Kiprah Politik Muslimah Era Rasulullah SAW

Oleh : Purna Akbar, Islamic Institute for Political and Socio-Economic Studies (Inpisos)

Mengupas permasalahan muslimah seperti tidak ada habisnya. Kata sebagian pengamat, para muslimah adalah keajaiban ke delapan setelah tujuh keajaiban dunia.

Tak terhitung lagi jumlah buku, jurnal, majalah, dan kaset ceramah yang mengupas tentang kemuslimahan. Terlebih, saat memasuki abad ke dua puluh satu ini yang menjadi momentum bangkitnya kajian-kajian terhadap eksistensi muslimah.

Tulisan singkat ini merupakan sebuah ikhtiar berupa penjelasan ringan dan gambaran umum tentang bagaimana kiprah politik kaum muslimah generasi awal Islam. Wacana politik muslimah sendiri merupakan isu seksi yang menarik untuk dibahas. Terlebih dengan menghadirkan potret pergerakan muslimah pada masa Rasulullah SAW.

Tak ada yang memungkiri bahwa shahabiyyat (sahabat-sahabat perempuan Rasulullah SAW) dan ummahatul mukminin (istri-istri Rasulullah SAW) merupakan cerminan muslimah yang memiliki kiprah pergerakan yang tinggi dan sosok politisi sejati.

Segala potensi shahabiyyat teraktualisasikan dalam amal islami sebagai bagian integral dari dakwah islam di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW.

Jejaknya dapat kita telusuri pada peristiwa Hudaibiyah. Ketika Rasulullah SAW menyepakati perjanjian Hudaibiyyah dengan kaum kafir Makkah yang menimbulkan perselisihan batin di antara para sahabat. Mereka menilai poin-poin pada perjanjian Hudaibiyyah tersebut merugikan kaum muslimin.

Sehingga ketika Rasulullah SAW memerintahkan mereka untuk menyembelih kurban dan memotong rambut tak ada seorang sahabatpun yang melaksanakannya, bahkan Rasulullah SAW mengulang perintahnya sebanyak tiga kali, namun para sahabat tetap bergeming.

Dalam kondisi inkompabilitas dan kritis menyaksikan para sahabat tak ada seorangpun yang bangkit mau melaksanakan perintahnya, Rasulullah masuk ke dalam tenda menemui Ummu Salamah dan menceritakan apa yang dialaminya.

Mendengar hal tersebut Ummu Salamah berkata “Wahai Nabi Allah, apakah Engkau menyukai hal itu?",

"Ya", jawab beliau

"Keluarlah dan jangan berbicara dengan siapapun, sebelum kamu menyembelih kurbanmu lalu panggil tukang cukurmu untuk menyukurmu".

Rasulullah Saw lalu keluar dari tendanya dan tidak berbicara kepada seorangpun dari sahabatnya sampai beliau melakukan semua yang seharusnya dilakukan. Ketika para sahabat melihat hal tersebut mereka segera bangkit dan menyembelih hewan kurban mereka serta mencukur rambut mereka.

Kisah Ummu Salamah tersebut merupakan teladan tentang bagaimana kematangan Ummu Salamah memahami realitas secara komprehensif dan kecerdasannya menganalisis situasi sehingga ia mampu merumuskan solusi yang cemerlang.

Hal ini menunjukkan pula bahwa para muslimah di era Rasulullah SAW adalah para komunikator politik ulung yang mampu merasionalkan hal-hal yang bersifat emosional.

Kita juga tercerahkan oleh kisah seorang shahabiyyat yang mendapatkan gelar dzaatun nithaaqain (pemilik dua ikat pinggang), Asma' binti Abu Bakar. Wanita muda yang sedang hamil tua memainkan peran politik krusial melindungi seorang Rasul yang juga seorang revolusioner.

Asma' binti Abu Bakar berhasil menyediakan logistik bagi Rasulullah dan Abu Bakar yang mendampingi Rasulullah SAW Hijrah ke madinah menuntaskan proyek revolusi.

Ada empat orang yang memegang peran penting dalam rangka mensukseskan proses hijrah Rasulullah SAW dan Abu Bakar. Pertama, Abdullah bin Uraiqit yang bertugas menjadi penunjuk jalan. Kedua, Abdullah bin Abu Bakar yang merupakan seorang intel Rasulullah. Ketiga, Amir bin Fuhairah bertugas menggiring hewan ternak untuk menghapus jejak para sahabat dan mengelabuhi musuh. Keempat, Asma' binti Abu Bakar, yang bertugas menyuplai stok logistik.

Kalau melihat pembagian tugas ini, maka dapat disimpulkan bahwa proses hijrah telah direncanakan dengan matang, penuh kehati-hatian, dan perhitungan terhadap segala kemungkinan teknis yang bakal terjadi. Dan luar biasanya Asma' binti Abu Bakar adalah seorang muslimah yang turut berkontribusi dalam peristiwa revolusioner tersebut dengan sangat baik.

Dalam sebuah kisah yang cukup masyhur disebutkan, Abu Jahal yang gagal menangkap Rasulullah SAW lantas menyatroni Rumah Abu Bakar dan keluarlah Asma' binti Abu Bakar.

“Di mana Muhammad dan ayahmu?” tanya Abu Jahal.

“Mengapa kau bertanya kepadaku? Sejak kapan seorang laki-laki Arab memberitahu kepada anaknya ke mana ia pergi. Bukankah Abu Bakar biasa berdagang ke banyak tempat tanpa memberitahuku?”
Mendengar jawaban ini Abu Jahal naik pitam. “Di mana Muhammad dan ayahmu sekarang?”

“Bukankah sudah kujawab bahwa Abu Bakar bisa pergi ke mana saja. Apalagi Muhammad yang bukan ayahku,” jawab Asma’ diplomatis. Tak tahan dan naik pitam Abu Jahal menampar Asma' hingga anting-antingnya terpelanting.

Tak bisa dibayangkan bayangkan bagaimana kondisi Asma' saat itu yang sedang dalam kondisi hamil tua. Tapi, yang jelas ia tetap teguh menjalankan misi yang diembannya walaupun risikonya adalah keselamatanya dan keselamatan kandungannya. Ia berhasil menjaga sebuah rahasia, menjaga amniyah, menjaga keselamatan Rasulullah SAW dan menyukseskan revolusi.

Kita juga disuguhi peristiwa politis ketika dua orang muslimah Madinah yang turut membai'at Rasulullah pada masa transisi kekuasaan dari elit politik (kepala qabilah) madinah kepada Rasulullah SAW di bukit Aqabah.

Dari jumlah 75 orang yang berbai'at pada bai'at aqabah kedua tersebut terdapat dua orang muslimah yang turut berpartisipasi yakni, Nasibah binti Ka'ab dan Asma' binti Amru bin Adi.

Peristiwa yang dikenal dengan bai'at aqabah kedua dan bai'at nisaa' ini juga menunjukkan kepada kita bahwa Rasulullah SAW telah mendirikan negara di Madinah yang ditandai dengan transisi kekuasaan dari elit politik madinah kepada Rasulullah SAW.

Para elit politik madinah sebagai ahl al-nushrah wa al-man’ah (kaum yang memberikan pertolongan dan perlindungan) telah memberikan nushrah dan man’ah-nya kepada Rasulullah SAW. Isi bai'at yang bukan hanya baiat untuk menolong dan melindungi, tetapi juga bai'at untuk berperang melawan musuh-musuh mereka menunjukkan bahwa Rasulullah telah mendirikan negara di Madinah, dan uniknya adalah adanya partisipasi dari dua orang muslimah pada peristiwa politik yang esensial tersebut.

Kisah-kisah di atas bukanlah sekedar penggalan cerita yang menampilkan romantika belaka, bukan pula riwayat yang hanya dihafal matannya. Kisah di atas menunjukkan bahwa shahabiyyat dan ummahatul mukminin memiliki partisipasi dan kontribusi politik yang bernilai strategis.

Partisipasi dan kontribusi yang diberikan oleh para shahabiyyat dan ummahatul mukminin tersebut tidak hanya dalam ranah privat tapi juga ranah domestik dan publik. Selain itu juga menunjukkan bahwa shahabiyyat dan ummahatul mukminin adalah para aktor dan komunikator politik yang ulung. []

Post a Comment

0 Comments