Membuka Selubung Bahaya Ambisi Ekonomi China

Oleh: Sari Kurniawati, S.I.P.

SEBUAH persaingan geoekonomis tengah melukis masa depan Asia, termasuk Indonesia. Kekuatan ekonomi besar menjadikan Asia santapan lezat untuk meraih keuntungan-keuntungan ekonomis yang tak ternilai harganya. Interkoneksi infrastruktur, masyarakat, dan jalur laut digagas melewati kawasan ini.

Asia, adalah kawasan yang menggiurkan, karena diprediksi akan memiliki pasar infrastruktur yang tumbuh 8% per tahun pada dekade mendatang dan meningkat hampir menyentuh 60% total pertumbuhan global. Infrastruktur kawasan ini diestimasikan mencapai $1milyar per tahun.

Menurut ADB (Asian Development Bank) diperkirakan antara tahun 2010–2020, Asia membutuhkan investasi sebesar US$8 trilliun untuk keseluruhan infrastruktur nasional, seperti energi, transportasi, air, sanitasi, dan telekomunikasi. Karena itu setiap tahun Asia setidaknya membutuhkan US$800 miliiar selama periode tersebut.

Tidak mengherankan jika China memiliki ambisi besar untuk menguasai kawasan ini secara ekonomi. Presiden Xi Jinping telah menginisiasi program OBOR (One Belt One Road), satu sabuk satu jalan sejak tahun 2013.

Inisiatif OBOR merupakan sebuah konsep pemetaan jalan yang menghubungkan ASIA hingga Eropa. Dalam konsep ini terdapat dua peta utama yaitu 21st Century Maritime Silk Road (jalur sutra maritim abad 21) dan Silk Road Economic Belt (jalur sutra sabuk ekonomi).

Saat menandatangani tujuan kebijakan luar negeri China, Presiden Xi Jinping menunjukan ambisinya. Bisa dibayangkan, bahwa masa depan Eurasia (Eropa dan Asia) akan mengarah pada kepemimpinan China.

Untuk itu, China mendirikan AIIB (Asian Infrastructure Investment Bank), yaitu bank investasi untuk pembangunan infrastruktur. Sedangkan konsep OBOR dijadikan sebagai master plan pembangunan jalur perdagangan Asia ke Afrika dan Eropa.

OBOR merupakan visi geoekonomis paling ambisius di abad ini. Karena akan melibatkan 65 negara, dan melingkupi 70% populasi dunia. Konsep ini akan menelan investasi mendekati US $4MIlyar, termasuk $900 juta yang telah diumumkan China.

OBOR akan memperkuat infrastruktur dengan pembangunan rel kereta dan jalan raya, juga akan memperkuat perjanjian perdagangan dan transportasi antar negara, bahkan bisa mengeratkan budaya.

Sebagai insiator OBOR, China telah menyiapkan diri untuk menguasai jalur darat dan maritim bagi kepentingan ekonominya. Setidaknya ada 5 tujuan yang ingin diraih china dalam Inisiasi OBOR, yaitu koordinasi kebijakan, konektivitas fasilitas, perdagangan tanpa hambatan, integrasi keuangan, dan ikatan masyarakat (people to people bond).

Dalam meralisasikan inisiasi ini, di jalur darat, China menggagas infrastruktur jalan kereta, dan jalan raya, yang memanjang untuk menghubungkan China hingga menuju Eropa.

Sedangkan untuk jalur maritim, China menggagas pembangunan sejumlah pelabuhan internasional, dan tol laut, sebagai sarana lalu lintas logistik dan zona penyimpanan untuk perusahaan-perusahaan China di kawasan tersebut.

Kini, China telah memiliki 29 dari 39 rute maritim, 60% perdagangan impor dan eskpor, dan 80% impor minyak melalui Selat Malaka. China berharap dapat menghubungkan jalur laut dari China hingga Samudra Hindia melalui Selat Malaka.

China mengklaim telah menyempurnakan perjanjian perdagangan dengan 40 % partisipan OBOR di akhir 2017. China juga telah menandatangani 130 perjanjian transportasi.

China, sebagai sebuah kekuatan ekonomi di Asia membidik penguasaan ekonomi Asia sekaligus melawan kekuatan ekonomi AS dan Eropa di kawasan ini. Dalam rancangan Silk Road Economic Belt and 21 st Century Maritime Silk Road, otoritas China berharap mampu menciptakan pasar yang bersifat langgeng untuk eksportir dunia di Asia Pasifik.

Untuk membangun infrastruktur dalam konsep OBOR ini, China telah memndirikan Bank khusus infrastruktur (AIIB). Dengan bank ini diharapkan proyek-proyek infrastruktur menjadi milik mereka, melalui investasi dan pinjaman China ke negeri-negeri yang dilalui jalur ini.

Secara selintas, konektivitas Asia-Eropa-Afrika dalam inisiasi OBOR akan mampu memberikan benefit pada kawasan Asia. Karena dengan terhubungkannya satu wilayah dengan wilayah lain dalam satu jalur perdagangan dan ekonomi, akan mampu memberikan kesempatan tersebarnya potensi ekonomi yang bisa diraih bersama.

Namun, dalam sistem kapitalistik, konsep ini rentan menjadi konflik dan alat penghisapan ekonomi oleh negara besar.

Dengan banyaknya investasi yang ditanamkan China, dalam merealisasikannya, maka bisa disebutkan, bahwa OBOR merupakan jalan bagi China untuk menguasai ekonomi dunia. Melalui koneksi maritim dan daratan dalam konsep OBOR, China menempatkan diri di posisi pusat hubungan ekonomi global.

China secara kasat mata telah menunjukan ambisi besar dalam menguasai ekonomi dunia. Bank investasi dan pembangunan yang dibuat oleh China bertujuan untuk memberikan pinjaman dan investasi dalam rangka mewujudkan infrastruktur tersebut.

Memang, infrastrukturnya dibangun di negara-negara lain di Asia. Namun, dengan skema investasi, keuntungan dari infrastruktur yang dibangun akan masuk ke dalam pundi-pundi keuangan China.

Demikian pun melalui skema hutang luar negeri. Srilanka merupakan negara yang telah mengalami pahitnya pembangunan melalui hutang luar negeri China. Negeri ini terpaksa menyerahkan pelabuhan yang baru dibangunnya kepada China akibat gagal bayar hutang luar negerinya ke China.

Demikian pun dengan Angola. Negara di kawasan Afrika tersebut telah mendatangani kesepakatan pembangunan infrastruktur dengan China. Dengan investasi dan hutang dari China, proyek pembangunan di Angola dikerjakan oleh China dengan paket lengkap. Paket berisi bahan baku dari China sekaligus para pekerja dari China.

Sederhananya, modal dari China, digunakan untuk membeli barang dari China dan membayar pegawai China melalui skema Turnkey Project. Lantas apa yang didapat oleh pemerintah dan rakyat Angola? Beban hutang.

Suatu hal yang harus disadari oleh negeri-negeri di Asia termasuk Indonesia, bahwa China adalah negara Kapitalis berasa komunis. Kapitalisme ala China menjadikan ekonomi digerakkan oleh korporasi.

Pemerintah China menjadi fasilitator untuk menumbuhkan para korporat dan memberi jalan para korporat ini untuk memperluas jaringan bisnisnya di luar negeri melalui kerjasama ekonomi dengan negara lain.

Bisnis model kapitalis dengan kekuatan ekonomi dan sumber daya manusia yang dimiliki China, memuluskan para korporat untuk memperluas jaringan ekonominya. Pemerintah China mengikat negara-negara tempat investasi dan penanaman utangnya dengan sejumlah syarat tertentu, seperti kasus Angola. Yaitu semua paket proyek pembangunan dikerjakan oleh China. Tidak ada sisa bagi rakyat Angola.

Demikian pun dengan kasus pemberian pelabuhan oleh Srilanka akibat gagal bayar utang luar negerinya. Dalam hal ini, pemerintah China beserta para korporatnya, tidak hanya serakah menguasai semua potensi ekonomi yang mampu mereka kuasai (prinsip kapitalisme), namun juga memberikan paksaan dan sanksi saat kerjasama dilakukan.

China tidak segan-segan memaksakan kekuatannya pada negara-negara yang diajak bekerjasama dengannya. Disinilah rasa komunis pada negeri Tirai Bambu ini terlihat menonjol.

Investasi dan hutang luar negeri dari China, ini merupakan alat bagi negara ini untuk menguasai infrastruktur Asia. Penguasaan infrastruktur sangatlah penting bagi kepentingan ekonomi China. Betapa tidak, penguasaan ini akan memuluskan China untuk mendapatkan pasar yang luar biasa besar bagi produk-produknya.

Selain itu, akan memuluskan china untuk menguasai rantai pasok dari pelosok negeri dengan harga yang sangat murah. Dan Asia, menjanjikan pasar serta rantai pasok bagi siapapun yang menguasai infrastrukturnya.

Tidaklah salah jika kita kemudian mengatakan, bahwa Inisiatif OBOR yang digagas China, dan realisasi proyek-proyek infrastruktur yang dibiayai China, pada hakikatnya merupakan strategi China untuk memenuhi kepentingan nasionalnya. Karena di dalam negeri China sendiri, pelambatan ekonomi tengah terjadi.

Menurut Prof. Li Yangning dari Guangdong University of Foreign Affairs, hari ini China sedang mengalami tantangan karena kehilangan daya saing disebabkan karena upah buruh yang terus naik, serta mata uang renminbi (Yuan, red.) undervalue.

China sangat bergantung pada negara lain dalam pemenuhan energi, meningkatnya jumlah kendaraan dan meningkatnya harga tanah. Walaupun terjadi pertumbuhan ekonomi, tetapi banyak juga yang harus didanai oleh China di dalam negeri.

OBOR initiative adalah upaya untuk menghadapi tantangan tersebut, yaitu China yang mulai kehilangan daya saing melawan ekonomi negara lain. Dengan dibangunnya OBOR, China dapat terhubung dengan lebih baik dengan negara-negara pemasok kebutuhan energi.

Bahkan, dapat melakukan ekspor barang-barangnya dengan lebih efisien. Jelas bahwa OBOR inisiatif ini, telah menjadi strategi China dalam meraih ambisinya.

Bagaimana dengan Indonesia?

Seperti halnya negara-negara lain di Asia, Indonesia tidak luput dari sasaran inisiasi OBOR. Bahkan, khusus untuk Indonesia, kerjasama China dalam membangun infrastruktur di Indonesia, terus dibangun. Investasi dan hutang luar negeri dari China terus membanjiri negeri ini.

Saat Menteri Keuangan dijabat Bambang PS Brodjonegoro, telah ditandatangani Memorandum of Understanding on Establishing the Asian Infrastructure Investment Bank Among Prospective Founding Members, pada 25 November 2014 di Jakarta, dan disaksikan Dubes Tiongkok untuk Indonesia Xie Feng.

Indonesia telah menjalin kerjasama dengan China dalam membangun jalur kereta cepat, pelabuhan, dan berbagai infrastruktur lainnya. Skema yang ditetapkan dalam perjanjian Indonesia-China adalah melalui investasi dan hutang dari China.

China, sang Kapitalis rasa komunis, telah memaksakan kesepakatan dalam MoU AIIB yang disepakati Indoesia-China. Dalam kesepakatan itu, dinyatakan tentang pentingnya upaya kerja sama regional bagi pertumbuhan berkelanjutan. Hanya saja dalam MoU ini, kepentingan China lebih menonjol.

China menginginkan keuntungan lebih banyak dibanding Indonesia. MoU itu lebih banyak menguntungkan RRT karena di dalamnya, terdapat ketetapan penentuan hak suara berdasarkan saham yang dimiliki.

Dalam MoU ini juga disebutkan, bahwa Tiongkok akan mengendalikan apa yang disebut sebagai Sekretariat Interim Multilateral yang akan menghasilkan rancangan pembentukan Articles of Agreement (AOA) tentang tata cara bank ini beroperasi.

Kedepannya, bisa dibayangkan bahwa pembangunan infrastruktur di Indonesia akan banyak didikte China. Bukan tidak mungkin, China pun akan memaksakan paket pembangunan seperti Angola pada Indonesia.

Dan, hasil dari pembangunan itu sendiri adalah lipatan keuntungan lain bagi China. Menurut pengamat ekonomi INDEF, Bhima Yudhistira Adhinegara, model investasi yang ditawarkan oleh China memang cukup membahayakan. Pasalnya, tak hanya dengan mengirim modal, baik berupa investasi atau utangan, tapi juga sekaligus dengan para pekerjanya.

Sebelumnya, peneliti Jepang asal Universitas Tsurumi dari Universitas Seigakuin Jepang, Masako Kuranishi, berpendapat, bahwa konsep OBOR merupakan hegemoni China terhadap negara-negara di Asia.

Dalam pengamatannya, kalau China sudah menguasai jalur Shinkansen (kereta cepat) dan sekitarnya, maka akan mudah bagi mereka untuk semakin merealisasikan konsep One Belt One Road tersebut yang akan berlanjut ke negera Asia lain.

Masih menurut Profesor Masako Kuranishi, China memulai peguasaan ekonomi Indonesia dari penguasaan Shinkansen. Dan tak hanya soal Shinkansen, tetapi daerah yang dilewati dan sekitarnya akan harus dikuasai pihak China walaupun perusahaan patungan 60% Indonesia dan 40% China.

Sementara China sendiri yakin Indonesia akan kesusahan bayar (utang). Sehingga penguasaan mayoritas perusahaan nanti akan dilakukan China. Demikian pula tenaga kerja yang dikerahkan semua akan diturunkan dari China. Tenaga kerja Indonesia hanya sedikit yang mendapatkan kesempatan.

Tak pelak lagi, investasi, hutang luar negeri China, dan MoU kerjasama Indonesia-China, merupakan jalan bagi China menguasai ekonomi Indonesia. Pembangunan infrastruktur dengan investasi dan hutang dari China, serta MoU dalam pendirian Bank investasi Infrastruktur AIIB di Indonesia, memiliki bahaya terselubung bagi Indonesia.

China akan mendapatkan keuntungan ekonomis dengan menguasai infrastruktur Indonesia. Keuntungan hasil investasi, lapangan pekerjaan bagi warga China, penguasaan properti disekitar infrastruktur yang dibangun, rantai pasok komoditas dari pelosok Indonesia, hingga pasar produk.

Jika Indonesia diam, tidak menyadari bahaya ini, dalam jangka waktu ke depan, Indonesia akan semakin masuk ke dalam jebakan China. Terkurasnya kekayaan alam Indonesia, banjirnya produk China hingga mematikan produk lokal, menyempitnya lahan dan lapangan pekerjaan bagi anak bangsa ini, bukan sesuatu yang mustahil.

Bahaya ini lebih besar dari pengalaman Angola dan Srilanka. Indonesia yang kaya, akan menjadi miskin, penuh pengangguran, dan kehabisan lahan untuk rakyat, akibat penguasaan ekonomi oleh China.

Namun, satu hal yang tak boleh dilupakan, bahwa dunia masih berada dalam cengkeraman Negara raksasa, Amerika Serikat. Sekalipun kini, di bawah kepemimpinan presiden kontroversial, Donald Trump, secara riil, AS masih sanggup menguasai dunia, termasuk kawasan Timur Jauh yang didominasi oleh 5 bangsa utama : Jepang, China, Korea, Indochina, dan Indonesia.

Sekalipun ambisi dan ekspansi China amat luar biasa di kawasan ini, tak ada satu kawasan pun yang luput dari pantauan dan jarahan AS. Apalagi kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, adalah harapan AS saat semua belahan dunia kolaps pertumbuhan ekonominya.

Sejarah mencatat, AS berada di belakang upaya penyingkiran Soekarno dan menggantinya dengan agennya dari kalangan militer Soeharto. Tak mustahil, kisruh penjajahan ekonomi yang menimpa Indonesia saat ini adalah upaya AS dengan meminjam tangan China untuk menguasai ekonominya.

Karena itu, perlawanan terhadap semua bentuk penjajahan harus dilakukan dengan mengawalinya mengungkap semua strategi buruk kapitalisme yang mudah menyaru dengan wajah apapun.

Cerdaslah Umat, agar tak mudah terpedaya oleh jebakan kolonialisme gaya apapun. Tak ada yang tulus berjuang dan bekerja untuk kemashlatan dan kesejahteraan rakyat, kecuali Negara yang berdaulat dan menerapkan system ekonomi yang dituntun oleh kebenaran wahyu Allah SWT. []

Lampiran Referensi:

[1] csis.org. Reconnecting ASIA, Mapping continental ambitions

[2] http://student.cnnindonesia.com/inspirasi/20161027154738-454-168457/membaca-teka-teki-satu-sabuk-satu-jalan-china/

[3] csis.org. Reconnecting ASIA, Mapping continental ambitions

[4] Jonathan E.Hillman, OBOR on the Ground: Evaluating China’s “One Belt, One Road” Initiative at the Project Level. 30 November 2016

[5] Jonathan Hillman, China’s “Belt and Road” Initiative Must Become a Strategy, csis.org, 12 Mei 2017.

[6] https://nusantara.news/politik-infrastruktur-strategi-cina-dalam-skema-obor/

[7] http://student.cnnindonesia.com/inspirasi/20161027154738-454-168457/membaca-teka-teki-satu-sabuk-satu-jalan-china

[8]http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/11/30/073200926/Hegemoni.Satu.Jalan.Satu.Sabuk

[9] https://beritasepuluh.com/2016/11/15/intervensi-ekonomi-cina-sudah-membahayakan/

Post a Comment

0 Comments