Mahasiswa Yang Dicinta Penguasa

RemajaIslamHebat.Com - Mahasiswa adalah makhluk intelektual penjunjung proses berfikir rasional dan kajian ilmiah yang digadang-gadang sebagai pemilik masa depan negeri. Kritis, idealis, _agent of change, iron stock, moral force_ adalah deretan panjang label yang disematkan kepada makhluk intelektual bernama mahasiswa.

Negeri dibelahan bumi mana yang tidak bersuka-cita dan berbangga bila memiliki jutaan mahasiswa cerdas akal, kritis, idealis, mencintai negeri, mencintai Al-Quran, dan mulia akhlaknya. Selalu terpaut untuk taat pada aturan Pencipta dan menjauh dari maksiat.

Disisi lain, negeri mana yang tak khawatir dan was-was apabila jumlah mahasiswanya sangat banyak, tetapi malah menjadi beban pembangunan. Apatis, permisif, individualis, materialistis, dan berperilaku negatif semisal narkoba, tawuran, seks bebas, yang hari ini menjadi trand hidup generasi zaman now.

Namun sayangnya penguasa negeri kita tampaknya lebih mencinta mahasiswa versi ke-2. Lihat saja!

Mahasiswa kontroversial yang dicinta penguasa negeri ini. Mahasiwa yang menjadikan pemikiran liberal sebagai sumber referensi utama, jalan pemikiran moderat dan bersandar pada pemikir barat, dilain kesempatan juga mengidolakan pakar atheis serta hidup diatas nilai sekuler-kapitalis. Hobinya nongki di kafe-kafe kekinian, dengan obrolan kental logat _british_ dengan kata-kata kasar khas barat sebagai pemanis. Wacananya menembus budaya ketimuran, memperjuangkan kebebasan atas nama HAM, lebih parah lagi mempertanyakan agama, katanya 'menantang kejumudan beragama', biar dikata progresif dan kontekstual relevan dengan keberagaman. Tapi yang begini ideal bagi penguasa.

Beda cerita dengan mahasiswa yang peduli negeri, mengkritisi kebijakan jika rakyat terdzolimi, memegang teguh pemikiran rasional yang selaras dengan prinsip nilai tertinggi dari Illahi, mencintai ilmu dan berkontribusi untuk kemaslahatan ummat manusia. Mahasiswa dengan pikiran menembus sekat teritori daerah dan negeri dengan menempatkan kepentingan masayarakat diatas kepentingan pribadi dengan landasan ketaqwaan, dipandang tidak ideal bagi penguasa. Sebab mereka dianggap benih radikal yang siap tumbuh menjadi teroris di masa depan, perusak keberagaman, penghancur kebinekaan dan aktor intoleransi yang layak untuk dibasmi dan diperangi.

Sudah lihat kemana arah penguasa kini?

Mereka namakan itu sebagai usaha deradikalisasi. Sebab yang mereka anggap radikal adalah mahasiswa dan mereka yang perhatian pada Islam, silahkan berpemahaman apapun kecuali Islam. Mereka menduga keras semakin seseorang Islamis, semakin dekatlah dia menjadi radikalis. Maka tanpa perlu penelitian panjang, de-radikalisasi itu sebenarnya de-Islamisasi.

Karenanya ulama harus diwaspadai, yang membela Islam mesti ditandai, ormas yang taat syariat mesti dibubarkan dan dipersekusi, lebih dini lagi rohis sekolah mesti diawasi, potensi mahasiswa dikebiri.
Mahasiwa ikut aksi bela islam dipanggili, tapi saat mahasiswa aksi LGBT diapresiasi. Mahasiswa mengkritisi kebijakan dituduh dibayar partai oposisi, disisi lain mahasiswa diam atas kerusakan dan sibuk dengan urusan study pribadi dikatakan mahasiswa berprestasi. Dan mereka yang menyuarakan selain Islam diangkat dan diunggulkan, pokoknya asal jangan Islam. Syiah dan komunis dianggap wacana, pluralisme dianggap penyelamat.

Tanpa perlu banyak ilmu, kita pun ditunjukkan dengan jelas saat para Rektor dikumpulkan untuk melawan radikalisme, lembaga mahasiswa diajak mendeklarasikan program deradikalisasi, seluruh mahasiswa diseru untuk turun ke jalan melawan radikalisme. Padahal sebelumnya aksi-aksi kritis mahasiswa dilarang, tidak diizinkan aparat atau bahkan dikanalisasi dengan diundang ke istina Negara. Sehingga jelas dilihat dari target dan modus operasi penguasa, sulit untuk dipungkiri bahwa yang dimaksud radikal itu adalah Islam, maka de-radikalisasi bisa dipastikan adalah proses de-Islamisasi.

Penguasa saat ini lupa, bahwa Islam-lah yang menjadi inspirasi berdirinya Indonesia, yang menjadi ruhnya, dan akan selalu begitu. Tanpa Islam, tak ada Indonesia. Islamlah yang menjadi inspirasi bersatunya pejuang-pejuang melawan penjajahan, Islamlah yang menjadi dasar toleransi dalam keberagaman dan pluralitas. Bahkan perumus pilar negara menjadikan Islam sebagai opini pertama dasar negara.

Harusnya penguasa berbahagia ketika mahasiswa turut ikut dalam aksi bela Islam dan Al Quran dengan solid dan rapi 7 hendak mengamankan kepentingannya yang secara sengaja membuat proyek besar propaganda melawan Islam sebagai pesanan dari pemimpin dunia yaitu kapitalisme Amerika beserta kroninya. Dengan mengpropagandakan de-radikalisasi yang sama artinya de-islamisasi.

Menjadi mahasiswa tidak cukup hanya dengan _sendiko dawuh_ atas apa yg keluar dari rahim kebijakan penguasa. Mahasiswa harus memegang teguh visi keintelektualitasannya yang bersumber dari pemilik kesempurnaan Ilmu yaitu Allah. Tidak hanya turun ke jalan saat di seru oleh penguasa tapi turun ke jalan karena kesadaran meneriakkan kebenaran atas dasar Islam. Dan lebihnya potensi kritis mahasiswa jangan sampai terbelenggu oleh racun manis yang ditawarkan penguasa. Sebab Mahasiswa yang di rindu surga adalah mahasiswa yang berpegang teguh pada perintah Allah yang Maha Kuasa. Saatnya mahasiswa berpikir kritis untuk membongkar rencana jahat penguasa, menjaga ruh keislaman dalam dada dan bersatu menjaga negeri dengan bekal ketaqwaan kepada Allah SWT!

Penulis : Mahdiah Imadul Ummah., S.Pd
Pengajaran SD swasta di Kabupaten Jember
Mantan Kabid Penelitian Pengembangan HMP PLS Universitas Jember tahun 2011-2012

Post a Comment

0 Comments