Mengembangkan Bahasa Ahsan Anak-anak Penghafal Al-Qur'an

Oleh: Ustazah Yanti Tanjung

TIDAK dipungkiri anak-anak penghafal Alquran masih banyak yang berkata tidak ahsan, masih suka mencela, kasar, dan mengeluarkan lafadz-lafadz yang tidak terpuji.  Alquran yang seharusnya menjadi bahasa tertinggi bagi anak masih jauh dari harapan. Bisa jadi suasana pola asuh dan pola didik di rumah masih belum terbiasa berkomunkasi dengan bahasa Alquran dan makna-maknanya, bisa juga karena lingkungan di sekitar rumah dan lingkungan sekolah yang tidak kondusif dan bisa juga anak masih mengkonsumsi tontonan yang tidak layak bagi anak dalam bahasa sehingga anak mendapatkan kosa kata baru yang tidak seharusnya dia ucapkan, apalagi jika anak itu adalah anak penghafal Alquran.

Tahukah kita bahwa perkataan ahsan itu seperti yang difirmankan Allah swt berikut ini :

Dalam QS. Al Fushilat ayat 33 Allah Ta’ala berfirman sebagai berikut :
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ 
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?

Sejatinya perkataan ahsan itu adalah perkataan para penyeru ke jalan Allah bukan perkataan yang menyesatkan orang dari jalan Allah. Maka seringkali Alquran yang dihafalkan anak-anak kita tidak sejalan dengan bahasa-bahasa yang keluar dari lisannya. Disinilah kita harus memahami bahwa menjadi penghafal Alquran itu sejatinya bukanlah proses berpikir tapi adalah informasi-informasi yang benar yang harusnya bisa diserap oleh anak dengan paham.

Jika kita hanya memberikan informasi tanpa menghadirkan sebuah fakta dihadapan anak maka anak-anak hanya terlahir sebagai anak-anak penghafal bukan anak-anak pemikir. Maka perlu mengejewantahkan informasi yang mereka hafal tersebut untuk mereka kaitkan dengan fakta atau dengan amal. Inilah ciri anak yang cerdas.

Anak bisa menciptakan bahasa ahsan jika terbiasa mengukur segala perkataan dan perbuatan berdasarkan pertimbangan syari'ah boleh atau tidaknya dalam pandangan syari'ah. Juga senantiasa muraqabah, diawasi oleh Allah. Maka disinilah peran penting orang tua senantiasa menancapkan bahasa-bahasa aqidah dalam berkata dan selalu mengulang-ulang bahwa anak dalam pengawasan Allah, dicatat oleh malikat Raqib dan 'Atid.

Ayah bunda juga harus membiasakan diri membacakan dalil-dalil Alquran ataupun hadist ketika berkomunikasi dengan anak, setidaknya bisa diungkapkan ayat-ayat Alquran yang sedang dibaca anak. Misal ketika kita meminta anak untuk bersabar ungkapkanlah " Fashbir Shabran jamilaa " atau " innallaha ma'ash shabirin." atau " Yaa ayyuhalladzina aamanusta;iinu bishshabri washshalah" dll.

Satu lagi yang tidak kalah penting adalah menata anak dalam adab berbicara, biasakan melatih anak mengungkapkan pemikirannya dalam bicara bukan asal berbicara tapi berbicara untuk menyampaikan kebaikan, jika tidak lebih baik diam. Berikutnya biasanya anak berkata lembut tidak berteriak-teriak dan tidak menyela pembicaraan orang lain. Juga laranglah anak mengatakan perkataan yang keji, mencela melaknat dan sejenisnya karena rasulullah saw bersabda :  “Bukanlah seorang mukmin jika suka mencela, melaknat dan berkata-kata keji.” (HR Tirmidzi dengan sanad shahih).

Adab yang lain adalah menghindari banyak candaan, berkata dusta, menghindari menceritakan 'aib orang lain dan berhati-hati memuji dan menjatuhkan teman dengan kata-kata.

Lantas bagaimana mengembangkan bahasa ahsan anak-anak kita ? Bermula dari tauladan orang tua dimana lisannya penuh dengan kalimah-kalimah thoyyibah, masya Allah, subhanallah,allahu akbar. Lalu biasakan mengungkapkan motivasi-motivasi positif, seperti mujahid umi, mujahidah abi, Shalehah sang penjaga Alquran, shaleh yang cinta Alquran dsb. Ini penting untuk mengidentifikasikan diri anak pada hal-hal yang mengangkat dirinya pada kemuliaan di sisi Allah dan agamanya.

Berikutnya kembangkan bahasa anak dengan Alquran, karena bahasa tertinggi bagi setiap muslim itu adalah bahasa Al-quran. Ini bisa dituangkan dalam bentuk bahasa Arab dan bahasa tsaqafah islam dan bahasa dakwah. Inilah yang menuntun anak-anak penghafal selalu menjaga perkataannya dengan ahsan.

Wallahu'alam

Post a Comment

0 Comments