Wednesday, October 18, 2017

Kenapa Anak Cengeng dan Penakut?

RemajaIslamHebat.Com - “Nina bobo’ oh Nina bobo’.. Kalau tidak bobo’.. DIGIGIT NYAMUK.”

Ayah Bunda pasti tahu lagu anak ini. Lagu pengantar tidur dari masa ke masa. Dulu oleh orangtua dinyanyikan untuk kita. Secara sadar kita turunkan juga ke anak- anak. Entah sudah berapa puluh kali kita bentuk alam bawah sadar anak kita, dengan ancaman (menakut-nakuti), setiap malam. Kalikan saja jumlahnya jika ditambah dengan tidur siang.

Mengancam atau menakut- nakuti hanya satu dari sekian banyak faktor yang berperan membuat anak menjadi cengeng dan penakut. Hubungannya apa?

1. Menakut-nakuti balita akan membuat ia selalu merasa tidak aman dan nyaman.

2. Anak balita tidak bisa membedakan mana yang masuk akal dan mana yang tidak. Karena itu, apa yang dilihat dan didengarnya sering diserap sebagai sesuatu yang nyata.

3. Anak memiliki imajinasi yang berkembang. Rasa takut yang muncul karena selalu ditakut-takuti akan membuatnya mimpi buruk.

4. Ketakutan yang terus menerus dialami akan mengakibatkan anak selalu bingung, cemas dan tegang. Akhirnya menjadi ketergantungan pada orang tua.

5. Perasaan takut berlebihan akan merusak kemampuan berpikir dan berperilaku secara rasional, terutama dalam pengambilan keputusan. Banyak energi terbuang percuma yang seharusnya digunakan untuk belajar, jadi digunakan untuk mengatasi rasa takutnya.

Perasaan sedih dan takut adalah bagian dari emosi yang normal. Menangis juga merupakan salah satu bentuk ekspresi, jadi sebetulnya wajar saja anak menangis asalkan sesuai dengan permasalahannya.

Tapi kalau sedikit-sedikit menangis? sedikit-sedikit takut?

Ayah Bunda harus mencari duduk permasalahannya dan memperbaiki apa penyebabnya. Bukan cuma menghilangkan tangis dan takutnya saja. Jangan-jangan selama ini pola asuh kita turut andil dalam membentuk anak kita menjadi seperti itu.

⚘ PENYEBAB ANAK MENJADI CENGENG DAN PENAKUT ⚘ ⤵

EMOSI TIDAK STABIL IBU SAAT HAMIL DAN MENYUSUI

Andai mau dirunut ke belakang, salah satu penyebab anak cengeng adalah kondisi psikologis ibu yang tidak baik, seperti sedang banyak masalah, sehingga emosinya tidak stabil. Kondisi ini bisa “menular” pada janin dan bayi bila tidak terselesaikan, bukan tidak mungkin akan terus terbawa.

SERING DITAKUT-TAKUTI

Banyak orang tua mengancam atau menakut-nakuti anak-anak agar menurut. Misalnya dengan hantu, orang gila dan sebagainya.

BUTUH PERHATIAN

Hal ini sering terjadi ketika orang tua sedang sibuk melakukan kegiatan yang lain, sehingga anak merasa perhatian untuknya terpecah dan merasa terbuang. Bisa juga saat ia baru memiliki adik, sehingga untuk mengungkapkan perasaan tersebut anak akan menjadi rewel dan memancing perhatian.

FRUSTASI

Ketika anak dihadapkan pada situasi dimana mereka menginginkan sesuatu dan tidak dipenuhi oleh orangtuanya, atau teman sebaya ketika mereka sedang bermain. Maka hal itu akan diekspresikan dalam reaksi menangis untuk mengungkapkan kekesalannya.

SAKIT ATAU SEDANG DALAM KONDISI TIDAK FIT

Kondisi anak yang tidak fit atau sedang sakit bisa membuat anak cenderung rewel atau cengeng.  Hal ini sangat wajar karena pada saat sakit mereka merasakan kondisi tubuhnya tidak nyaman dan lesu, mulai dari makan yang tidak enak hingga sulit untuk tidur nyenyak.

BANYAK LARANGAN

Orangtua sering mengungkapkan rasa sayangnya dengan membuat larangan kepada anak. Misalnya, saat anak sedang asyik bermain lari-larian dan karena takut anaknya jatuh, orang tua akan meresponnya dengan “Jangan lari!,” belum lagi biasa diikuti dengan kalimat menakut-nakuti “Nanti jatuh lho.”
Ayah Bunda cukup dengan mengingatkannya untuk senantiasa berhati-hati.
Bukankah pada usia ini mereka mengalami perkembangan motorik yang kuat?  Sehingga ketika Ayah Bunda terlalu banyak melarangnya melakukan aktifitas fisik, hal itu justru akan menghambat perkembangan motoriknya.

KELELAHAN

Saking asyiknya anak bermain sering menjadi lupa waktu, dan akhirnya kelelahan. Beda dengan orang dewasa yang tahu cara menghilangkan rasa lelah, anak akan mengungkapkan rasa lelah dengan menangis. Itu adalah cara alamiah yang harus orangtua ketahui.
Saat anak mengalami kelelahan akibat bermain, ajak untuk istirahat dan tidur agar tubuh bisa menjadi bugar kembali.

SITUASI BARU

Ada kalanya anak akan merasa kurang suka dengan situasi yang baru sehingga membuat mereka merasa tidak betah, seperti misalnya ketika mereka diajak dalam sebuah acara yang penuh dengan orang yang tidak dikenalnya.  Kesulitan untuk mengungkapkan ketidaknyamanan tersebut akhirnya diekspresikan dalam bentuk tangisan.

TIDAK NYAMAN

Suara bising, ruangan yang sempit, suhu panas membuat anak menjadi tidak nyaman dan membuat anak tidak betah, kemudian anak akan mengungkapkannya dengan tangisan.

FILM HOROR

Anak yang sering melihat film horor akan membuat imajinasinya seperti yang ada dalam film. Anak menganggap adegan yang ditampilkan di film adalah nyata sehingga anak akan merasa mahluk menyeramkan di film itu nyata dan terus membayangi pikirannya.

KEHILANGAN FIGUR YANG MEREKA SAYANGI

Ketika dihadapkan pada situasi di mana mereka harus berjauhan dengan Ayah Bunda sebagai figur yang mereka sayangi, maka situasi tersebut bisa membuat mereka bersikap lebih cengeng dan merasa kehilangan.

Setelah mengetahui apa saja penyebabnya, Ayah Bunda bisa memilah mana yang wajar dan tidak dari kondisi tersebut di atas. Mana yang perlu disiasati sehingga anak tidak lagi menjadi cengeng dan penakut.

⚘ CARA MENGATASINYA ⤵ ⚘

IBU HAMIL DAN MENYUSUI HARUS BAHAGIA

Tidak ada manusia yang hidupnya tanpa masalah, akan tetapi pengendalian diri dan emosi sangat penting. Apalagi, jika ibu sedang hamil atau menyusui. Peran ayah memastikan bahwa ibu cukup diberikan perhatian dan didengarkan keluh kesahnya.

JANGAN DITAKUT- TAKUTI

Hindari menggunakan metode ini, apalagi untuk anak yang punya jiwa lemah. Alasannya sudah dijelaskan di bagian atas artikel ini.

JANGAN DIMARAHI

Memarahi anak saat sedang emosi (menangis dan takut) tidak akan menyelesaikan apapun, semua nasihat yang kita berikan juga tidak akan dimengerti. Terlebih jika Ayah Bunda juga ikut-ikutan emosi dan memarahi anak di depan orang lain.

BERI PERHATIAN LEBIH DAN BESARKAN HATINYA

Mengubah perilaku anak dari cengeng dan penakut menjadi berani tidaklah semudah memberi titik di atas huruf i. Memang harus diberi tahu berulang kali, setiap hari, dan mungkin baru berhasil beberapa bulan bahkan beberapa tahun lagi, itu masih wajar. Konsisten saja dengan perilaku konkrit kita setiap kali dia menangis. Misalnya :

⚘ Saat menangis, peluk dan dengarkan dulu keluh kesahnya. Untuk balita, kita bantu anak untuk mengenali emosi dan mendeskripsikan apa yang dia rasakan.

⚘ Anak diberitahu dulu bahwa jika dia menangis saat meminta sesuatu maka dia akan kita biarkan saja, tapi kalau dia meminta dengan manis maka kita akan pertimbangkan permintaannya.

⚘ I message : Sampaikan bahwa Ayah Bunda tidak suka dengan perilakunya yang sedikit-sedikit menangis.

⚘ Beri pujian saat anak berhasil berusaha tidak gampang menangis atau mulai berani.

⚘ Saat belajar sesuatu yang baru, misal belajar berenang dan takut kolam yang dalam, jangan dipaksa. Sampaikan agar tidak cepat putus asa dan motivasi agar mau belajar lagi, berikan alasan-alasan yang konkrit tentang pentingnya belajar berenang, untuk kesehatan dan sebagainya.

JANGAN MELABELI ANAK

Jangan sekali-kali melabeli anak dengan sebutan cengeng atau penakut.
“Gitu aja sudah takut!,” atau “Duh, kamu ini cengeng banget sih!,”
Label akan tertanam di alam bawah sadar anak. Semakin hari dia akan percaya bahwa dirinya adalah seperti yang disebutkan. Bukankah perkataan adalah doa?

MENGHARGAI ANAK

Anak jangan diabaikan. Ajarkan bahwa dirinya berharga di mata orangtuanya. Hargai prestasinya dan berilah pujian sewajarnya. Misal, saat anak sudah berhasil mandi sendiri, meletakkan baju kotor pada tempatnya dan sebagainya. Anak yang memiliki penghargaan pada dirinya akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri.

JANGAN MEMBANDING- BANDINGKAN

Membandingkan anak akan membuat minder. BANDINGKANLAH ANAK-ANAK DENGAN DIRINYA SENDIRI, BUKAN DENGAN ANAK LAIN.
Jadi kalimat yang harus sering Ayah Bunda keluarkan adalah,
✅ “Apa bedanya kakak 1 tahun yang lalu dengan kakak yang sekarang?”
bukan dengan kalimat,
❌ “Mengapa kamu tidak seperti si A, yang nilai raportnya selalu bagus?”
❌ ”Mengapa kamu tidak seperti adikmu?”

BERIKAN KEBEBASAN

Kebebasan dalam hal ini maksudnya adalah sesuatu yang positif. Misalnya jika anak akan belajar naik sepeda jangan langsung dikatakan “nanti jatuh”, biarkan sebisanya sambil diarahkan bagaimana cara mengendarai yang benar.

AJARKAN KEMANDIRIAN DAN BERIKAN TANGGUNG JAWAB

Ayah Bunda perlu ajarkan anak untuk bisa menyelesaikan tugas sesuai tahapan perkembangan usianya. Misal, ganti baju sendiri, makan sendiri dan sebagainya. Anak diberikan tanggung jawab memiliki tumbuhan atau hewan peliharaan. Bisa juga dengan memberikan tugas khusus di rumah. Kemandirian akan meningkatkan rasa percaya dirinya.

JANGAN MENCARI KAMBING HITAM

Saat anak terjatuh karena berlari, lalu kita menenangkan dengan cara menyalahkan ubin. Pola ini hanya akan membuat anak selalu menyalahkan hal lain atau orang lain saat menghadapi masalah.

Demikian Ayah Bunda, dan sebagai penutup, berikut adalah kutipan dari The Privillege Addict,

"Children, who are scared of everything, need to be pushed out into the world of  responsibility if they have any chance of surviving. You do not let some whiny, bratty child walk all over you and do whatever they want. You need to teach them, discipline them and add some tough love to the mix, which is quite frankly the loving thing to do. Meeting a child where they are and coddling them when they are doing the wrong thing only validates, reinforces and perpetuates the behavior as well as his or her way of thinking."

Salam,
Admin El-Hana Learning Kit

Sumber Bacaan  ⤵

Sayangianak.com
Dan berbagai sumber lain.

Sumber:

Fb: El-Hana Learning Kit


Bagikan Yuk!

Pengelola:

Informasi yang ada di web ini semoga bermanfaat buat pembaca sekalian. Amin!

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!