Ketika Kata Meretakkan Jiwa

RemajaIslamHebat.Com - Kurang lebih sepekan yang lalu, saya menghadiri sebuah pertemuan yang diselenggarakan salah satu Direktorat Departemen Kesehatan  untuk membahas masalah Kesehatan Jiwa di sebuah hotel di Jakarta Pusat. Saya diminta berbicara tentang bagaimana masyarakat mendeteksi kesehatan jiwa.
                                                                                                   Dari kajian kami bertahun-tahun, sebetulnya masalah kesehatan jiwa masyarakat kita sangat fragile (rapuh). Karena kesehatan jiwa sebetulnya bermula dari rumah, dari keluarga batih (inti) kita.
                                                                                                                                                                        Sudah lama kami mengindentifikasi bahwa salah satu penyebab utamanya adalah : kata-kata yang terucapkan oleh orang tua ke anaknya. Kata-kata inilah yang ternyata dapat "meretakkan jiwa". Mengapa? Karena keluarnya yang TIDAK SENGAJA!! Lebih pakai rasa dari pada pikiran, tidak mengetahui bagaimana dampak kata-kata itu terhadap jiwa si penerimanya, dalam hal ini anak-anak.

Umumnya kita para orang tua tidak punya ilmu untuk mengubahnya atau mengetahui bagaimana kata-kata yang lebih tepat yang menyenangkan dan menenangkan jiwa, menggembirakan hati, menggelembungkan dan menaikkan harga dan kepercayaan diri serta membuat bahagia.

APA AKAR MASALAHNYA?

Sederhana saja seperti yang banyak disadari orang, bahwa kita tidak siap jadi orang tua, tidak punya modal dan tidak punya ilmu. Pekerja-pekerja kasar saja: tukang las, satpam, kasir, supir, semuanya harus mempunyai ilmu sebelum mereka mengerjakan pekerjaannya. Mereka harus belajar menjadi tukang las, mereka harus kursus dan pelatihan terlebih dahulu untuk menjadi satpam, untuk jadi kasir, bahkan harus punya SIM untuk jadi supir. Nah bagaimana dengan kita?
Punya SIM gak untuk jadi orang tua?

Padahal orang-orang yang kita sebutkan tadi itu, berurusan dengan benda: uang, mobil, barang lainnya. Sementara kita melahirkan dan membesarkan anak manusia yang merupakan amanah Allah, tapi kita terjun bebas saja. Lalu kemudian orang menyalahkan: “Abis gak ada sekolahannya!”
Dari situ saja sebetulnya sudah bisa kita fahami bagaimana akibatnya bagi  kesehatan jiwa seorang anak .

Dari kajian kami, ketidaksiapan orang tua inilah pokok pasal pertama. Mengapa tidak siap? Karena pada umumnya pengasuhan di rumah hanya mementingkan untuk menghasilkan anak-anak dengan menekankan keberhasilan akademis saja. Kita ingin anak kita terpelajar, punya gelar yang banyak, jadi ahli atau karyawan di perusahaan atau lembaga ternama. Karena itu, jarang ada orang tua yang punya kesempatan untuk mengasuh mereka menjadi manusia yang ter DIDIK dengan iman yang kuat, akhlak mulia, jiwa yang sehat dan bahagia, serta siap jadi suami istri dan siap jadi ibu dan ayah.

Karenanya, ketika mulai berumah tangga anak-anak ini tak punya pemahaman yang memadai  tentang: Peran dan fungsinya sebagai suami istri dan ayah ibu, tentang makna anak dan daya tahan menjalankan semua perannya itu.

Anak, selain bukan milik kita, juga tidak bisa kita pilih mau anak yang seperti apa. Banyak orang tua yang kurang menyadari bahwa anak-anak adalah TAKDIR! Allah yang menentukan konfigurasi indah dari sifat-sifat kedua orang tuanya yang bagaimana yang paling tepat dan baik bagi keduanya.
Jadi, ayah-bunda adalah orang-orang pilihan yang dipercaya Allah untuk menerima Amanah sekaligus menguji Anda  bagaimana membesarkan anak-anak Anda sendiri!
Karena kurangnya kesadaran ditambah pula kurangnya ilmu, nilai anak dalam keluarga jadi rendah! Banyak orang tua mengabaikan amanahNya. Mereka membesarkan anak mereka sedapat-dapat mereka saja.

Selain ketidak siapan Ayah dan Ibu, banyak orang tua masih terjebak dalam pandangan lama ketika kita masih hidup di era agraris, bukan di era Informasi seperti sekarang, yaitu: "Ayah pergi bekerja, Ibu mengasuh anak di rumah". Ternyata semakin hari semakin banyak ibu-ibu diserap dunia kerja.
Lalu anak-anak Kita di tangan siapa? Mereka di subkontrakkan ketangan orang-orang yang notabene lebih rendah kualitasnya dari kedua orang tuanya.
Semua iitu terjadi pada usia anak masih sangat dini, kadang-kadang baru tiga bulan, pandangan matanya saja belum lurus, sudah ditinggal oleh ibunya. Orang lupa bahwa perpisahan dengan Ibu itu sudah menggoncangkan jiwa anak. Kenapa? Karena anak telah mengalami minimal dua jenis kecemasan, yaitu : cemas karena berpisah dengan ibunya dan cemas karena ada orang lain yang dia tidak kenal dan tidak dekat dengan jiwanya.

Bayangkanlah kalau anak itu diasuh “berganti ganti tangan” oleh orang-orang yang notabene kualitasnya jauh berada dibawah kuaitas kedua orang tuanya. Seorang ahli parenting pernah mengumpamakan pengasuhan seperti ini dengan : ”Stiker!” Misalnya anak di asuh oleh pengasuh pertama, ini diumpamakan bak menempel stiker pada selembar kertas. Begitu lengketnya.. Lalu setelah beberapa saat katakanlah satu sampai dua tahun, stiker itu harus di copot. Apa yang terjadi? Kalau bukan robek stikernya ya robek kertasnya, paling tidak ada bekasnya: ”Terserabut!”
Apa yang terserabut pada anak-anak yang pengasuhnya berpisah dari dia, padahal dialah ayahnya dan dialah ibunya selama bertahun tahun? Jiwanya yang terserabut!
Tapi karena orang tua tidak punya bekal dan tidak punya ilmu, mereka menganggap ini sesuatu yang biasa saja. Siapa yang bisa melihat itu dari sudut pandang anaknya?

Jadi tinggal kita menengok ke belakang, berapa kali anak kita berganti pengasuh? Walaupun yang mengasuh itu adalah kakaknya yang seringkali bahkan belum baligh, dirinya saja belum selesai dia harus pula menjadi pengasuh adiknya. Jadi berapa kali stiker itu tertarik-tarik? Apa kabarnya? Dia menjadi tipis saja atau robek-robek?

Sudahlah kondisi anak begitu, kalau Ayah Ibunya pulang kerja dengan badan yang capek, waktu yang sempit, banyak hal harus dikerjakan dalam waktu yang bersamaan, apa jadinya?. Kata-kata apa yang keluar? Bahasa tubuh yang bagaimana yang ditangkap oleh anak? Bagaimanalah  dalam keadaan seperti ini anak mau mengadukan hari-harinya dan perasaannya?
Kalau hasratnya dia tunjukkan pula dengan bahasa tubuh yang buruk, alih-alih dapat perhatian malah bisa kena marah atau bentakan Ayah Ibunya!

Kajian kami menunjukkan orang tua tidak terbiasa untuk membaca bahasa tubuh anaknya, menebak dan mendengarkan perasaan mereka. Apalagi tahu dan bisa membedakan kebutuhan dan kemauan anaknya. Umumnya yang orangtua tahu adalah bagaimana caranya kebutuhan mereka yang terpenuhi dan kemauan mereka yang terlaksana. Padahal sepanjang hariii … anak sudah menunggu kehadiran ibunya, dan sepanjang hari pula dia merindukan kehangatan pelukan Ayahnya.
Apa yang dia dapat? Anda lebih tahu daripada saya.

Berikutnya, yang biasa terjadi, komunikasi dengan anak0anak  tak sengaja seperti yang telah diuraikan diatas: "meretakkan jiwa!"
Bagaimana bentuknya? Umumnya Ayah dan Ibu otomatis memerintah atau menyalahkan, meremehkan pengalaman anaknya hari itu, atau membanding-bandingkannya dengan maksud memotivasi. Orangtua lupa kalau dia membanding-bandingkan, anak menangkapnya: “Oh Mama memang lebih sayang dengan kakak dari pada sama aku” atau “Mama lebih ngefans berat sama anak tetangga dari pada Aku”.

Belum lagi berbagai cap: anak nakal, bandel, keras kepala, jorok, bodoh, gak bisa dibilangin, pemalas, dan berpuluh kata lainnya. Kalau kita lihat kebelakang, sudah berapa banyak kira-kira cap-cap itu kita tempelkan? Dimanakah kita men ‘cap’ kan itu semua, di wajah muka atau di wajah jiwa anak kita? Lalu bagaimana kita  bisa menghapusnya?

Tak terhitung kami temukan bukti, bahwa dengan cap yang bertubi-tubi, anak merasa, menemukan dan meyakini: “Itulah dirinya!” Dia percaya bahwa memang dia jorok, dia percaya bahwa dia nakal, dia percaya bahwa dia tidak mendengarkan, dan dia percaya bahwa dirinya tidak berharga!

Tidak berhenti disitu, orangtua tak sengaja juga : mengancam, berbohong, mengritik, menganalisa, dan kadang-kadang menasehati pada saat emosi sedang bermasalah. Bukannya tidak boleh menasehati anak, nasehat adalah satu alat utama  pengasuhan. Tapi janganlah menasehati ketika emosi sedang bermasalah, karena anak tidak akan mendengarkannya, maka semua kata-kata yang Anda keluarkan sia-sia. Begitulah cara otak bekerja! Tunggulah 10 menit atau 20 menit lagi, nanti sore atau besok pagi, dalam suasana yang lebih nyaman. Tapi apa hendak mau dikata semua yg disebutkan diatas "otomatis" keluarnya.

Cara-cara komunikasi tidak sengaja seperti ini bukan saja mengakibatkan anak-anak jadi merasa tidak berharga hatta di depan orang tuanya sendiri, tetapi juga membuat anak  menyimpan berpuluh-puluh emosi negatif bahkan sampai dendam dan benci!

Inilah cara bicara tak sengaja yang  meretakkan jiwa, yang membuat hati gelisah, dan hidup jauh sekali dari bahagia!!
Bagaimana  mengharapkan dari anak-anak yang seperti ini, tumbuh generasi yang sering sekali disebut disebut: "berkarakter?"
Karakter apa? Kalau emosi menguasai pikiran, otak bagian berpikir tidak bisa bekerja. Jadi bagaimana mengharapkan mereka jadi cerdas, apalagi bahagia?

Jadi pada Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini, 10 oktober 2017, marilah kita melirik ke dalam diri kita sendiri, apa yang telah kita lakukan sebagai orangtua terhadap anak-anak kandung kita sendiri? Bagaimana kita bisa mendampingi mereka menghadapi tantangan zaman sekarang ini? Apabila jarak mereka dengan kita, jarak jiwa, jarak rasa, terentang tak bisa diukur berapa kilometer panjangnya!

Belum lagi memikirkan apa yang terjadi pada anak-anak yang Ayah Ibunya memutuskan untuk berpisah.
Sekarang ini di negeri kita: dalam satu jam, 40 perceraian terjadi pada pasangan muda, istri hamil, atau pasangan dengan anak baru satu. Kita ambillah perumpamaan dari satu propinsi  dimana pimpinan lembaga Peradilan Agamanya bekerja sama dengan beberapa lembaga lainnya mengundang saya untuk memberikan seminar tentang pengasuhan beberapa tahun yang lalu, karena di propinsi itu itu terjadi 10.000 perceraian setiap tahunnya. Kalau satu keluarga yang bercerai tersebut memiliki satu atau dua anak saja, kata bapak pimpinan Peradilan Agama tersebut berarti akan ada 10.000 sampai 20.000 anak yang goyang jiwanya! Belum lagi kalau anak-anak yang Ayah dan Ibunya berselingkuh atau berbuat zina dengan pasangan orang lain. Ya Allah.. terlalu banyak permasalahan pada keluarga terutama pasangan muda dalam masyarakat kita yang tidak bisa kita abaikan untuk mengukur sejauh mana masyarakat kita sehat jiwanya.

Tak bisa diperkirakan sekarang ini jiwa-jiwa yang terganggu akibat berbagai zat adiktif seperti narkoba, pornografi serta miras yang sudah pasti mengganggu bahkan merusak fungsi otak anak-anak maupun orang dewasa. Sudah pastilah gangguan pada fungsi otak tak mungkin membuat orang tersebut sehat jiwanya!

Jadi marilah di Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini kita menyelam kedalam diri dan mengembara ke masa lalu. Untuk bisa menghasilkan anak-anak yang sehat jiwanya, jangan-jangan kita perlu terlebih dahulu menyehatkan jiwa kita sendiri..                                                

Mari kita putuskan keterikatan jiwa kita ke sejarah masa lalu, melupakannya dan membangun semangat untuk memaafkan, meminta ampunkan apa saja yang menyakitkan dan menarik-narik kita kebelakang, sehingga kita tak mampu bergerak maju.  Kita kenali hal yang serupa yang terjadi dengan pasangan kita, sehingga kita bisa perbaiki hubungan dengan pasangan dan bersama meningkatkan kerjasama dan kualitas pengasuhan anak-anak kita. Kita pelihara keyakinan dan kepahaman bahwa anak adalah amanah, dia adalah takdir yang harus kita pertanggungjawabkan di dunia ini dan diakhirat nanti. Kitalah yang paling bertanggung jawab untuk memelihara kesehatan jiwa mereka karena Allah dan untuk masa tua dan akhirat kita. Kita berupaya sekuat tenaga untuk meminimalisir segala kekurangan kita sebagai  orang tua seperti yang disebutkan di atas tadi. Dan mari kita berikan cinta kasih, perhatian, secukupnya, pada anak-anak kita pada saat dia butuhkan.

Bagi yang muslim, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam telah mencontohkan kepada kita bagaimana beliau ketika shalat, membiarkan cucu-cucunya bermain di pundaknya dengan memperlama sujudnya, sehingga orang bertanya-tanya jangan-jangan ada wahyu yang turun. Tapi kemudian, ketika ditanyakan kepada beliau, Rasulullah  menjelaskan bahwa  beliau memperlama sujudnya untuk membiarkan dan memberi kesempatan pada cucu-cucunya untuk puas bermain. Artinya apa saudara-saudara ku, Rasulullah saja dalam rangka beliau  menghadap Allah, berusaha memenuhi kebutuhan cucu-cucunya pada saat mereka butuhkan dalam jumlah yang cukup. Lalu apakah kita hanya untuk rupiah, dan apa yang kita sebut : ”Kerja demi anak-anak itu” kita jadi tidak memenuhi kebutuhan perhatian dan kasih sayang untuk anak-anak kita pada saat yang dia butuhkan dalam jumlah yang cukup dan memadai?

Baru beberapa hal yang mendasar yang kita bahas kali ini cukup memberikan gambaran, bahwa: Pengasuhan  berkontribusi sangat signifikan bagi kesehatan jiwa anak bangsa dan  kesehatan jiwa bangsa datang dari keluarga kita masing-masing!

Selamat berjuang saudaraku, menyehatkan jiwa sendiri dan jiwa anak-anak kita pemilik masa depan bangsa ini. Kita mulai sekarang juga!
Jangan lupa, hanya Allah yang membuat kita mampu. Maka balut dengan DOA!

Selamat Hari Kesehatan Jiwa Sedunia.

Salam hangat,
Elly Risman, Psi

#YayasanKitadanBuahHati
#EllyRismanParentingInstitute
#HariKesehatanJiwaSedunia

Post a Comment

0 Comments