Meneguhkan Arah Perjuangan Santri

Oleh Wardah Abeedah (Penulis, Muballighoh, dan alumni Pesantren Al-Wafa Tempurejo)

BICARA peran ulama dan santri bagi negeri ini, sama dengan mengurai deretan sejarah panjang. Bukan hanya Resolusi Jihad yang tercetus pada Oktober 1945. Sejak beberapa abad sebelumnya, ulama dan santri telah banyak menumpahkan darahnya demi kemerdekaan Indonesia.

Dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII&XVIII, (2005), Azyumardi Azra mengungkap sejumlah contoh perjuangan para ulama dalam melawan penjajah.

Sebutlah contoh Syekh Yusuf al-Maqassari (1627-1629M). Ulama terkenal ini bukan hanya mengajar dan menulis kitab-kitab keagamaan, tetapi juga memimpin pasukan melawan penjajah.

Tahun 1683, setelah tertangkapnya Sultan Ageng Tirtayasa, Syekh Yusuf Maqassari memimpin sekitar 4.000 pasukan di hampir seluruh wilayah Jawa Barat.

Pada tahun 1825 hingga 1830, Pangeran Diponegoro memimpin Perang Diponegoro yang disertai para para ulama-santri dari berbagai penjuru Jawa. Bahkan pasca ditangkapnya Diponegoro, lebih dari 130 pertempuran dilakukan kalangan pesantren untuk mengusir penjajah Belanda.

8 Desember 1944, para santri berjuang untuk mengusir penjajah kafir Belanda dan mempertahankan kemerdekaan dengan bergabung bersama Laskar Hizbullah. Dalam rapat pleno Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) pada Januari 1945, diputuskan pimpinan pusat dari Barisan Hizbullah adalah KH Zainul Arifin.

Untuk melawan penjajah Belanda, pondok-pondok pesantren yang telah berdiri kala itu diminta untuk mengirim lima santrinya untuk dijadikan laskar. Mereka akan dilatih terlebih dulu secara militer di Cibarusah, Bekasi, Jawa Barat.

Setelah mendapatkan latihan militer, para laskar pun ditugaskan untuk kembali ke daerahnya masing-masing. Mereka diperintahkan untuk mencari, melatih, dan membentuk Laskar Hizbullah di daerahnya.

Salah satu keberhasilan Hizbullah yang cukup fenomenal adlah ketika meletusnya Pertempuran Ambarawa. Pada 21 November 1945, tentara sekutu terdesak akibat serangan pasukan yang dipimpin Jenderal Sudirman.

(http://www.republika.co.id/berita/koran/news-update/16/08/19/oc5l8e4-peran-laskar-hizbullah-dalam-sejarah-kemerdekaan)

Jelang proklamasi kemerdekaan Indonesia, para ulama dan kalangan tokoh Islam yang telah berjihad mengusir penjajah kafir Belanda, ikut merumuskan konstitusi dan bentuk negara Indonesia. Mereka tergabung dalam Panitia Sembilan dalam BPUPK, yang menghasilkan dokumen sejarah penting, yaitu Piagam Jakarta.

Di dalamnya jelas tertulis beberapa poin tentang penerapan syariat Islam di Indonesia. Mulai dari pemilihan kata muqaddimah dalam pembukaan UUD 45, frasa "Atas berkat rahmat Allah…" , hingga redaksi "Negara berdasarkan atas Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya".

Ironisnya, di detik-detik terakhir “tujuh kata” yang menuntut penerapan syariat Islam dicoret dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945. Peristiwa pahit ini menuai kemarahan dan kekecewaan mendalam di kalangan ulama.

Karena berabad lamanya peluh, air mata dan darah, bahkan jiwa yang telah dikorbankan ulama dan santri dalam jihad memerangi kafir penjajah dan menjadikan kedaulatan Indonesia berada di tangan Islam tak tercapai.

/ Perjuangan santri masa kini /

Jika pada masa sebelum 1945 santri berjuang melawan penjajah kafir Belanda dan Jepang, pada masa sekarang, perjuangan seperti apakah yang harus dilakukan santri masa kini?

Tentunya saat berbicara perjuangan untuk Indonesia, kita perlu tahu dulu apa yang sedang mengancam dan membahayakan Indonesia. Apakah ideologi khilafah atau komunisme?

Kita juga perlu tahu, persoalan apa yang sedang melilit negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini? Hanya radikalisme kah? Persoalan khilafiyah semata kah? Atau apa?

Di negeri yang dilimpahi berbagai kekayaan alam bernama Indonesia, warganya masihlah belum mengecap sejahtera. Privatisasi kekayaan negara oleh segelintir orang maupun perusahaan adalah legal. Bahkan dilindungi undang-undang serta berbagai kebijakan.

Limpahan sumber daya yang dikaruniakan Allah baik berupa emas, minyak bumi, dan lainnya berada di bawah kuasa swasta yang sebagian besar adalah asing. Contoh yang paling sering diungkap adalah fakta di Papua.

Freeport perusahaan tambang emas raksasa milik Amerika mengeruk ribuan ton emas, tembaga, uranium tanah Papua untuk dibawa ke negaranya. Atau pulau buatan milik swasta pada reklamasi teluk Jakarta dan kota milik swasta bernama Meikarta juga membuka mata kita bahwa kedaulatan Indonesia tak lagi manjadi milik rakyatnya.

Di sisi lain, meski berjuluk negeri dengan penduduk muslim terbesar, dan memiliki banyak lembaga pendidikan Islam termasuk pesantren, dalam hal social budaya terdapat banyak sekali problem.

Indonesia menjadi salah satu pasar narkoba terbesar di Asia. Degradasi moral & pergaulan bebas yang berujung pada aborsi, kriminalitas dan HIV AIDS masih menjadi potret buram generasi. Persoalan keluarga juga kompleks. KDRT, perselingkuhan hingga tingginya perceraian.

Yang juga wajib diketahui oleh kaum muslimin termasuk para santri, pertikaian antar madzhab dan golongan, entah itu yang disebut Wahhabi ataupun saling klaim sebagai ahlus sunnah wal jama’ah, terjadi bukan semata karena khilafiyah. Akan tetapi ada pihak-pihak yang sangat takut jika ummat Islam bersatu.

Sehingga memperuncing perbedaan demi memecah persatuan umat. Serta mengambil keuntungan dari sikap apolitis kita untuk menyerang pihak-pihak yang sedang memperjuangkan diterapkannya hukum Islam secara sempurna di bumi pertiwi.

Pertanyaan besarnya, kenapa? Apa penyebab rakyat miskin di negeri kaya? Terpuruk di berbagai aspek kehidupan, padahal Islam menjadi agama yang dianut sebagian besar pengikutnya?

Jawabannya ada pada aturan atau sistem yang diterapkan di negeri kita.

"Ideologi kapitalisme yang dianut menjadi biang persoalan. Agama sekedar diberi ruang dalam ranah ibadah semata. Sedangkan untuk mengatur ekonomi, sosial, pendidikan dll, negeri ini mengambil ideologi kapitalisme dan mencampakkan ajaran Islam."

Dengan menganut kapitalisme, penjarahan kekayaan alam oleh asing dan aseng menjadi legal melalui UU. Penjajahan di bidang pendidikan dan politik termasuk liberalisasi pesantren dan kapitalisasi asset pesantren masuk dengan elegan, melalui berbagai kebijakan.

Jika pada masa lalu Resolusi jihad digaungkan demi mengusir penjajah Belanda dan memerdekakan diri dari Belanda, maka resolusi jihad pada masa sekarang haruslah memiliki semangat sama.

Mengusir penjajah kapitalisme yang telah menjarah kekayaan Indonesia dan menyengsarakan rakyatnya. Menyelamatkan Indonesia dari cengkraman system demokrasi kapitalis yang telah menjerumuskan rakyat ke jurang kerusakan dan keterpurukan.

Serta melanjutkan cita-cita ulama dan tokoh Islam dahulu yang berkeinginan menerapkan syariat Islam di bumi nusantara. Mengganti ideology kapitalisme menjadi ideology Islam, agar Indonesia menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Sebagaimana firman Allah dalam al-a’raf 96,

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."

Inilah rahasia agar Indonesia menjadi negeri yang dilimpahi barakah dan rahmat Allah. Dengan iman dan taqwa berjamaah, baik rakyat dan terlebih lagi pemimpinnya. Taat pada aturan Islam seluruhnya, baik syariat yang mengatur individu, keluarga, masyarakat hingga Negara.

Agar bisa berdaulat di negeri sendiri bahkan memimpin dunia. Sejarah pun telah mencatat, sejak diterapkan Islam di masa rasulullah SAW yang dilanjutkan oleh khalifah Abu Bakar hingga berakhir kekhilafahan Utsmani 1924 di Turki, Islam menjadi negara adi daya, menguasai dua pertiga dunia.

Rakyatnya sejahtera serta bahagia. Baik muslim maupun nonmuslim semua merasakan hak dan kesejahteraan yang sama. Lalu untuk apa kita masih menoleh pada hukum dan system yang tak diajarkan Rasul kita?

Bahkan Will Durant, seorang sejarawan Barat yang nonmuslim mengatakan, “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka.

Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka."

Inilah rahasia kekuatan umat Islam, yakni ideologi Islam; akidah Islam dan syariahnya yang sempurna. Hal ini diketahui betul oleh penjajah Kapitalis serta anteknya. Sehingga mereka mati-matian melakukan liberalisasi Islam, menggencarkan kriminalisasi terhadap ulama dan ormas Islam. Karena mereka sangat takut eksistensi mereka punah jika Islam berkuasa di negeri ini.

Jadi tugas berat para santri dan seluruh umat Islam saat ini adalah melawan penjajahan pemikiran dengan perang pemikiran, melawan penjajahan politik dengan berupaya mengakkan kekuatan politik Islam, yakni Khilafah. Semoga Allah menolong Islam dan kaum muslimin. Allahu a’lam bis showab. []

Post a Comment

0 Comments