  dilakukan tidak di hadapan  pegawai pencatat nikah (PPN) dan tidak dicatatkan  di Kantor Urusan Agama (KUA). Biasanya akad saja oleh penghulu setempat, tanpa resepsi/walimahan.
.
Istilah nikah sirri ada, karena kehidupan bernegara saat ini yang sekuler. Masalah agama dipisah dari negara. Nikah yang sah menurut agama, tidak otomatis tercatat di dokumen negara. Walhasil banyak orang yang mempermainkan pernikahan, menganggap enteng karena toh “hanya” nikah sirri. 
.
Seolah, jika tidak terdokumen dalam catatan negara, maka bebas dari konsekuensi hukum syara' seputar pernikahan. Seperti mudahnya main talak, karena toh tanpa melalui proses bertele-tele di Pengadilan Agama. Juga, adanya pandangan jika pasangan nikah sirri tidak akan mendapatkan harta gono-gini pasca perceraian. Padahal jika pernikahan sah, hak dan kewajiban pascatalak tetap berlaku.
.
Praktik nikah sirri juga dimanfaatkan oknum-oknum Muslim, seolah-olah menghindari maksiat. Seperti kawin kontrak, hanya agar tidak dianggap berzina. Nikah sejam-dua jam, atau beberapa hari bersama wanita, sehingga masing-masing tidak menjalankan hak dan kewajiban suami istri. Berpoligami tanpa keterbukaan pada istri terdahulu, disebabkan motif bulus suami. Nikah karena zina atau hamil duluan, sekadar menutupi rasa malu. Jelas ini menyesatkan.
.
Saat ini, nikah sirri ada karena menikah melalui Departemen Agama tidak dipermudah (untuk tidak dikatakan dipersulit). Seperti terbentur biaya, kelengkapan dokumentasi, hingga persyaratan-persyaratan khusus bagi pelaku poligami. Sementara rendahnya taraf berpikir dan pendidikan masyarakat, banyak yang tak peduli dan tidak mau ribet dengan urusan administrasi seperti ini. Hal ini yang menyuburkan nikah sirri.
.
Dalam peradaban Islam, ketika sistem Khilafah tegak kelak, tentunya tidak dikenal lagi istilah nikah sirri. Nikah, ya nikah saja. Semua pernikahan, selama terpenuhi rukun sahnya, otomatis akan tercatat dalam dokumen negara Islam. Baik nikah ada resepsi atau tanpa resepsi, petugas negara yang ditunjuk yang melakukan pernikahan. Tidak boleh sembarang orang.
.
Memang, kaum muslimin pada zaman dahulu mencukupkan diri untuk melangsungkan nikah dengan lafadz dan saksi, tanpa memandang perlu dicatat resmi atau tidak. Namun, dengan kondisi zaman yang berkembang, dimana dimungkinkan para saksi lupa, lalai, meninggal dunia, dan sebagainya, pencatatan akad nikah secara tertulis menjadi keniscayaan. Dan, itu menjadi tugas negara.
.
NIKAH ITU IBADAH
.
Nikah bukanlah jalan untuk menghalalkan perzinahan. Tujuan utama menikah adalah ibadah. Menggenapi setengah agama, sekaligus melestarikan keturunan. Demi menjalankan syariat-syariat Islam seperti hukum nafkah,  hadhonah, nasab, waris, dll. 
.
Motif nikah bukan melampiaskan gejolak syahwat, menutupi aib, daripada zina, atau mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Maka itu tidak ada di dalam Islam kawin kontrak atau nikah mut'ah. Nikah harus diniatkan untuk seumur hidup. Tidak dibatasi waktu, tempat dan kondisi. Jika di dalam perjalanan biduk rumah tangga karam, bukanlah sesuatu yang direncanakan sejak awal. Tetapi itu adalah ketetapan Allah SWT semata. 
.
Pernikahan bukan pula solusi untuk mengatasi kemiskinan. Meskipun, biasanya setelah menikah, Allah SWT memberikan berbagai kelimpahan rezeki yang membuat “kaya” kedua pasangan. Maka, pernikahan tidak dibangun di atas landasan materi.
.
Nikah bukanlah transaksi jual-beli kelamin. Adanya syarat mahar, bukanlah sebagai simbol pembelian keperawanan. Mahar bersifat pemberian atau hadiah dari calon suami, bukan alat tukar untuk membeli kelamin perempuan. Islam tidak merendahkan perempuan dengan memperjualkan alat kelaminnya.
.
JADI TUMBAL
.
Ide lelang keperawanan untuk mengatasi kemiskinan, jelas ngawur. Hanya ilusi. Siapa juga yang akan membeli keperawanan dengan banderol ratusan juta atau miliaran? Hanya para kapitalis yang tidak beriman yang tega melakukannya. 
.
Lagipula, keperawanan hanya akan laku di negara-negara sekuler yang masyarakatnya sudah tidak agamis. Di sana, mereka biasa bergaul bebas sejak usia dini. Gadis-gadis yang menjaga keperawanan menjadi sangat langka. Keperawanan pun menjadi komoditas mewah yang laku diperjual-belikan.
.
Ini jelas-jelas pelecehan dan merendahkan martabat perempuan. Harga seorang wanita diukur dari kemaluannya. Na'udubillahi minzalik. Ini bukanlah ajaran Islam sama sekali. Lelang keperawanan berkedok nikah sirri, jelas-jelas bertentangan dengan Islam. Itu tak ubahnya prostitusi.
.
Lebih dari itu, kemiskinan saat ini terjadi karena penerapan sistem kapitalisme. Penerapan sistem ekonomi yang tidak adil, telah meluaskan kemiskinan. Memperdalam jurang kesenjangan, si kaya dan si miskin. Lantas mengapa gadis-gadis perempuan miskin yang harus mengatasi kemiskinan dengan menjual keperawanannya ? Sungguh tidak adil.  Mereka dijadikan tumbal untuk mengatasi problem kemiskinan yang bukan disebabkan oleh mereka.
.
Islam sungguh memuliakan perempuan. Jangankan kemaluan dijual, selembar rambut pun aurat yang tidak boleh ditampakkan. Islam juga memiliki seperangkat sistem komprehensif untuk mengantisipasi kemiskinan. Melalui penerapan sistem ekonomi Islam, pendidikan, kesehatan dll yang menyejahterakan. Tanpa mengorbankan para gadis perawan tentu saja.(kholda) 
.
#nikahsirri #lelangkeperawanan

Post a Comment

0 Comments