Menghapus Sejarah

Oleh : Doni Riw

Manusia bisa menghapus sejarah yang tertulis di buku, tetapi tak mampu membuat kejadian sejarah yang pernah terjadi itu menjadi tidak pernah terjadi.

Sekali saja anda pernah bertemu says, maka sampai kapan pun kejadian itu akan tetap pernah terjadi. Tak bisa dihapus. Apapun upaya kita.

Sekali saja seseorang bernama Muhammad saw. pernah hidup di dunia menyampaikan pesan Allah, maka sampai kapan pun kejadian itu tak bisa dihilangkan dari muka bumi.

Sekali saja Rasulullah pernah mendirikan negara berlandaskan syari'at Islam, maka sampai kapanpun dunia akan mencatatnya. Dan selamanya hal itu akan menjadi teladan bagi para pengikutnya. Tak bisa dihapus dengan perppu apapun.

Sekali saja sahabat-sahabat beliau;  Abu Bakar - Umar - Usman - Ali, mewarisi kepempinan muslimin mendudukkan syari'at sebagai kedaulatan tertinggi, maka selamanya hal itu akan menjadi  rujukan bagi generasi setelahnya. Tak bisa dihapus dengan pengesahan perppu menjadi UU sekalipun.

Meski seribu retorika diucap, bahwa Khilafah itu bertentangan dengan ideologi ini-itu-dll, tak kan bisa menghapus fakta, bahwa sistem negara Islam bernama Khilafah itu pernah dipraktikkan Rasulullah, Khulafa Ar Rasyidah, Khilafah Umayah, Khilafah Abasiyah, dan Khilafah Turki Usmani.

Retorika itu justru sama saja tengah berkata bahwa ideologi tersebut bertentangan dengan Islam.

Dan orang-orang beriman pasti akan memilih Islam di atas apapun yang telah diberhalakan melebihi Allah. Apapun ancamannya.

Yogyakarta, 2/10/17

Tulisan lain fb Doni Riw :

KEMENANGAN DI DEPAN MATA

© Doni Riw

Gerbang kemenangan telah nampak di depan mata. Tak jauh lagi.

Ketika dakwah makin dipersulit, bersamanya, kemenangan semakin dekat.

Sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan.

Di balik hambatan yang mereka tebarkan untuk menjerat kaki para pengemban dakwah, sungguh pesan dakwah justru semakin lantang menggema di seluruh sudut negara.

Semakin rezim bertindak otoriter, semakin menegaskan nubuwah Rasulullah tentang era Mulkan Jabariyyan, era penguasa otoriter nan sombong.

Bersamanya, semakin dekat pula masa Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah.

Semakin vulgar kezaliman, manipulasi, dan kediktatoran,  dipertontonkan, semakin penat jiwa rakyat, semakin tak mungkin ditahan ledakannya.

Ditinjau dari teori apapun, kemenangan itu makin dekat.

Hari ini kita maju selangkah lagi, esok lagi, dan lagi.

Tak mungkin lagi terhenti.

Pilihan kita hanya dua;
Mengikuti derapnya,
Atau tergilas selamanya.

Yogyakarta 27 Oktober 2017

Post a Comment

0 Comments