Nafsu yang Membakar

Oleh: Hana Ummu Dzakiy
Pemerhati Generasi, Perempuan, dan Keluarga.

Hanya karena salah paham, bentrokan antar mahasiswa terjadi. Kericuhan ini diperparah dengan aksi bakar papan bunga ucapan selamat wisuda. Padahal tawuran ini sudah menimbulkan kerusakan fasilitas umum. Apa kabarnya kita hari ini? Apakah kita sedang sakit? Kenapa kita mudah sekali tersulut amarah? Apa kabarnya kita hari ini? Apakah kita butuh pelampiasan atas kepenatan dan kesempitan  hidup? Atau kita ini mental inlander yang mudah dikompori? Atau kita terinspirasi oleh aparat yang bertindak represif?

Kita memang sedang frustasi. Bahkan di kalangan intelektual yang katanya tingkat pemikirannya tinggi. Tapi masih juga belum bisa berpikir jernih dan mudah tersulut emosi. Lalu bagaimana dengan kalangan masyarakat umum? Tentu kita ingat berita tempo hari, kejadian yang sangat memprihatinkan telah terjadi.  Seorang wanita muda dibakar oleh pacarnya sendiri.  Sedihnya lagi, wanita muda ini sedang mengandung janin berusia 6 bulan. Sang Pria tak mampu berpikir jernih lagi. Ia pun tega membunuh dan membakar kekasih hati. Kalangan intelektual maupun masyarat umum, sama-sama tak bisa lemah lembut lagi.

Nafsu kita ternyata lebih panas dari api yang kita nyalakan untuk membakar. Sungguh, nafsu ini akan mudah membakar naluri berkasih sayang  karena kehidupan kita yang jauh dari aturan agama.  Nafsu ini akan menjadi api yang mudah membakar rasa kemanusiaan kita selama keimanan masih belum mengitari kehidupan kita. Akhirnya kita menjadi manusia-manusia yang  lebih mengutamakan nafsunya daripada ketundukan dan keimanan terhadap Allah.

Agaknya kita perlu mengingat kembali bahwa orang yang paling kuat adalah yang mampu menahan marah. Orang kuat adalah yang mampu mengendalikan hawa nafsunya. Agar budaya kekerasan tidak semakin merajalela,  konten kekerasan dari media harus diberangus karena memberi contoh yang tidak baik. Negara harus tegas menghentikan premanisme agar tidak di copy paste oleh generasi. Sudah seharusnya negara menciptakan rasa aman dan menghentikan secara sempurna budaya kekerasan baik di lingkungan kampus maupun masyarakat.

Terkait bentrokan mahasiswa, tentu sangat disayangkan. inilah gambaran output pendidikan kita. Lulusan sarjana ternyata tidak menjadikan mereka mampu berpikir jernih,  dewasa, dan berperilaku yang ahsan. Mereka memang sudah baligh fisiknya tapi akalnya masih kekanak-kanakan. inilah tamparan keras bagi kita untuk memperbaiki visi dan misi pendidikan. Mungkin selama ini pendidikan kita  terlalu materi oriented. Pendidikan kita semata untuk memenuhi kebutuhan industri. Akhirnya pendidikan hanya sibuk mengisi akal anak tapi mengabaikan membentuk pola sikap anak. Wajar jika kemudian outputnya adalah generasi yang pintar tapi tidak sopan. Lebih menyedihkan lagi, pintar tapi sholatnya acak-acakan.

Sesungguhnya islam memilki metode pendidikan yang khas.  dimana pendidikan itu dimulai dari penguatan akidah. Lalu pendidkan adab seperti hormat kepada orang tua dan guru,  menjaga tutur kata dan nada suara. Para ulama selalu mendahulukan adab sebelum ilmu. Majelis-majelis ilmu para salafus saleh lebih banyak diisi dengan pengajaran adab daripada ilmu yang lain.  Mereka belajar adab  dalam waktu yang lama karena percaya bahwa adab yang luhur akan memudahkan untuk memahami berbagai ilmu.

Jauh berbeda dengan kondisi sekarang. Orang pintar tapi kurang kuat akidahnya, plus kurang adab. Karena mereka tidak dididik dengan landasan akidah dan mengesampingkan adab. Mereka pun tumbuh menjadi generasi yang jauh dari sholih,  tidak hormat guru, sombong, merendahkan orang lain, berkatanya kasar, mudah emosi, dsb.

Saatnya mengubah pradigma pendidikan kita untuk lebih mendahulukan pendidikan akidah dan adab. Sehingga generasi kita tumbuh menjadi generasi yang betul-betul mengenal dan mengimaninya sehingga tunduk kepadaNya bukan kepada hawa nafsunya. selain itu  juga menjadi generasi yang beradab. Semoga tak ada lagi manusia yang menyalakan api untuk membakar ketika tersulut emosinya. Sesungguhnya, apa yang kita nyalakan tak sepanas nafsu yang membakar kita. Api yang kita nyalakan, tidak ada apa-apanya dibanding panasnya api neraka.[]

Post a Comment

0 Comments