LGBT : Kekejian yang Dilindungi

Oleh: Aya ummu Najwa
[Ibu Rumah Tangga Peduli Generasi]

Beberapa waktu yang lalu,  kita kembali digemparkan dengan berita pengggerebekan sebuah tempat prostitusi sesama jenis (gay) yang berkedok spa di kawasan Gambir, Jakarta. Tidak kurang 50 laki-laki penyuka sesama jenis diciduk aparat. Pada penggerebekan sebelumnya, di Kelapa Gading, Jakarta, tercatat lebih dari 140 anggota komunitas gay telah diamankan.

Bagaikan bola salju, fenomena LGBT di Indonesia terus menggelinding, semakin lama semakin besar. Para anggota komunitas ini tak ada jeranya, mereka terus beraktivitas dan semakin berani membuka diri di tengah masyarakat. Prilaku ini di dukung sebagian masyarakat yang diam, dengan dalih kebebasan.  Tidak hanya itu, bahkan pengikut kaum Nabi Luth ini berani meminta pengakuan eksistensi diri mereka.  Dan anehnya pemimpin-pemimin negeri ini pun ikut bersuara agar kaum minoritas (LGBT) dihormati dan dilindungi.

Mengapa pelaku maksiqt ini senantiasa tumbuh dan berkembang?  Ada beberapa faktor penyebab, diantaranya adalah kurangnya pengawalan pendidikan agama dalam keluarga dan masyarakat. Aqidah umat  sudah jauh dari tuntunan agama, budaya liberal diagung-agungkan, hedonisme menjadi gaya hidup, segala hal yang berbau luar negeri ditiru termasuk kebebasan berprilaku. Agama dipisahkan dari kehidupan, akibatnya menjalani hidup tanpa aturan, bebas,  lepas.

Faktor lain adalah sistem sanksi yang sangat ringan dan tidak menimbulkan efek jera. Ketika para pelaku LGBT ditangkap, mereka hanya dimintai keterangan kemudian dibebaskan, sehingga suatu saat mereka akan kembali mengulang lprilaku tersebut, bahkan tidak menutup kemungkinan anggota mereka akan bertambah banyak.

Dalam Islam, pergaulan manusia diatur dengan jelas, laki-laki berpasangan dengan perempuan, tidak ada pilihan lain. Berbeda dengan prilaku komunitas LGTBT ini, mereka menyukai sesama jenis mereka. Laki laki tidak menyukai perempuan,  hanya menyukai sesama jenis mereka (Homoseksual), begitupun perempuan menyukai perempuan dan tidak menyukai laki laki. Tentu ini menyalahi fitrah manusia.

Di dalam Alquran, Allah Swt menyatakan Homoseksual sebagai perbuatan keji.  Firman Allah Swt :
“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?" Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas." (QS al-A’râf [7]: 80-81)

Juga telah diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq dari ‘Amru bin ‘Amru dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda,  “Terlaknatlah orang yang mengerjakan perbuatannya kaum Nabi Luth”.

Dari Ibnu ‘Abbas berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang kalian dapatkan sedang melakukan perbuatannya kaum Nabi Luth, bunuhlah kedua pelakunya.”

Begitulah sikap tegas Islam dalam menghadapi LGBT. Penangkapan bukan solusi, karena prilaku Liwath adalah kekejian yang nyata maka hukumannyapun harus tegas, berat dan nyata yang akan menimbulkan efek jera bagi para pelakunya.  Dan itu hanya bisa dilakukan oleh institusi yang menerapkan aturan Allah, yaitu Institusi khilafah Islamiyah.[]

Post a Comment

0 Comments