Menjaga Gharizah di Dunia Maya

Oleh : Kholda Naajiyah

Fenomena media sosial memang tak habis dibicarakan. Apalagi di kalangan muslimah, postingannya sungguh beragam. Dari urusan dapur, sumur hingga kasur. Dari urusan anak, suami, mertua, orangtua hingga tetangga.

Memang, tidak ada yang berhak mengatur-ngatur isi akun masing-masing. Selama hal yang diposting tidak melanggar hukum syara', silakan.

Tetapi, terkadang sadar atau tidak, para netizen mengekspos sisi-sisi gharizah yang seharusnya dijaga. Pertanyaannya, benarkah hal itu tidak melanggar hukum syara'? Berikut rambu-rambu untuk menjadi renungan:

1. Tidak Mengekspos Gharizah Baqo

Hari ini parade kepemilikan akan barang-barang mewah seolah menjadi hal wajar di kalangan netizen. Para tokoh media sosial yang dijadikan panutan, kebanyakan adalah potret kalangan the have, glamour, fashionable, dan trend setter.

Seperti artis hedonis yang suka pamer barang branded supermewah, tapi giliran didatangi petugas pajak, langsung mengaku miskin. Ada juga yang mengunggah tumpukan foto miliaran, eh, ternyata nyomot dari Google. Sadar atau tidak, postingan seperti itu telah “mendakwahkan” gaya hidup hedonis yang diikuti banyak followernya.

Nah, saat ini, pengemban dakwah tidak sedikit yang dikenal sebagai jutawan atau miliarder, dikarenakan postingan-postingannya yang tak jauh dari pencapaian akan kesuksesan berbau kekayaan. Mungkin tidak secara langsung (dan tidak berniat) “memamerkan” harta atau kekayaannya, tetapi bisa disimpulkan dari status-status yang dibuatnya.

Sebaliknya, keluarga Muslim juga tidak perlu mengekspos kemiskinan yang dideritanya. Terkesan berkeluh-kesah dengan segala kekurangan rezeki yang ada. Sudah cukup banyak problematika umat, kita tidak perlu menambah panjang. Tentunya beda dengan mengritik fakta dan kebijakan. Ketika kita “mengeluh” garam telah berganti harga, bukan karena tidak mampu beli garam, tapi itu kritik pada sang pengambil kebijakan.

2. Tidak Mengekspos Gharizah Tadayun

Ada sindiran yang mengatakan: mau ibadah saja lapor ke media sosial. Yup, betul sekali. Urusan ibadah ritual, seharusnya rahasia antara seorang hamba dengan Allah SWT. Tidak usah mengekspos di media sosial.

Walaupun, kadang cara mengeksposnya tidak vulgar, seolah hanya menginspirasi atau memotivasi orang lain. Seperti: “selamat menunaikan salat Tahajud.” Seolah ingin memberitahu dunia bahwa dia telah melaksanakan tahajud.

Memang, biasanya untuk ibadah yang sangat langka momennya, akan mendorong kita untuk mengekspos karena saking bahagianya. Selain, boleh jadi menjadi bagian dari syiar Islam. Seperti salat Idul Fitri, Idul Adha, umrah atau haji. Silakan pertimbangkan masak-masak niat dan motivasinya. Juga, cara memposting agar tidak terkesan riya'.

3. Tidak Mengekspos Gharizah Nau'

Keluarga Muslim paham, gharizah nau' (naluri melestarikan jenis, berkasih sayang), tempatnya ada di ruang privat. Tidak boleh diumbar baik melalui ucapan dari mulut ke mulut, maupun diekspos di media sosial.

Seperti memposting perasaan mabuk cinta pada pasangan, menjabarkan kemesraan antara suami-istri, memposting foto-foto atau video romantisme suami-istri. Apa bedanya dengan para pelakon gaya hidup sekuler kapitalis yang hobi mengumbar hal-hal privat ke ruang publik? Cuma pakaiannya saja yang beda? 

4. Tidak Mengekspos “Aurat” Rumah Tangga

Antar anggota keluarga Muslim harus saling menutupi “aurat”. Tidak saling membuka aib. Suami adalah pakaian bagi istri, dan sebaliknya. Juga tidak mengumbar aib anak-anaknya. Misalnya menceritakan keburukan-keburukan suami, istri atau anak-anak. Jika bermaksud mencari solusi, sampaikan saja pada pihak yang tepat, baik online maupun offline, tapi tidak untuk konsumsi publik.

Demikianlah, hal privat tidak boleh diumbar ke ruang publik. Lebih baik menjaganya supaya tidak jatuh pada pelanggaran syara. Sebab Islam memerintahkan umatnya untuk memiliki rasa malu, menjaga kemaluan dan menjaga nama baik/martabat.(kholda)

Post a Comment

0 Comments