Mahasiswa Kritis Dibungkam, Terungkap Wajah Asli Perguruan Tinggi

Oleh : Dini Salimiah
(Koordinator Nisa BKLDK)

KEMBALI, berita tentang pembungkaman suara mahasiswa melalui penonaktifan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) terjadi lagi. Kali ini datang dari Universitas Pamulang (UNPAM) yang menonaktifkan Lembaga Kajian Keislaman Kontemporer (LK3) El Fath dan IMAM. Padahal sebelumnya dua lembaga kajian islam ini telah melangsungkan kegiatannya secara legal di kampus UNPAM. Maka hal inilah yang memunculkan pertanyaan mengapa perguruan tinggi melakukan yang demikian ditengah title yang melekat yaitu perguruan tinggi merupakan surganya setiap pemikiran, ide serta perguruan tinggi independen tidak terpengaruh kepentingan politik dan tidak memihak.

Namun hal ini sepertinya tidak nampak lagi pada perguruan tinggi. Saat ini perguruan tinggi tampak memihak orang orang yang memiliki kepentingan politik dan mempengaruhi eksistensi perguruan tinggi tersebut. Bukan tanpa sebab perguruan tinggi negeri menonaktifkan beberapa lembaga kajian islam yang ada, namun terkadang belum ada argumen yang kuat mengapa lembaga tersebut dibubakan. Namun jika kita telisik lebih dalam maka hal ini sejalan dengan agenda nasional pemerintah untuk memerangi radikalisme di dalam kampus. Agenda diduga lebih banyak digunakan untuk melakukan pembungkaman terhadap aktivitas dakwah islam yang dianggap radikal. Terlebih ketika melakukan penonaktifan tidak dilakukan dengan cara persuasif terlebih dahulu, yaitu diskusi bersama para aktivis yang tergabung di dalamnya. Hal ini sangat tidak mencerminkan budaya para intelektual yaitu diskusi untuk menyelesaikan suatu persoalan. Tanpa diskusi bagaimana seseorang akan tahu kesalahannya dan menjelaskan apa yang sebenarnya dia bawa. Begitupun bagi para aktivis dakwah islam ketika tidak ada keadilan dalam berdiskusi untuk menyampaikan apa yang dibawanya, bagaimana pihak perguruan tinggi akan menilai apakah kelompok tersebut salah atau tidak. Ketika terbukanya diskusi mengenai nasionalisme, patriotisme, bahkan diskusi untuk pemikiran yang lekat dengan sosialisme, mengapa kah tidak ada diskusi untuk pemikiran islam ? mengapa ada dikotomi bagi ide islam ? Bahkan islam merupakan agama mayoritas di negeri ini, maka apakah tidak layak islam untuk didiskusikan ?

Maka tidak lain hal ini dikarenakan adanya penerapan pendidikan sekuler di perguruan tinggi yang memisahkan  islam dari pendidikan. Islam bukan hanya sekedar agama yang mengatur ibadah saja tetapi islam juga mengatur seluruh aspek kehidupan manusia termasuk pendidikan. Pendidikan sekuler yang hanya berorientasi pada materi melahirkan generasi yang apatis dan tidak kritis dan pendidikan sekuler juga yang akhirnya menjadikan pihak kampus hanya megorientasikan kurikulum untuk bisa menghasilkan mahasiswa yang siap di dunia kerja saja, sehingga minim kontribusi untuk membangun negeri ini. berbeda ketika kita berbicara pendidikan islam, maka orientasi pendidikan islam akan selalu disandarkan pada akidah islam, sehingga tidak hanya menghasilkan generasi cerdas, kritis, independen namun juga mampu memberikan kontribusi yang banyak terhadap islam dan negeri ini.[]

Post a Comment

0 Comments