Menatap Pasangan Kita

Oleh : Hilmi Firdausi

Setelah bertahun-tahun menikah, melihat wajah pasangan kita kadang bisa jadi membosankan, apalagi jika habis bertengkar atau berselisih faham, bawaannya malah malas bertemu muka.

Itulah penglihatan lahiriyah manusia, penglihatan yang seringkali salah dan tidak objektif. Berbeda jika kita melihatnya menggunakan kaca mata hati, dan saya lebih suka menyebutnya dengan "menatap".

Bagaimana caranya menatap dengan hati ?
Lakukanlah pada saat pasangan kita tertidur lelap...

Untukmu para suami, pandangilah wajah lelap istrimu...wanita yang selama ini mendampingimu, wanita yang rela meninggalkan kedua orangtuanya untuk mengabdikan diri padamu.

Wanita yang sudah bertaruh nyawa melahirkan anak-anakmu, setelah berbulan-bulan sebelumnya mengandung "wahnan 'ala wahnin" susah bertambah susah.

Wanita yang dulu begitu elok rupanya, kencang kulitnya, langsing tubuhnya---namun kini agak berubah, agak sedikit gemuk karena habis melahirkan dan sedang menyusui, agak sedikit kusam kulitnya karena belum sempat lagi luluran dan spa, agak berantakan rambutnya karena anak-anak belum bisa ditinggal ke salon untuk "her time", tampak juga mukanya kelelahan karena merawat anak-anakmu yang super aktif, juga mengurus rumah dan hartamu.

Semakin jauh kau tatap istrimu di tidur lelapnya, seharusnya kau makin yakin...inilah cinta sejatimu. Cinta yang harus kau jaga hingga bersama ke Surga, bukan malah mencari surga dunia yang lain, yang belum tentu baik bagimu, yang belum tentu mencintaimu apa adanya, yang belum tentu mau diajak berjuang bersama.

Untukumu para Istri...tataplah lelap tidur suamimu. Dialah kunci surgamu. Lelaki yang mengambil alih tanggungjawab Ayahmu tak hanya di dunia, tapi juga akhiratmu.

Lelaki inilah yang sudah rela berlelah-lelah untuk mencukupi kebutuhanmu, sandang, pangan, papan, bahkan hingga biaya merawat tubuh dan kecantikan, membelikan kendaraan, menggaji asisten rumahtangga, dan membelikan segala demi kebahagiaanmu.

Jangan kau permainkan dia. Jangan kau keraskan suaramu apalagi membantahnya. Karena ridhonya adalah kunci surgamu. Jangan sepelekan setiap tetes keringatnya, jika kau rasa belum mencukupi kebutuhanmu...karena lelaki itu telah berjuang keras bahkan kadang mencampur peluhnya dengan airmata.

Semakin jauh kau tatap wajah suamimu, maka seharusnya kau makin yakin, makin mantap, untuk memberikan segalanya kepada lelaki itu, mengabdikan hidupmu sepenuh jiwa untuk gapai ridhonya, demi terbukanya pintu surga yang kau damba.

Yuukk...kita tatap pasangan kita, kita lihat cinta dan ketulusan di matanya, lakukan ini sesering mungkin, karena inilah obat terampuh mengusir godaan berselingkuh.

Semoga bermanfaat
Baarakallahu fiikum

Sumber:
FB : Hilmi Firdausi

Tulisan lain Hilmi Firdausi :

Jilbab Anakku
Oleh Hilmi Firdausi

Anakku...Abi tau jilbabmu bukanlah kewajiban,
Tapi terimakasih jika Kau telah memilihnya untuk dikenakan.

Anakku...dulu kamu pernah bertanya, kenapa Ummi kemana-mana selalu berjilbab rapi, pakai baju longgar dan berkaus kaki ? Ummi-mu menjawab ; " Inilah Aurat kita sebagai wanita nak. Hanya boleh dilihat oleh mahrom kita. Allah yang suruh itu...bukan Ummi bukan Abi." Lalu dengan polos kamu menimpali..."jadi kalau tidak menutup aurat, Allah marah dan kita bisa masuk neraka Ummi?" "Surga Neraka itu hak Allah nak, tapi kalau Allah murka kira-kira masuk kemana...?"

Anakku...selepas dialog itu, tak pernah sekalipun kau melepas jilbabmu jika keluar rumah. Walau usiamu masih jauh dari baligh, namun suatu kali kamu pernah berujar "Aku mau belajar berjilbab biar nanti tidak kaget kalau sudah dewasa..."

Anakku...Jilbabmu memang belumlah jadi kewajiban, namun kesadaran menutup aurat itu yang utama. Menutup aurat sungguh fitrahnya wanita, karena wanita sejatinya selalu ingin dihormati, dilindungi dan tidak mau dilecehkan.

Anakku...sungguh Jilbabmu ini bukan paksaan, tapi Abi yakin...banyak wanita dewasa terinspirasi berjilbab karena melihat keanggunanmu berbusana muslimah. Pahala besar menantimu nak...

Anakku...jika ada siapapun yang berkata anak-anak tidak perlu berjilbab, walau dia Gubernur, walau dia Presiden sekalipun...abaikan saja...sejatinya orang-orang seperti itu memang tidak suka syariah agama kita.

Anakku...Abi doakan kamu istiqomah berjilbab syar'i sepanjang hayatmu nak, karena jilbabmu sungguh akan menyelematkan Abi, Abangmu dan juga Suamimu kelak dari jilatan api neraka. Aamiin

FB : Hilmi Firdausi
FP : Kajian Hilmiyah
IG-Twitter : @hilmi28

Post a Comment

0 Comments