Menakar Kadar Cinta yang Wajar

RemajaIslamHebat.Com - Saya terima nikahnya (St) Nurbaya binti Baharuddin dengan bla bla bla (sudah lupa teksnya seperti apa, hehehe) .

Tepat penanggalan 07 Oktober  lima tahun silam, saya pensiunkan masa kegadisan saya untuk kemudian dilantik menjadi istri sekaligus ibu di depan penghulu.

Seluruh tanggung jawab sang Ayah 100% tanpa dicicil, detik itu juga spontan bin kontan berpindah ke tampuk pemimpin baru bernama suami.

Btw, jangan dikira menjadi suami itu gampang lho yah. (colek lelaki jomblo yg sementara memantaskan diri )

Kalo sudah siap memikul dosa seorang gadis, siap menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas dirinya serta sanggup beradu argumen dengan malaikat perihal A-Znya istrimu, silahkan minta izin pada ayah si gadis untuk menggantikan peran Ayahnya menjadi komandan Batalyon Yonif  Rumah Tangga.

Menjadi suami tak terbatas HANYA pada memberikan nafkah semata. Betapa agung dan sakralnya ijab qabul sampai-sampai mengguncang Arsy Allah.
Lalu apakah kemudian para suami rela mencederai mitsakan galiza dengan cara melukai perasaan istri?

Ia yang dahulu kala membuatmu terklepek-klepek seperti bebek yang kehilangan sayap. Ia yang dahulu kala membuat desiran jantungmu  berirama tak terkendali.

Seorang perempuan yang membuat degupan jantungmu bertalu seperti genderang mau perang tatkala ia melintas di sudut netramu. Raib kemanakah rasa itu? Jangan jadikan waktu sebagai tersangka penggerus keharmonisan rumah tanggamu.

Hey,,, apa kabar pernikahan kita yang mulai menua seiring merangkaknya usia? Masih adakah rasa yang dahulu kala membuat tidur tak nyenyak makan tak enak karena dibelit rindu?

Janganlah membuat perasaan istri terlunta “mengemis” penampakan dirimu sekian tahun yang lalu saat usia pernikahanmu masih menyandang titel pengantin baru.

Betapa naifnya jika kita menjalani ritme kehidupan hanya SEKEDAR menjadi pasangan suami istri to’ saja.

Sudahkah kita menginstall program rumah tangga ala Rasulullah? Sudakah kita mengunduh program menjadikan anak sebagai qurrata a’yun?

Jangan-jangan mental kita sepenuhnya belum bersinergi secara utuh untuk mensyurgakan Rumah tangga kita sampai ke akhirat sana.  Atau malah jangan-jangan si mantan masih menjadi penghuni gerbong pada lokomotif rumah tangga kita.

Jangan biarkan sengketa masa lalu masih asik-asik aja mengekor. Hiduplah di masa sekarang!!!

Sungguh pernikahan adalah pilihan maha dahsyat dalam episode kehidupan umat manusia. Tapi, ketahuilah menjalani pilihan yang sudah dieksekusi lalu kemudian mempertahankan pilihan tersebut JAUH LEBIH SULIT dari pada prosesi memilah dan memilih calon pendamping kita sebelum ijab qabul.

Menikah bukan perkara menikahkan makhluk hidup berupa laki-laki dan perempuan semata, tapi “menikahkan” seluruh anggota keluarga mempelai. “Menikahkan” perbedaan, kebiasaan, karakter dan seluuuuuuuruuuhhh yang bersangkut paut dengan kehidupan si suami dan istri.

Jika sekiranya dalam perjalanan biduk rumah tanggamu nyaris menjumpai kata yang menjadi momok seluruh pasutri di sudut bumi manapun berada yaitu karam, sesungguhnya itu bukan hanya ujian cinta pada pasanganmu, tapi juga ujian pada keluarga besar dan ujian cintamu kepada Tuhan.

Cintailah tuhanmu sebagai pemilik kalian berdua niscaya kalian tidak akan saling menyakiti apalagi mendzolimi.

Hargai suami sebagai pengepul nafkah halal. Syukuri tiap tetesan keringat halalnya. Usah risau melihat deretan mobil tetangga. Pun juga tak usah meracau tatkala suamimu belum semapan ekspektasimu.

Hargai istrimu yang telah bersedia menjadi makmum dalam kehidupanmu. Ia meninggalkan zona nyamannya berada dalam dekapan orang tua, lalu mencoba “peruntungan” merasakan dekapanmu.

Jangan menerbitkan sesal pada istrimu, karena kau bukan ponsel yang bisa ditukar tambah jika sesal datang mendera.

Jagalah hati untuk tetap saling setia. Jangan selingkuh kecil-kecilan ( Mis :chatting ria dengan lawan jenis tanpa unsur kepentingan) karena sesungguhnya perselingkuhan itu diawali hanya dengan selingkuh kecil-kecilan kelas anak teri (ikan teri aja kecil, apalagi anaknya?).

Tidak akan terjadi suatu perselingkuhan jika salah satu tetap menutup pintu, dan tidak ada perselingkuhan yang hanya melibatkan diri seorang, harus sepaket kau dan dia atau saya dan dia.

Percayalah, perselingkuhan hanya akan mewariskan penghianatan tertinggi pada sang Pencipta (Garis bawahi tebal-tebal kalo perlu sekalian dibold dan cetak miring!!!!)

Jagalah adab untuk senantiasa sederhana dalam pengabdian. Jangan saling menyindir penuh aroma nyinyir, karena merevisi dan merekonstruksi perasaan yang tergores luka tak semudah memperbaharui status di fesbuknya om Mark Zuckerberg. #eaaaaa

Di tahun pernikahan kami yang berusia 5 tahun ini, tak pernah sekalipun ada selebrasi seperti orang-orang pada umumnya.

Tak ada kue tart, tak ada kado, tak ada perayaan apapun. Baik itu skala kecil apalagi skala besar-besaran.

Lalu apakah saya kecewa dengan “penampakan” suami saya yang serba biasa seperti ini?

Apakah suami saya segitu tidak romantisnya sehingga mengaggap momen sakral anniversary pernikahan kami tak ada bedanya dengan hari Senin-Ahad?

Atau “keanehan” dia yang menganggap peredaran bulan Januari sampai menjumpai Desember begitu-begitu saja tidak ada yang istimewa?

Jujur, saya bukan tipikal perempuan yang menilai keromantisan dengan setangkai bunga dan sekotak kue tar.

Apalah arti romantisme yang insidental seperti itu? Lalu bagaimana hari-hari diluar anniversary pernikahan?

Adakah ia mengalami kemarau berkepanjangan lalu diguyur hujan sehari melalui perayaan hari jadi pernikahan?

Jangan-jangan potongan kue tart masih tersisa di lemari pendingin tapi pertengkaran kita kembali memanas.

Kuntum bunga yang konon diberikan sebagai wujud kasih sayang belum terkulai layu tapi pemiliknya duluan terkulai lemas karena hantaman kata-kata kasar dari mulut suami yang meluluh lantakkan singgasana perasaan. Sungguh ironis bukan?

Kebesaran jiwa suami saya meringankan pekerjaan rumah tangga, mengurus anak dan kesabarannya menunggu saya berjam-jam adalah wujud romantisme yang tak sebanding dengan setangkai bahkan sepohon bunga sekalipun.

Ketaatannya pada Allah, kejujurannya, kesetiaannya dan kebaikannya terhadap sesama makhluk ciptaan Allah jauh lebih berharga di mata saya dibanding sekotak kue tart.

Ketulusannya, sifat royalnya, kegokilannya, hubungan telepati kami serta selera humornya dalam mengarungi bahtera rumah tangga sudah cukup membuat saya bersyukur menjadi orang yang didaulat oleh Allah menyempurnakan separuh agamanya.

Terima kasih tak terhingga saya ucapkan pada makhluk Tuhan paling sabar, paling baik dan paling pengertian. Terima kasih telah membersamai saya dalam kubangan kekurangan. Terima kasih karena selalu memaafkan kealpaan saya. Serta terima kasih juga telah memberiku kepercayaan menjadi ibu.

Maafkan jika sekiranya saya masih jauh dari sosok perhiasan terindah dunia (baca, istri sholehah) . Semoga kita bisa mendidik titipan Allah dalam pengasuhan islami, dikaruniai ilmu dalam membesarkannya, diberi kelapangan hati, sabar dan ikhlas mengasihinya sepenuh jiwa agar ia tumbuh menjadi penyejuk mata tatkala dipandang.

Mari merawat hati untuk saling setia, karena perlu kita sadari bahwa pelukan seerat apapun, bukan berarti ia tidak akan terlepas.

Ikatan yang kuat, tak ada jaminan bahwa ia tak akan putus. Adalah kematian yang mampu melerai ikatan dan pelukan erat itu.

So, marilah kita menakar kadar cinta yang wajar. Jangan terlalu mencintai, pun juga jangan terlalu membenci.

Akhlak yang indah, bukan berarti ia disukai semua manusia, akan selalu ada segelintir orang yang tak suka.

Wajah rupawan bukanlah tiket yang mengekalkan cinta. Tapi keluhuran budi dalam menghamba padaNya akan mendatangkan selaksa kasih sayang yang membuat kamu merasa tenteram kepadanya, tidak tanggung-tanggung, perasaan kasih sayang dan perasaan tentram ini dihembuskan langsung oleh Allah seperti yang termaktub dalam QS.Ar-Ruum : 21.

Yaumul milad ijab qabul 5 tahun silam. 07-10-12 sampai 07-10-17 . Semoga Allah menjodohkan kita sampai ke JannahNya, kelak. Aamiin.
**Nurb@y@ Tanpa Siti.

Penulis : Nur Baya

Post a Comment

0 Comments